Togel dan Miras, Menggerus Karakter Orang Papua

papua anti mirasKerumunan pria paruh baya, ibu-ibu dan bahkan anak-anak yang berdiri di depan sebuah papan pengumuman kecil yang bertuliskan deratan angka togel merupakan suatu pemandangan yang lazim di banyak daerah di Papua, terutama di kota-kota yang sedang berkembang (Jayapura, Fak-Fak, Timika atau Nabire).

Mereka berharap kombinasi angka yang mereka beli atau “pasang” dengan mempertaruhkan uang belasan sampai ratusan ribu kepada bandar dapat keluar. Namun sayangnya, kejadian sebaliknyalah yang lebih sering terjadi. Toto Gelar atau yang lebih dikenal dengan Togel adalah salah satu “penyakit” masyarakat di Papua yang sangat meresahkan.

Sama seperti togel, miras (minuman keras) juga adalah “penyakit” masyarakat yang sangat meresahkan. Pemandangan pria yang tidur diselokan karena “fly” bukan merupakan sesuatu yang aneh. Lazimnya orang seperti itu akan dibiarkan hingga ditertibkan oleh polisi atau dibawa pulang keluarganya. Lebih sering lagi, orang seperti itu dibiarkan hingga sadar.

Dalam beberapa tahun terakhir, kasus kriminal yang diakibatkan oleh konsumsi alkohol berlebih meningkat dengan drastis. Kekerasan dalam rumah tangga, perkelahian antar-kelompok, pencurian, perampokan, kecelakaan lalulintas bahkan pebunuhan menjadi implikasi dari tidak terkendalinya peredaran dan konsumsi minuman keras.

Data Kepolisian Resort Abepura menunjukan, sampai dengan Mei 2010, wilayah Distrik Abepura Kota Jayapura terdapat sekitar 1000 kasus kriminal akibat Miras, termasuk kecelakaan lalulintas yang dipicu oleh barang haram tersebut.

Kapolsek Abepura,  AKP. Kristian Sawaki, menyatakan sekitar 95 persen kasus kriminalitas disebabkan oleh Miras. Ada juga kasus penganiayaan, pembunuhan, pemerkosaan, dan pencurian setelah pelaku mengkonsumsi minuman keras, seperti diberitakan dalam situs tabloidjubi.com pekan lalu di Abepura. Salah satu contoh kasus tragis akibat miras adalah insiden yang menewaskan Terianus Hesegem yang diduga dalam keadaan mabuk membuat ulah hingga ditembak oleh Polisi di Waena belum lama ini.

Keadaan yang sama terjadi di Manokwari, Papua Barat. Berdasarkan data kecelakaan lalu-lintas di Manokwari, pada Januari-Agustus 2011, dari 39 kasus kecelakaan ada 20 kasus akibat pengemudinya mabuk. Sisanya , 18 kasus karena tidak waspada, dan 1 kasus akibat melanggar rambu. Itu berarti, sekitar 51 persen penyebab kecelakaan lalu lintas adalah akibat miras.     

Dari 39 kasus itu, tercatat 17 orang meninggal dunia, 26 luka berat, dan 50 luka ringan. Sebanyak 28 kasus terjadi di jalan perkotaan dan 13 kasus adalah tabrak lari. Umur pelaku kecelakaan rata-rata masih remaja dan muda, yakni 19 pelaku usianya antara 16 tahun-25 tahun dan 10 penyebab kecelakaan usianya 26 tahun-35 tahun (sumber: Kompas.com, 20 September 2011 pkl 19.18 WIB).     

Tidak terkendalinya peredaran miras ditengarai banyak pihak terjadi karena ketidakkonsistenan pemda di banyak kabupaten/kota untuk melaksanakan peraturan daerah terkait peredaran miras. Pengawasan pemerintah dan pihak kepolisian yang tidak sinergi, telah mengakibatkan pembiaran atas praktek perdagangan miras ilegal dan dalam beberapa kasus, perdagangan ilegal ini bahkan dimonopoli oleh satu bandar besar. 

Salah satu contoh rill (seperti diberitakan oleh majalahselangkah.com edisi Senin, 27 Mei 2013, pk 14.06 WIT) Agus Tebay, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa, Universitas Satya Wiyata Mandala (BEM-Uswim) Nabire,  mengatakan Kabupaten Nabire, Papua merupakan terminal umum peredaran Miras di kawasan pegunungan tengah Papua.

Agus menyatakan, dengan adanya Peraturan Daerah (Perda) di Kabupaten Nabire, Nomor 6 Tahun 2006, tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Ijin Pemasok, Pengedaran atau Panyajian Minuman Beralkohol di Nabire, telah memberikan jaminan dan dasar bagi para pemasok Miras  di Nabire, terutama bapak Piter Nur Salim (Piter Sangkala) untuk memonopoli pemasokan Miras secara besar-besaran di Nabire.

Piter Sangkala ditengarai oleh Agus Tebay sebagai pemasok tunggal miras untuk kabupaten-kabupaten pemekaran dari Kabupaten Nabire. Agus Tebay juga meyakini bahwa perdagangan miras secara bebas di Nabire telah menggerus budaya ke-Papua-an masyarakat adat.

Sama halnya dengan miras, togel juga telah menjadi candu yang menjerat kehidupan orang Papua. Aktivitas masyarakat di kampung-kampung seperti mencari ke dusun, melaut atau berkebun telah berganti menjadi aktivitas “hitung nomor” yang dilakukan berjam-jam. Hitung nomor atau angka ini adalah teknik memprediksi angka togel yang akan keluar dengan menggunakan macam-macam rumus, misalnya Shio (berdasarkan tanggal lahir, mimpi dll).

Di Kabupaten Dogiyai misalnya,  warga di beberapa kampung yang jauh dari ibu kota Kabupaten Dogiyai datang dan tinggal berminggu-minggu hanya untuk bermain Togel. Bahkan banyak yang tinggal hingga berbulan-bulan di Dogiyai dan Bomomani hingga menelantarkan anak dan istri mereka di kampung

Pegiat HAM Papua, Yones Douw menyatakan bahwa togel itu bukan hanya “penyakit masyarakat” di Dogiyai saja. Yones mengatakan hampir di seluruh tanah Papua togel sudah jadi candu masyarakat. Menurut Yones , togel itu di mana saja di semua kabupaten pegunungan dan dengan sengaja dibiarkan. Aparat keamanan dan pemerintah sengaja tidak bertindak atas judi ini. Dalam beberapa kasus menurutnya, sudah ada korban jiwa melayang karena masalah terkait togel. (sumber: majalahselangkah.com edisi Minggu, 12 Mei 2013 pk 21.44).

Penyakit masyarakat seperti togel dan miras sebenarnya seperti “bom waktu”. Cepat atau lambat akan menggerus karakter-karakter baik yang diturunkan generasi pendahulu orang Papua. Karakter sabar, penyayang, kerja keras, toleransi, religius, dan nilai-nilai mulia dalam karakter asli orang Papua secara nyata sudah tergerus.  Disamping bahwa miras dan togel secara langsung dan tidak langsung akan meningkatkan kasus kekerasan, kriminalitas dan kecelakaan.

Dampak negatif dari praktek togel dan peredaran miras dalam masyarakat di Papua begitu mengancam masa depan orang Papua. Sudah saatnya pertimbangan masa depan orang Papua menjadi prioritas. Bukannya memicu “bom waktu” berupa kehancuran karakter orang Papua lewat Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang bersifat sementara.

Sumber: majalahselangkah.com, Andreas Frank Kandenapa (Kordinator Diskusi Publik Mahasiswa Papua Bogor: Para Para Pinang IMAPA Bogor), Rabu, 29 Mei 2013, http://majalahselangkah.com/content/togel-dan-miras-menggerus-karakter-orang-papua

505 total views, 1 views today