Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +

Love our website? Signup to our list to keep current on the awesome stuff we’re doing.

Terapi (Detoksifikasi) Miras (Dan Juga Narkoba)

Oleh : Julizar Firmansyah, S. Sos., M. Hum.

1. Metode detoksifikasi ini berlaku tidak hanya untuk opiat (heroin/”putaw”) saja, melainkan juga berlaku untuk zat-zat lainnya seperti cannabis (ganja), kokain, miras, amphetamine (“shabu-shabu”, ekstasi, inex) dan zat adiktif lainnya.

2. Penyalahgunaan/ketergantungan NAZA (Narkotika, Alkohol, dan Zat Adiktif) adalah termasuk bidang psikiatri, karena akibat NAZA menimbulkan gangguan mental dan jiwa. Hal ini disebabkan NAZA mengganggu sinyal penghantar saraf (sistem neuro-transmitter) dalam susunan saraf pusat (otak) yang mengganggu fungsi kognitif (alam pikiran dan memori), fungsi afektif (alam perasaan/mood) dan psikomotor (perilaku). Selain itu pada penyalahguna sering dijumpai komplikasi medik misalnya kelainan pada paru, lever, jantung, ginjal, dan organ tubuh lainnya.

3. Sehubungan dengan butir (2) di atas maka terapi yang diberikan sifatnya holistik yang meliputi terapi medik, terapi psikiatrik/psikologik, sosial dan agama (bio-psiko-sosial-spiritual, WHO 1984), yaitu:

3.1 Terapi Medik:
-Diberikan jenis obat anti-psikotik yang ditujukan terhadap gangguan sistem neuro-transmitter susunan saraf pusat (otak).
-Diberikan pula analgetika non-opiat (obat anti-nyeri yang tidak mengandung opiat atau turunannya/golongan NSAID), tidak diberikan obat-obatan yang bersifat adiktif.
-Diberikan obat anti-depresi.
-Bila ditemukan komplikasi pada organ paru, lever, dan lainnya, diberikan obat sesuai dengan kelainan dari organ tersebut (terapi somatik).

3.2 Terapi Psikiatrik/Psikologik:
-Selain diberikan obat di bidang psikiatri yaitu golongan anti-psikotik dan anti-depresi tersebut di atas, juga diberikan konsultasi psikiatrik/psikologik kepada yang bersangkutan dan keluarganya.

3.3 Terapi Sosial:
Menjaga lingkungan dan pergaulan sosial.

3.4 Terapi Agama:
Diberikan sesuai dengan keimanan masing-masing untuk menyadarkan bahwa NAZA haram hukumnya dari segi agama maupun UU. Prinsipnya adalah berobat dan bertobat sebelum ditangkap; berobat dan bertobat sebelum maut menjemput.

4. Metode detoksifikasi memakai sistem blok total (abstinentia totalis), artinya pasien tidak boleh lagi menggunakan NAZA atau turunannya atau sintesanya. Untuk menghilangkan gejala putus zat (withdrawal symptoms/sakaw) digunakan obat-obat penawar.

5. Sehubungan dengan butir (4) maka proses DETOKSIFIKASI yang terjadi adalah sebagai berikut:
5.1 Dengan terapi di atas, pasienakan lebih banyak ditidurkan (bukan dibius).
5.2 Gejala mental dalam bentuk disorientasi (mengigau, “ngeratak”, bicara tidak nyambung, cadel, dan sejenisnya) akan muncul bila pasien bangun, yang kemudian ditidurkan lagi.
5.3 Gejala putus zat akan hilang pada saat mulai diberikan terapi medis tersebut di atas. Gejala disorientasi akan hilang pada hari ketiga atau keempat.
5.4 Kesadaran penuh dicapai pada hari kelima atau keenam.
5.5 Hasil tes urin akan bersih dari NAZA mulai dari hari kelima hingga ketujuh tergantung dari dosis, jenis, atau kombinasi NAZA yang dipakai. Sering dijumpai pasien tidak hanya menggunakan putaw melainkan juga kombinasi dengan ganja, kokain, miras, shabu-shabu/ekstasi/inex, dan lain-lain.
5.6 Bila tes urin negatif, proses detoksifikasi selesai.

(Dicuplik dari Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari, Psikiater. t.t. Darurat Miras Pembunuh Nomor Satu. Jakarta: Mental Health Center Hawari & Associates).

*Penulis adalah alumnus S2 filsafat UI

204 Total Views 3 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +