Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +

Love our website? Signup to our list to keep current on the awesome stuff we’re doing.

Dampak Miras

Dampak Miras

Oleh : Julizar Firmansyah S.Sos., M.Hum*

Dampak buruk miras bagi kesehatan antara lain: kerusakan hati, kerusakan jantung, pankreas, peradangan lambung, kerusakan otot saraf, dan gangguan mata.

Selain itu miras juga berakibat gangguan mental dan perilaku. Jumlah pasien yang dirawat dari tahun ke tahun meningkat, demikian pula yang meninggal.

Dampak negatif miras lainnya lebih nyata di bidang sosial dengan makin meningkatnya: kriminalitas, kecelakaan lalu lintas, pembunuhan, bunuh diri, KDRT, tawuran antar-remaja dan antar-kampung, perkosaan, kekacauan rumah tangga dan perceraian, derita mental anggota keluarga lain, serta seks bebas dan perselingkuhan.

Diberitakan oleh Suara Islam pada edisi 23 Agustus 2013, WHO, dan kepolisian mengenai miras dari tahun ke tahun:

Tahun 1988
Di Indonesia tercatat lebih dari 350.000 orang meninggal karena penyakit kronis akibat miras.

Tahun 1999-2000
58% angka kriminalitas terjadi ditengarai akibat pengaruh miras. Selengkapnya…

Penguasa Harus Melarang Miras

Penguasa Harus Melarang Miras

Oleh: Julizar Firmansyah S.Sos., M.Hum*

Jurnal Kepolisian edisi Januari-Maret 2003 menyebutkan bahwa minuman keras (miras) termasuk dalam pengertian narkoba.

Menurut (Alm.) Prof. Dr. Dr. H. Dadang Hawari, Psikiater, miras dan narkoba merupakan kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Miras adalah biang narkoba, namun Pemerintah memisahkannya yaitu lewat Peraturan Presiden (Perpres) Miras No. 74, tanggal 6 Desember 2013 bahwa miras dilegalisir sedangkan narkoba tetap ilegal. Isi Perpres tersebut tidak jauh berbeda dengan Keppres No. 3 tahun 1997 yang melegitimasi peredaran miras. Padahal sebelumnya miras dilarang pada 2003. Perda yang mengharamkan miras dibrendel lantaran bertentangan dengan Keppres yang masih menghalalkannya.

Jurnal Medis Lancet menyatakan, Pusat Studi Kejahatan dan Keadilan Inggris menegaskan bahwa alkohol lebih berbahaya dari narkoba. Narkoba secara individual merugikan si pemakai, sedangkan minuman beralkohol berdampak buruk tidak saja bagi peminumnya tapi juga bagi keluarga dan masyarakat. Hal ini lantaran miras lebih berbahaya dalam membentuk gangguan mental dan perilaku. Anehnya, miras masih dianggap legal sementara narkoba dianggap ilegal.

Bukan Negara Sekuler
Harian Republika edisi 28 September 2015 menyebutkan, dalam agama (Islam maupun non-Islam), miras jelas diharamkan dan aturan tersebut sudah final. Jelas bahwa keinginan agar penguasa melarang peredaran miras bukan hanya keinginan umat Islam melainkan seharusnya menjadi aspirasi seluruh agama di Indonesia. Meski Indonesia bukan negara agama, jangan lupa bahwa Indonesia juga bukan negara Sekuler. Pancasila sendiri merupakan ideologi religius, sehingga tepat jika dikatakan bahwa peredaran miras bertentangan dengan sila pertama Pancasila yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Selengkapnya…

Bro Ind, “Di Madani, Gue Menemukan Jalan Kembali”

Bro Ind, “Di Madani, Gue Menemukan Jalan Kembali”

(Wawancara Eksklusif dengan Indra Wira Setya, Mantan Pecandu Narkoba yang Kini Menjadi Konselor di Pusat Rehabilitasi Narkoba Madani Mental Health Care, Jakarta)

Melepaskan diri dari jerat candu narkoba bukanlah merupakan sebuah hal yang mudah. Ada yang keluar-masuk panti rehab karena selalu mengalami kekambuhan sesaat setelah menjalani program pemulihannya. Bahkan ada yang sampai meninggal dunia dalam kondisi terpenjara dalam “borgol” narkoba.

Dari sekian kisah yang memilukan itu, ada lebih banyak kabar yang menggembirakan dan membahagiakan. Banyak juga mereka yang berhasil keluar, kabur, dan melarikan diri dari “planet” narkoba dan berhasil mendarat kembali ke “bumi” kenyataan. Banyak yang pulih kembali. Ingat iya pulih bukan sembuh.

Di antara yang pulih itu adalah Indra Wira Setya. Akrab disapa Bro Ind. Pada Sabtu, 11 Juli 2020, Pukul 20.00 WIB Mohamad Istihori dari Madani Press (MaPress) mewawancarai Bro Ind via WA. Berikut petikannya:

Bagaimana ceritanya Bro Ind kenal dengan dunia narkoba? Dan, narkoba apa saja yang selama ini pernah dipakai?

“Gue kenal narkoba sekitar tahun 1989 – 1990-an. Itu di akhir masa SD menjelang SMP di Semarang. Awalnya saya disuruh-suruh. Teman gaul gue anak SMA dan anak kuliah. Mulanya coba-coba minuman keras (miras). Lalu, lanjut make Pil Koplo (Nipam). Harganya sekitar Rp. 4.500,- sampai Rp. 5.000,-. Duit segitu nominalnya cukup besar pada zamannya.

Semakin lama gue kenal narkoba sekolah gue semakin menjadi berantakan. Rendah diri dan pesimistis. Kemudian gue juga kenal yang namanya ganja.” Selengkapnya…

“Innamal Khomru bukan Innamaa Shabu-Shabu?”

“Innamal Khomru bukan Innamaa Shabu-Shabu?”

(Menangkal Pikiran Keliru Tentang Shabu-Shabu)

Oleh : Mohamad Istihori

Al Quran secara gamblang dan jelas mengharamkan khomar. Namun, untuk berbagai jenis narkoba termasuk misalnya Shabu-Shabu tak terdapat dalil yang tersurat yang mengharamkannya.

Inilah yang menjadi celah bagi seorang pengajar ilmu Syariah dan Bahasa Arab bernama Ahmad Marzuki (46 tahun) untuk memengaruhi para santrinya bahwa Shabu-Shabu adalah halal. Boleh dikonsumsi.

Selama 10 tahun peristiwa tersebut terjadi. Dalam rentang waktu itu Marzuki mengelabuhi banyak orang sambil berdalih, “Dalam Al Quran kan yang dilarang ‘khomar’ bukan shabu-shabu atau jenis narkoba yang lain. Firman Allah itu berbunyi, ‘Innamal khomru…’ bukan ‘Innamaa shabu-shabu…’ Ayat tersebut bercerita tentang khomar. Khomar itu cairan anggur. Lalu, kenapa Shabu-Shabu ikut haram?”

Padahal jelas bahwa mayoritas ulama mengharamkan Shabu-Shabu dan jenis narkoba yang lain melalui qiyas. Hukum agama tertinggi adalah Al Quran. Kedua, Hadits. Ketiga, ijma. Dan keempat, qiyas.

Dari Al Quran, Hadits, dan Ijma memang tidak ada dalil mengenai haramnya Shabu-Shabu. Jika kita telaah memang dari Surat Al Fatihah sampai An Naas tidak akan kita temukan satu pun ayat yang menerangkan bahwa Shabu-Shabu dan jenis narkoba yang lain itu adalah haram.

Tapi jika ditinjau berdasarkan dalil qiyas terdapat sebuah hadits yang dikemukakan Umar bin Khottob RA, “Khomar adalah segala sesuatu yang menutup akal.” (HR Bukhari Muslim).

Jika khomar dapat menutup atau melemahkan akal sehingga kita tidak dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Shabu-Shabu pun dapat menutup atau melemahkan akal. Maka Shabu-Shabu diqiyaskan dengan khomar hukumnya dalam Islam adalah haram karena sama-sama melemahkan dan melenyapkan akal manusia seperti yang diungkapkan Umar bin Khottob RA. Dalam hadits tersebut.

~Jum`at, 24 Januari 2020, 19:33 WIB

Meningkatkan Efektivitas Panti Rehabilitasi Narkoba di Indonesia

Meningkatkan Efektivitas Panti Rehabilitasi Narkoba di Indonesia

madanionline(dot)org – Kegiatan Uji Publik Hasil Penelitian PUSLITDATIN (Pusat Penelitian, Data, dan Informasi) BNN (Badan Narkotika Nasional) digelar pada 05 Desember 2019 di Hotel Kartika Chandra bekerjasama dengan LIPI memaparkan antara lain hasil survei 2018 di 13 ibukota provinsi.

Pertama, angka prevalensi penyalahguna narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa dalam satu tahun terakhir adalah 3,2% (2,297,492 orang) dan pekerja 2,1% ( 1.514.037 orang).

Kedua, lima jenis narkoba terbanyak dikonsumsi satu tahun terakhir : Ganja (65%), Shabu (38%), Ekstasi (18,7%), pil koplo (14,6%), dan dextro (6,4%).

Madani sebagai salah satu dari lima lembaga masyarakat yang diundang dalam kegiatan ini menyampaikan pandangannya dalam sesi tanya-jawab tentang perlunya peningkatan efektivitas tempat rehabilitasi masyarakat.

Selain itu, Panti Rehabilitasi narkoba Madani Mental Health Care mengharapkan agar BNN mampu mengatur para “mafia” rehabilitasi yang memeras dan memanfaatkan klien atau anggaran untuk kepentingan pribadi.

Berikut adalah kesimpulan lengkapnya:

  1. Angka prevalensi pengguna narkoba setahun terakhir sebesar 1,8%.
  2. Lima provinsi penyalahguna narkoba tertinggi: Sumatera Utara, Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Sulawesi Tengah, dan DI Yogyakarta.
  3. Kebiasaan merokok, nongkrong malam, dan bermain game merupakan perilaku paling berisiko terhadap penyalahgunaan narkoba.
  4. Angka penyalahgunaan narkoba laki-laki lebih besar daripada perempuan.
  5. Kelompok responden penyahguna yang terbesar berasal dari kelompok yang bekerja dan yang menganggur.
  6. Usia pertama kali menggunakan narkoba berkisar 17-19 tahun.
  7. Pengguna narkoba terbanyak berada di usia produktif (35-44) tahun.
  8. Lima jenis narkoba yang paling banyak dikonsumsi selama satu tahun terakhir yaitu: ganja, shabu, pil koplo, dan dextro.
  9. Hubungan pertemanan menjadi sumber utama perolehan narkoba.
  10. Alasan pertama kali memakai narkoba terutama karena coba-coba dan ajakan atau bujukan teman.
  11. Ceramah/penyuluhan dianggap cara paling tepat dalam penyampaian bahaya narkoba.
  12. Televisi dan media sosial merupakan media yang dianggap paling tepat dalam penyampaian bahaya narkoba.
  13. Rehabilitasi merupakan cara utama yang dianggap paling tepat dalam penanganan penyalahguna narkoba.

Dalam rundown acara, kegiatan dimulai pukul 08.30 sampai 14.00 WIB.

Penulis : Ginanjar Maulana
Editor : Mohamad Istihori

Madani Menghadiri Rakor IPWL Regional II

Madani Menghadiri Rakor IPWL Regional II

madanipress(dot)org – Samsuludin, MA. Si. sebagai Deputi Rehabilitsi Madani Mental Health Care (MMHC) menghadiri acara Rapat Koordinasi Lembaga IPWL Regional II yang dilaksanakan pada tanggal 28 sampai dengan 31 Oktober 2019 di Hotel Permata Bogor.

Adapun tujuan dari acara Rakor (Rapat Koordinasi) ini untuk evaluasi dan sosialisasi pentingnya koordinasi antar tempat rehabilitasi untuk meningkatkan pelayanan.

Pada hari pertama acara dibuka oleh Dirjen Rehabilitasi Sosial RI memberikan arahan pentingnya setiap IPWL memenuhi standar layanan yang sudah ditetapkan oleh kemensos.

Beliau juga memberikan gambaran ke depan IPWL harus banyak membangun jaringan dengan berbagai profesi dan lembaga yang beliau sebut sebagai Rehabilitasi Sosial Napza yang holistik dan sistematis.

Pada hari kedua pemateri dari STKS Bu Yane dan Bu Yuti menyampaikan teori jaringan dan manajemen rehabilitasi. Bahwa ke depan rehabilitasi harus mempu mengimbangi tantangan zaman dengan model pendekatan yang harus terus terbarukan.

Pada hari ketiga dilanjutkan dengan diskusi dari Direktorat Napza tentang kebijakan ke-SDM-an dan teknis pelaksanaan serta mengingatkan pentingnya mengikuti standar yang sudah dilakukan.

Pada materi terakhir disampaikan oleh Itjen. Kemsos Bapak H. Hasbullah bahwa fungsinya sebagai mitra IPWL untuk memastikan program rehabilitasi sesuai dengan juknis, target dan hasil, mimastikan kinerja, kelengkapan laporan dari aspek akuntabilitas meliputi kecukupan, kelengkapan dan keabsahan.

Pesan beliau jadikan usaha yang dilakukan IPWL sebagai sebuah ibadah yang tidak hanya dipertangungjawabkan di dunia juga di akhirat. (samsul)

HANI 2019

HANI 2019

Oleh : Faisal Mandiraja

Setiap tanggal 26 Juni kita selalu memperingati HANI (Hari Anti Narkotika Internasional).

Diharapkan dari acara tersebut minimal masyarakat akan semakin tahu bahaya ataupun efek yang ditimbulkan akibat mengonsumsi narkotika. Kita sering melihat di berbagai tempat slogan “Say no to drugs”.

Agaknya slogan ini kurang efektif lagi, jika tidak dibarengi dengan tegaknya hukuman yang bisa membuat seseorang menjadi jera, dan tentunya UU yang berkaitan dengan peredaran barang haram tersebut. Lagi-lagi karena harganya yang selangit membuat banyak orang tergiur untuk menekuni bisnis barang haram ini.

Himbauan demi himbauan, bahkan larangan demi larangan telah gencar dikampanyekan. Namun rupanya di balik sebuah larangan muncul rasa penasaran. Barangkali inilah yang membuat mereka tetap memakai, bosan sama yang satu pindah ke jenis yang lain.

Satu hari saya menyusuri Jalan Condet Raya. Tiba-tiba ada tulisan, “Jangan tengok kanan”. Entah kenapa tiba-tiba penasaran dan akhirnya sayapun nengok juga ke kanan. Ternyata wow ada kuliner yang menggiurkan.

Ini hanya contoh kecil ketika ada larangan tertentu justru membuat penasaran.
Berarti kita butuh slogan lain yang tidak membuat orang jadi penasaran terhadap barang haram tersebut.

Selamat merayakan HANI.

Mekanisme Terjadinya Penyalahgunaan Napza

Mekanisme Terjadinya Penyalahgunaan Napza

Oleh : Harid Isnaini

Permasalahan penyalahgunaan NAPZA mempunyai dimensi yang sangat luas dan kompleks, baik dari sudut medik, ekonomi, sosial budaya, kriminalitas dan lain sebagainya.

Dari sekian banyak permasalahan yang ditimbulkan sebagai dampak penyalahgunaan NAPZA antara lain: merusak hubungan kekeluargaan, menurunkan kemampuan belajar, ketidakmampuan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, perubahan perilaku menjadi prilaku yang anti sosial, gangguan kesehatan, menurunkan produktivitas kerja secara drastis, mempertinggi jumlah kecelakaan lalu lintas, kriminalitas, dan tindak kekerasan lainnya, (Hawari, 2012)

Adapun mekanisme terjadinya penyalahgunaan NAPZA menurut penelitian Hawari (1990) terjadi oleh interaksi antara faktor-faktor predisposisi (kepribadian, kecemasan, depresi) faktor kontribusi (kondisi keluarga) dan faktor pencetus (pengaruh teman sebaya/kelompok dan zat itu sendiri).

Mekanisme Penyalahgunaan Narkoba (18.1)

Ada tahapan terjadiya gangguan ketergantungan penggunaan zat melewati beberapa tahap dari coba-coba hingga akhirnya ketergantungan. menurut Husin dan Siste (2017) berikut ini adalah tahapan-tahapan penggunaan zat.

(1). Tahapan coba-coba atau eksperimental, di mana seorang remaja/dewasa yang awalnya atas dasar keingintahuan mulai menggunakan NAPZA.

(2). Tahapan situasional atau bersenang-senang, yaitu pola pemakaian zat pada situasi tertentu misalnya pada acara tahun baru, penggunaan karena diajak atau ingin diterima. Penggunaan situasional  ini bisa dibilang tingkat penggunaan zat yang rendah, tingkat keparahannya. biasanya terjadi dalam tatanan sosial di antara teman- teman, dan biasanya melibatkan penggunaan zat psikoaktif dalam jumlah kecil sampai sedang, biasanya juga didorong oleh rasa ingin tahu atau tekanan teman sebaya (teman sepermainan) orang yang menggunakan secara situasional biasanya belum memiliki masalah terkait penggunaan zatnya, kecuali jika penggunaan zat illegal. Contoh umum misalnya anak SLTP yang menggunakan ganja karena penasaran atau diajak teman-temannya pada saat acara tahun baru. Selengkapnya…

Wajib Mengetahui dan Haram Merasakan

Wajib Mengetahui dan Haram Merasakan

Oleh : Ade C Hidayat

Penyalahgunaan NAPZA di Indonesia semakin memprihatinkan, dari hari ke hari terus meningkat tajam.

Selain generasi tua, lebih banyak generasi muda yang terpeleset narkoba. Narkoba sudah menjadi istilah populer di tengah masyarakat, namun masih sedikit yang memahami arti narkoba.

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar( alkhohol/minuman keras) dan judi, pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya. ( Qs. 02:219)

Napza merupakan singkatan dari narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya. Napza dalam arti luas adalah obat, bahan, atau zat yang jika masuk ke dalam tubuh manusia, baik secara oral, dihirup, maupun intervena (suntik), dapat berpengaruh pada kerja otak atau susunan syaraf pusat. Dengan kata lain, narkoba mengakibatkan gangguan mental dan perilaku.

“Setiap zat, bahan, atau minuman yang dapat memabukan dan melemahkan akal sehat adalah khamar. Dan setiap khamar adalah HARAM. ( HR. Abdulla bin Umar Ra.)

Menurut penelitian Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari Psikiater. Faktor yang membuat seseorang terkena Narkoba adalah :

  1. Pengaruh Teman ( 58,39%)
  2. Sugesti ( 23,21%)
  3. Stress, Frustasi. (18,43%)

Presentasi di atas yang tertinggi adalah pengaruh teman. Maka kita harus tahu dengan :
Siapa teman kita
Siapa teman anak kita

Siap jaga lingkungan kita. Jangan sampai anak-anak, remaja, dan orang dewasa yang belum memilki pengetahuan tentang narkoba menjadi korban Penyalahgunaan narkoba.

Jagalah diri dan keluargamu.

#SelamatAntiNarkoba2019

Relapse Prevention (Pencegahan terhadap Kekambuhan dari Ketergantungan Narkotika)

Relapse Prevention (Pencegahan terhadap Kekambuhan dari Ketergantungan Narkotika)

Oleh : Heriawidija

Ketergantungan narkotika adalah tingkat ketagihan terhadap kebutuhan menggunakan narkotika.

Dalam soal narkotika ada hal yang menjadi tanda tanya mengapa pengguna narkotika mengalami ketagihan/adiksi?

Ketagihan/adiksi adalah keadaan di mana syaraf pusat otak mengalami gangguan akibat dari penggunaan narkotika, gangguan syaraf pusat tersebut menyebabkan tingkat ketagihan yang berangsur-angsur semakin banyak kebutuhan narkotikanya.

Relapse adalah kekambuhan, kekambuhan dari setelah berusaha berhenti sekian lama dari tidak menggunakan narkotika, relapse/kambuh dari menggunakan narkotika kembali.

Mencegah dari kemungkinan kekambuhan adalah upaya yang harus dilakukan agar tidak terjadi kekambuhan. Pencegahan secara sungguh-sungguh yaitu dengan menerapkan unsur keagamaan dalam merawat korban penyalahguna narkotika dalam rangka merawat pemulihannya.

Korban penyalahguna narkotika harus mengikuti Program Rehabilitasi terlebih dahulu, dalam Program Rehabilitasi alurnya adalah sebagai berikut:

  1. Konsultasi dengan Psikiater
  2. Direkomendasikan untuk mengikuti Program Stabilisasi, selama 7 sampai 10 hari
  3. Dilanjutkan dengan Program Transit House selama 1 sampai 3 bulan
  4. Dilanjutkan dengan Program Day Care 1 sampai 3 hari/minggu berkunjung ke Fasility selama 1 bulan
  5. Dilanjutkan dengan Program Home Care 1 kali/minggu dikunjungi oleh Konselor.

Dalam mengikuti program rehabilitasi sebaiknya diterapkan Metode Pemulihan yaitu Metode BPSS yang dirintis oleh Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari, Psikiater yang juga sudah diakui oleh WHO pada tahun 1984. Selengkapnya…

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +