Sebuah Kilas Balik Seorang ODHA

Sebuah Kilas Balik Seorang ODHA

ca586966-4b60-410b-868a-5f4333599e2aOleh: Indra W. Setya Duvyren

Inilah seklumit cerita tentang gue, Indra W. Setya Duvyren. Arti nama gue udah pahamkan? Indra selalu setia dengan duviral dan evafiren (obat anti virus HIV/ARV/anti retroviral virus).

Mungkin masih banyak kata yang kurang tepat mohon dibantu disempurankan informasi untuk kita semua. Edukasi untuk siapa saja yang membutuhkan. Namun jangan lupa HIV bukan akhir segalanya. Jauhi virusnya bukan orangnya.

Gue seorang pecandu putaw. Gue make putaw dulunya sih "suka-suka gue". Nggak juga gue langsung kenal namanya putaw sih dan akhirnya gue ganti nama jadi Indra W. Setya Duvyren. Hehehee…

Begini kilas balik kehidupan gue. Boleh gue cerita sedikit kenapa dengan nama gue Duvyren yang menjadikan gue tetap terus ingin hidup sehat dengan "sesuatu" yang ada dalam darah dan hidup gue.

Tahun 1992 gue kenal namanya seks bebas dan dunia malam. Gue hidup dengan hinggar binggarnya Kota Kembang Bandung. Padahal gue bukan asli Pasundan. Tapi gue asli Jawa. Gue keturunan ningrat. Tapi bukan ningratan (di jalanan).

Gue lahir di Jogjakarta oleh cinta kasih mama dan papa 40 tahun yang lalu. Gue terlahir dari keluarga harmonis dan penuh cinta kasih kedua orang tua yang sama-sama keduanya keturunan ningrat juga. Hehehe…

Sedikit gue curhat tentang keluarga gue nggak apa kan? Dari situ gue kenal alkohol, ganja, dan boti. Belum ada tuh namanya si putaw alias heroin. Gue suka ngeseks atau main cewek.

Selengkapnya…

Stigma Lagi, Lagi-Lagi Stigma?!

Stigma Lagi, Lagi-Lagi Stigma?!

1bded1b1-c0e9-4128-ac97-07fb30ce2d46Oleh: Ginanjar Maulana

Mata Nenek Arni berkaca-kaca. Perlakuan diskriminatif terhadap cucunya, Rahmat, yang ditolak bersekolah karena berstatus HIV positif, selalu membuat ia menangis. Padahal kejadian itu sudah enam tahun berlalu. “Nenek selalu dihantui rasa bersalah karena menceritakan penyakit Rahmat waktu itu kepada kepala sekolah. Sejak itu, Nenek sebisa mungkin merahasiakan status HIV-nya kepada siapa pun,” tuturnya.

Nenek Arni tidak sendirian. Saya percaya ada banyak kasus diskriminasi lainnya di lingkungan sekolah akibat status pengidap HIV. Ke depan, kasus semacam ini bisa lebih banyak lagi karena orang dengan HIV positif terus meningkat. Saat ini saja jumlah anak dengan HIV yang dilaporkan di Indonesia mencapai 3.408 orang, sedangkan jumlah orang dewasa dengan HIV positif adalah 134.042 orang (Ditjen P2PL, 2014).

Perlakuan diskriminatif itu niscaya justru membuat anak-anak dengan HIV dan keluarganya kian sulit mendapatkan hak-hak mereka sebagai anak-anak. Mereka bahkan bisa membahayakan orang-orang di sekitarnya tanpa disadari. Akibat trauma atas perlakuan yang didapat Rahmat, misalnya, Nenek Arni menyembunyikan status HIV cucunya, bahkan dari sang anak sendiri. Ia tidak pernah menceritakan status HIV itu kepada Rahmat, yang sekarang sudah masuk SMP, dan cucu ketiganya, Hafidz, 7 tahun, yang juga berstatus HIV positif.

Rahmat dan Hafidz hanya tahu bahwa mereka harus minum obat 12 jam sekali, setiap hari dan seumur hidup. Mereka tak tahu obat itu adalah anti-HIV. Yang mereka ketahui, obat yang diminum itu adalah obat jantung, asma, anemia, atau bahkan obat cantik. Kepada guru kelas Rahmat, Nenek Arni juga terpaksa berbohong, bahwa cucunya sakit jantung sehingga pasti akan ada satu hari-Selasa atau Jumat setiap bulan-ketika Rahmat harus izin tidak masuk sekolah untuk berobat ke rumah sakit. Orang tua lainnya, dalam catatan kami, juga terpaksa melakukan hal yang sama.

Ini jelas tak boleh dibiarkan. Nenek Arni tidak pernah tahu sampai berapa lama ia akan menutupi status HIV cucunya. Tapi ia tahu, dia dan cucunya belum siap untuk tahu soal HIV. Mungkin tak akan pernah siap. Karena itu, negara harus turun tangan membantu.

Selengkapnya…

LKNU, Poster HIV Ditarik

LKNU Poster HIV dtarikKetua Lembaga Kesehatan Nahdatul Ulama (LKNU), Hasyim Said Budairy akan meminta pihak yang memproduksi poster penanggulangan wabah HIV/AIDS untuk menarik peredaran poster tersebut, sebab poster yang menampilkan figur sepasang lelaki menyematkan logo NU di dalamnya memunculkan dugaan dari pihaknya ikut dalam mendukung lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).

Selengkapnya di koran Republika, Edisi Selasa, 8 Maret 2016.

Global Effect

9198263850_cc6c477248_zMADANIONLINE.ORG – Virus HIV/AIDS merupakan virus yang telah mendunia. Efeknya dirasakan semua orang di hampir segenap penjuru dunia (global effect). Penyakit kelamin yang disebabkan oleh virus ini belum mampu juga diatasi dan ditanggulangi.

Selama ini penyakit menular yang disebabkan virus, seperti virus ebola, cacar, campak, demam berdarah, dan lain sebagainya sudah ditemukan pencegahannya sehingga efeknya tidak berdampak secara global.

Namun, hal ini tidak berlaku bagi penyakit kelamin pada umumnya meskipun sudah ada pengobatannya. Tidak demikian halnya dengan virus HIV/AIDS. Dengan kecepatan 1 menit 5 orang tertular, maka manusia melalui transportasi yang serba canggih dan cepat ke seluruh dunia, menjadikan tidak ada satu sudutpun di dunia ini yang tidak terinfeksi HIV/AIDS.

Selengkapnya…

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +