Faktor Komunikasi Non Verbal dalam Asesmen

Faktor Komunikasi Non Verbal dalam Asesmen

(Catatan Ke-7 Pelatihan Asesmen Konselor Madani bersama UGin di Studio Madani, Selasa, 9 Mei 2017 – Selesai)

madanionline.org – Perihal pengungkapan diri petugas asesmen kepada klien memiliki dua sisi. Ada sisi baik (positif). Ada juga sisi buruknya (negatif). Tidak selalu bagus tapi juga tidak melulu buruk.

Kita harus memiliki feeling yang kuat untuk memutuskan kapan melakukan pengungkapan diri. Jika kita mengungkapkan diri pada waktu yang tidak tepat hal itu dikhawatirkan malah akan menjadi bumerang bagi diri kita.

Jika klien lebih banyak curhat mengenai riwayat pekerjaan dibandingkan riwayat kesehatan atau riwayat pemakaian narkobanya maka dapat disimpulkan bahwa kebutuhan klien yang mendesak adalah masalah pekerjaan. Di situlah fungsi petugas asesmen untuk membantu mencarikan solusi atas masalah yang dimiliki oleh kliennya.

Jika petugas asesmen bertanya berlebihan hal tersebut bukan merupakan hal yang baik. Justru sebaliknya klien malah merasa diintrogasi, pasif, dan hanya menunggu pertanyaan.

Selengkapnya…

Habis Titik Baru Koma, Hujan Rintik-Rintik Bisa Buat Kembali Pake Narkoba?

Habis Titik Baru Koma, Hujan Rintik-Rintik Bisa Buat Kembali Pake Narkoba?

(Catatan Forum Silaturahmi Keluarga Madani 3 Bagian Ke-16  Bersama Bunda Meilani Hermanto di Studio Madani, Kamis, 4 Mei 2017)

madanionline.org – Bunda Meilani, “Hujan rintik-rintik saja bisa jadi trigger bagi seorang mantan pecandu untuk kembali memakai narkoba. Kalau buat kita mah apaan sih cuma suara air rintik-rintik di atap rumah?

Tapi buat dia itu cakung (cuaca mendukung) yang dapat mengembalikan memori dia dulu saat masih berada dalam alam penagihan. Hujan rintik-rintik bisa membuat mereka merinding. Bukan karena kedinginan tapi karena muncul sugesti untuk make narkoba lagi.

Orang (people) dan cara berpikir (think) juga bisa jadi pemicu seseorang kembali terjebak dalam lubang hitam narkoba.

Mimpi juga bisa jadi trigger. Ada loh mantan pecandu yang gara-gara mimpi make narkoba membuat dia jadi sakaw lagi. Tugas kita memang berat untuk menjaga pemulihan dia karena prioritas hidup kita sekarang adalah dia.

Saya baru pulang dari Kuala Lumpur kemarin. Saya bertemu dengan mantan pecandu yang sudah 25 tahun clean. Tapi tetap masalahnya juga sama seperti yang tadi kita bicarakan di atas. Selama mereka hidup maka trigger, pemicu, atau sugesti akan selalu ada pada dirinya.

Selengkapnya…

Empat Kunci Sukses Proses Pemulihan Keluarga dan Korban Pecandu Narkoba

Empat Kunci Sukses Proses Pemulihan Keluarga dan Korban Pecandu Narkoba

(Catatan Forum Silaturahmi Keluarga Madani 3 Bagian Ke-11  Bersama Bunda Meilani Hermanto di Studio Madani, Kamis, 4 Mei 2017)

madanionline.org – Bunda Meilani, “Kemudian, problem yang dimiliki para mantan pecandu ini biasanya adalah masalah pekerjaan. Saya juga membina kegiatan di after care, mencarikan pekerjaan bagi mereka ini memang sulit akibat stigma tadi.

Saya sudah coba dan berusaha meminta kepada beberapa teman dan rekan yang punya posisi tinggi di beberapa perusahaan. Teman saya sih setuju aja. Tapi begitu dia bawa ke manajemen selalu ada penolakan terhadap para calon karyawan yang juga adalah seorang mantan pecandu narkoba. Berkali-kali mereka mendapatkan penolakan yang sama.

Kemudian, muncul juga permasalahan di lingkungan sekitar tempat dia tinggal. Saya menemukan beberapa klien saya sudah tidak boleh lagi ke rumah karena ditolak mentah-mentah oleh keluarganya sendiri. Itu karena stigma dan juga trauma dari keluarga terhadap kehadirannya.

Para pecandu narkoba ini sering pula menghadapi masalah ekonomi. Karena ia juga sudah tidak lagi memiliki pekerjaan. Kehidupan ekonomi mereka menjadi carut-marut. Maka saya percaya di setiap tempat rehab mereka diajarkan untuk menghadapi berbagai macam kemungkinan masalah tersebut agar mereka tetap survive dan form.

Selengkapnya…

“Hilang Satu Nggak Apa-Apa Deh, Bu!”

“Hilang Satu Nggak Apa-Apa Deh, Bu!”

(Catatan Forum Silaturahmi Keluarga Madani 3 Bagian Ke-6  Bersama Bunda Meilani Hermanto di Studio Madani, Kamis, 4 Mei 2017)

madanionline.org – Bunda Meilani, “Kita, orang tua, atau keluarga dan anak kita yang terkena masalah narkoba adalah sama-sama menjalankan proses pemulihan.

Dalam proses tersebut terkadang kita tidak mampu bilang ‘tidak’ atau juga tidak bisa bilang ‘iya’ sama anak kita. Hal tersebut sebenarnya menandakan kita masih kecanduan terhadap anak kita.

Begitu juga dengan anak, tidak mampu berkata jujur terhadap kedua orang tuanya. Kadang juga kita tahu dia pakai narkoba, dan dia juga tahu bahwa kita tahu bahwa dia pakai narkoba namun kedua-duanya pura-pura tidak tahu.

Kedua belah pihak mengalami powerless (tidak memiliki kekuatan) untuk sama-sama duduk kemudian berbicara dan saling mengakui bahwa kedua belah pihak sedang memiliki masalah.

Masalah berkomunikasi ini membutuhkan proses. Saya sendiri pernah juga mengalami, anak saya semua tujuh, yang enam anak ini meminta saya untuk menyudahi perhatian saya terhadap satu anak yang bermasalah dengan narkoba ini.

Selengkapnya…

Belajar dari Acara Wisuda di Malaysia Bagi Para Mantan Pengguna Narkoba

Belajar dari Acara Wisuda di Malaysia Bagi Para Mantan Pengguna Narkoba

(Catatan Forum Silaturahmi Keluarga Madani 3 Bagian Ke-1  Bersama Bunda Meilani Hermanto di Studio Madani, Kamis, 4 Mei 2017)

madanionline.org – Bunda Meilani, “Ini adalah pertemuan kita yang ketiga. Pada pertemuan kedua saya berhalangan hadir karena harus menghadiri sebuah kegiatan di Kuala Lumpur, di Rumah Pengasih.

Sebuah acara graduation. Sebuah acara wisudanya anak-anak recovery person. Wisudanya saudara-saudara kita, teman-teman kita yang sudah menjalani pemulihan selama minimal dua tahun.

Dari Indonesia memang cukup banyak yang diwawancarai, dia benar-benar dua tahun sudah clean, walaupun di rumah saja. Jadi anak baik-baik. Yang penting nggak make. Yang tidak bisa kita wisuda adalah mereka yang masih minum alkohol/miras (minuman keras) walaupun jarang.

Ada 12 orang dari Indonesia yang lulus dari wawancara dan akhirnya mereka ikut diwisuda. Ini adalah untuk yang kelima kalinya yang diselenggarakan oleh Rumah Pengasih. Wisuda ini mereka buat setiap empat atau lima tahun sekali.

Selengkapnya…

“Kedua Orang Tua Harus Seiya dan Sekata dalam Membantu Pemulihan Anak Pecandu Narkoba”

“Kedua Orang Tua Harus Seiya dan Sekata dalam Membantu Pemulihan Anak Pecandu Narkoba”

(Forum Silaturahmi Keluarga Madani 2 Bagian Ke-17  Bersama Bunda Rostina di Studio Madani, Kamis, 20 April 2017) – Selesai

madanionline.org – Bunda Rostina, “Dulu anak saya kerja. Tiba-tiba perusahaannya berhenti beroperasi. Di situ saya juga timbul kembali kekhawatiran dia bakal kambuh lagi karena masalah tersebut. Makanya bohong kalau kita sudah tidak khawatir lagi.

Hanya kalau kita sudah sering melakukan latihan di FSKM ini kita akan lebih banyak memiliki pilihan dan cara untuk mengendalikan diri kita terlebih dahulu baru sebisa mungkin membantu menenangkan anak kita itu.

Kita jalin hubungan komunikasi antara orang tua dengan anak secara harmonis. Kita bisa membuka dan memulai percakapan dengan banyak hal. Misalnya dengan bertanya kabar dan keadaan pekerjaannya hari ini, apa ada kejadian yang menyenangkan yang bisa ibu/bapak dengar, dan lain sebagainya.

Jangan langsung memulai dengan pembicaraan yang berat dan serius. Jangan lupa kita libatkan juga anak-anak kita yang lain untuk merangkul anak kita yang telah kena narkoba ini. Terkadang anak-anak yang lain meremehkannya. Mereka menganggap harta keluarga habis gara-gara kelakuannya.

Selengkapnya…

Pentingnya Mengisi Setiap Ruang Kosong pada Jiwa Mantan Pecandu Narkoba dengan Unsur Spiritual

Pentingnya Mengisi Setiap Ruang Kosong pada Jiwa Mantan Pecandu Narkoba dengan Unsur Spiritual

(Forum Silaturahmi Keluarga Madani 2 Bagian Ke-16  Bersama Bunda Rostina di Studio Madani, Kamis, 20 April 2017)

madanionline.org – Bro T, “Saya sering bilang sama teman-teman saya bahwa bukan kita pecandu narkoba yang sedang direhab doang yang sedih, orang tua kita di rumah juga sama sedihnya seperti kita saat ini.

Orang kita di rumah bahkan lebih sedih daripada kita yang sedang menjalani program rehabilitasi karena merasa kehilangan diri kita selama beberapa lama. Maka saya tekankan lagi kepada mereka bahwa perjalanan dan proses pemulihan ini masih sangat panjang.

Sebagai orang tua kita juga sebaiknya tidak perlu terlalu bersedih karena di Madani, anak-anak kita punya adik, kakak, teman, dan guru baru yang selalu mendampingi dan menghibur kesedihan mereka selama menjalani program rehabilitasi di Madani.

Yang namanya feeling memang selalu seperti itu. Ada good feeling, ada juga bad feeling. Yang saya yakin kalau kita mau berbuat baik Allah akan selalu membantu kita bagaimanapun caranya.

Keinginan untuk memakai lagi bagi setiap mantan pecandu itu pasti selalu ada karena itu sudah tertanam sedemikian rupa di alam bawah sadar mereka. Maka itulah diadakan family support group seperti ini agar kita bisa saling menguatkan sehingga kita semakin memiliki peluang yang besar untuk dapat membantu proses pemulihan mereka.

Selengkapnya…

“Konselor Yang Paling Baik Adalah Orang Tua”

“Konselor Yang Paling Baik Adalah Orang Tua”

(Forum Silaturahmi Keluarga Madani 2 Bagian Ke-15  Bersama Bunda Rostina di Studio Madani, Kamis, 20 April 2017)

madanionline.org – Bro T, “Saya dari 1997 itu masih sempat jatuh lagi. Saya pernah menjalani terapi rehabilitasi dengan cara dirantai selama 40 hari di sebuah pesantren. Setelah itu, tidak sampai satu tahun saya jatuh lagi.

Karena iya gampang banget untuk mengingat dan membayangkan enak-enaknya narkoba itu. Setelah itu ikut program lagi. Kali ini saya ikut terapi komunitas. Terapi inilah yang kemudian diterapkan oleh BNN (Badan Narkotika Nasional) dan tempat-tempat rehabilitasi yang lainnya.

Setelah itu, jatuh lagi, jatuh lagi. Sampai akhirnya saya stag di Lido pada 2008. Di sana saya bikin program. Di situ baru saya sadar bahwa saya butuh dukungan. Saya sudah menjadi konselor ketika itu. Bagi saya, konselor yang paling baik adalah orang tua. Lebih khususnya adalah ibu.

Tinggal di situ bagaimana kita menganalisis SWOT diri kita dan orang tua kita. Dari analisis SWOT inilah kemudian akan ketemua jalan tengah antara kita dengan orang tua sehingga dengan berjalannya waktu kita perlahan namun pasti tidak lagi memakai pendamping.

Jadi, harus ditemukan solusi terbaik untuk bagaimana orang tua menyikapi kita dan juga bagaimana kita menyikapi orang tua. Setelah saya ikut family support group pada 2007, di situ saya terus mengembangkan diri saya sendiri. Sampai saya direkrut sebagai Manajer Program di Fun Campus.

Selengkapnya…

Mantan Pecandu yang “Mati Kutu”

(Forum Silaturahmi Keluarga Madani 2 Bagian Ke-14 Bersama Bunda Rostina di Studio Madani, Kamis, 20 April 2017)

madanionline.org – Bunda Rostina, “Anak-anak kita yang kena narkoba itu bukanlah anak-anak yang bodoh. Semua adalah anak-anak pintar. Percayalah, mereka pintar, ke dokter pun kadang-kadang yang ngatur obat adalah dia.

Mereka hebat. Untuk ngomong pun dia sangat dipercaya orang. Itulah kehebatan anak kita. Apa yang ibu/bapak alami, kami juga mengalaminya. Kita juga bersama-sama berdoa supaya ke depan lebih baik lagi. Banyak pelajaran yang bisa didapat dan menuju kebaikan itu pasti lebih mudah daripada kita menuju kepada keburukan.”

Bro T, “Apa yang saya alami 20 tahun ke belakang itu bagi saya adalah penyakit otak karena memang penyakit narkoba ini tidak bisa sembuh. Maka saya tidak pernah menyebut diri saya sudah sembuh tapi pulih.

1997 adalah awal saya mengenal narkoba. Beberapa program rehab juga sudah saya ikuti. Entah itu terapi komunitas, program sembuh 12 langkah, CBT, dan banyak lagi. Saya mengalami masa jatuh-bangun.

Sampai akhirnya pada 2007, baru saya kenal yang namanya Family Support Group (FSG). Saya sangat gugup kalau bicara di tengah orang tua sendiri di FSG. Kalau bicara di BNN, kementerian, dan berbagai lembaga lainnya saya mampu mengendalikan gugup saya tapi kalau di FSG saya `mati kutu`.

Selengkapnya…

“Pecandu Narkoba di Sarang Dukun”

“Pecandu Narkoba di Sarang Dukun”

(Forum Silaturahmi Keluarga Madani 2 Bagian Ke-13 Bersama Bunda Rostina di Studio Madani, Kamis, 20 April 2017)

madanionline.org – Bunda Rostina, “Saya juga dulu pernah ke dukun. Seperti lagi, `Ke gunung kan ku daki, ke laut akan ku seberangi`. Saya sempat merasa aneh dengan diri saya sendiri ketika itu. Waktu itu saya kayaknya bodoh sekali. Ini cerita perdukunan.

Saya ke Bojonegoro. Foto anak saya sudah seperti bintang film. Setiap ada dukun saya berikan foto anak saya. Lalu, dukun bilang akan mendoakan anak saya melalui foto tersebut. Dia bilang masalah saya gampang.

Dia meminta kepada saya, begitu saya pulang untuk membeli dua buah drem. Lalu, diisi dengan air sepinggang. Kebetulan lantai tiga di rumah saya kosong. Hanya ada tanaman. Dukun itu menyuruh saya dan anak untuk berendam di drem tersebut tepat pada pukul 00.00 WIB.

Saya nyuruh orang ngangkut drem itu aja sudah setengah mati. Itulah hebatnya kita. Apa aja dilakukan saking kepengen anak kita bisa sembuh. Saya ajak anak saya. Dia pun keheranan bukan main. Saya bilang ini biar semua penyakit yang ada di tubuh kita sembuh.

Selengkapnya…

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +