Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +

Love our website? Signup to our list to keep current on the awesome stuff we’re doing.

HANI 2019

HANI 2019

Oleh : Faisal Mandiraja

Setiap tanggal 26 Juni kita selalu memperingati HANI (Hari Anti Narkotika Internasional).

Diharapkan dari acara tersebut minimal masyarakat akan semakin tahu bahaya ataupun efek yang ditimbulkan akibat mengonsumsi narkotika. Kita sering melihat di berbagai tempat slogan “Say no to drugs”.

Agaknya slogan ini kurang efektif lagi, jika tidak dibarengi dengan tegaknya hukuman yang bisa membuat seseorang menjadi jera, dan tentunya UU yang berkaitan dengan peredaran barang haram tersebut. Lagi-lagi karena harganya yang selangit membuat banyak orang tergiur untuk menekuni bisnis barang haram ini.

Himbauan demi himbauan, bahkan larangan demi larangan telah gencar dikampanyekan. Namun rupanya di balik sebuah larangan muncul rasa penasaran. Barangkali inilah yang membuat mereka tetap memakai, bosan sama yang satu pindah ke jenis yang lain.

Satu hari saya menyusuri Jalan Condet Raya. Tiba-tiba ada tulisan, “Jangan tengok kanan”. Entah kenapa tiba-tiba penasaran dan akhirnya sayapun nengok juga ke kanan. Ternyata wow ada kuliner yang menggiurkan.

Ini hanya contoh kecil ketika ada larangan tertentu justru membuat penasaran.
Berarti kita butuh slogan lain yang tidak membuat orang jadi penasaran terhadap barang haram tersebut.

Selamat merayakan HANI.

Mekanisme Terjadinya Penyalahgunaan Napza

Mekanisme Terjadinya Penyalahgunaan Napza

Oleh : Harid Isnaini

Permasalahan penyalahgunaan NAPZA mempunyai dimensi yang sangat luas dan kompleks, baik dari sudut medik, ekonomi, sosial budaya, kriminalitas dan lain sebagainya.

Dari sekian banyak permasalahan yang ditimbulkan sebagai dampak penyalahgunaan NAPZA antara lain: merusak hubungan kekeluargaan, menurunkan kemampuan belajar, ketidakmampuan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, perubahan perilaku menjadi prilaku yang anti sosial, gangguan kesehatan, menurunkan produktivitas kerja secara drastis, mempertinggi jumlah kecelakaan lalu lintas, kriminalitas, dan tindak kekerasan lainnya, (Hawari, 2012)

Adapun mekanisme terjadinya penyalahgunaan NAPZA menurut penelitian Hawari (1990) terjadi oleh interaksi antara faktor-faktor predisposisi (kepribadian, kecemasan, depresi) faktor kontribusi (kondisi keluarga) dan faktor pencetus (pengaruh teman sebaya/kelompok dan zat itu sendiri).

Mekanisme Penyalahgunaan Narkoba (18.1)

Ada tahapan terjadiya gangguan ketergantungan penggunaan zat melewati beberapa tahap dari coba-coba hingga akhirnya ketergantungan. menurut Husin dan Siste (2017) berikut ini adalah tahapan-tahapan penggunaan zat.

(1). Tahapan coba-coba atau eksperimental, di mana seorang remaja/dewasa yang awalnya atas dasar keingintahuan mulai menggunakan NAPZA.

(2). Tahapan situasional atau bersenang-senang, yaitu pola pemakaian zat pada situasi tertentu misalnya pada acara tahun baru, penggunaan karena diajak atau ingin diterima. Penggunaan situasional  ini bisa dibilang tingkat penggunaan zat yang rendah, tingkat keparahannya. biasanya terjadi dalam tatanan sosial di antara teman- teman, dan biasanya melibatkan penggunaan zat psikoaktif dalam jumlah kecil sampai sedang, biasanya juga didorong oleh rasa ingin tahu atau tekanan teman sebaya (teman sepermainan) orang yang menggunakan secara situasional biasanya belum memiliki masalah terkait penggunaan zatnya, kecuali jika penggunaan zat illegal. Contoh umum misalnya anak SLTP yang menggunakan ganja karena penasaran atau diajak teman-temannya pada saat acara tahun baru. Selengkapnya…

Wajib Mengetahui dan Haram Merasakan

Wajib Mengetahui dan Haram Merasakan

Oleh : Ade C Hidayat

Penyalahgunaan NAPZA di Indonesia semakin memprihatinkan, dari hari ke hari terus meningkat tajam.

Selain generasi tua, lebih banyak generasi muda yang terpeleset narkoba. Narkoba sudah menjadi istilah populer di tengah masyarakat, namun masih sedikit yang memahami arti narkoba.

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar( alkhohol/minuman keras) dan judi, pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya. ( Qs. 02:219)

Napza merupakan singkatan dari narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya. Napza dalam arti luas adalah obat, bahan, atau zat yang jika masuk ke dalam tubuh manusia, baik secara oral, dihirup, maupun intervena (suntik), dapat berpengaruh pada kerja otak atau susunan syaraf pusat. Dengan kata lain, narkoba mengakibatkan gangguan mental dan perilaku.

“Setiap zat, bahan, atau minuman yang dapat memabukan dan melemahkan akal sehat adalah khamar. Dan setiap khamar adalah HARAM. ( HR. Abdulla bin Umar Ra.)

Menurut penelitian Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari Psikiater. Faktor yang membuat seseorang terkena Narkoba adalah :

  1. Pengaruh Teman ( 58,39%)
  2. Sugesti ( 23,21%)
  3. Stress, Frustasi. (18,43%)

Presentasi di atas yang tertinggi adalah pengaruh teman. Maka kita harus tahu dengan :
Siapa teman kita
Siapa teman anak kita

Siap jaga lingkungan kita. Jangan sampai anak-anak, remaja, dan orang dewasa yang belum memilki pengetahuan tentang narkoba menjadi korban Penyalahgunaan narkoba.

Jagalah diri dan keluargamu.

#SelamatAntiNarkoba2019

Relapse Prevention (Pencegahan terhadap Kekambuhan dari Ketergantungan Narkotika)

Relapse Prevention (Pencegahan terhadap Kekambuhan dari Ketergantungan Narkotika)

Oleh : Heriawidija

Ketergantungan narkotika adalah tingkat ketagihan terhadap kebutuhan menggunakan narkotika.

Dalam soal narkotika ada hal yang menjadi tanda tanya mengapa pengguna narkotika mengalami ketagihan/adiksi?

Ketagihan/adiksi adalah keadaan di mana syaraf pusat otak mengalami gangguan akibat dari penggunaan narkotika, gangguan syaraf pusat tersebut menyebabkan tingkat ketagihan yang berangsur-angsur semakin banyak kebutuhan narkotikanya.

Relapse adalah kekambuhan, kekambuhan dari setelah berusaha berhenti sekian lama dari tidak menggunakan narkotika, relapse/kambuh dari menggunakan narkotika kembali.

Mencegah dari kemungkinan kekambuhan adalah upaya yang harus dilakukan agar tidak terjadi kekambuhan. Pencegahan secara sungguh-sungguh yaitu dengan menerapkan unsur keagamaan dalam merawat korban penyalahguna narkotika dalam rangka merawat pemulihannya.

Korban penyalahguna narkotika harus mengikuti Program Rehabilitasi terlebih dahulu, dalam Program Rehabilitasi alurnya adalah sebagai berikut:

  1. Konsultasi dengan Psikiater
  2. Direkomendasikan untuk mengikuti Program Stabilisasi, selama 7 sampai 10 hari
  3. Dilanjutkan dengan Program Transit House selama 1 sampai 3 bulan
  4. Dilanjutkan dengan Program Day Care 1 sampai 3 hari/minggu berkunjung ke Fasility selama 1 bulan
  5. Dilanjutkan dengan Program Home Care 1 kali/minggu dikunjungi oleh Konselor.

Dalam mengikuti program rehabilitasi sebaiknya diterapkan Metode Pemulihan yaitu Metode BPSS yang dirintis oleh Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari, Psikiater yang juga sudah diakui oleh WHO pada tahun 1984. Selengkapnya…

Refleksi HANI 2019

Refleksi HANI 2019

Oleh : Samsuludin, MA.Si (Deputi Rehabilitasi Madani Mental Health Care Jakarta Timur)

Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) didirikan oleh Majelis Umum PBB pada tahun 1987 yang diperingati setiap tahunnya pada tanggal 26 Juni.

Tujuan utama peringatan Hari Anti Narkotika Internasional untuk memperkuat aksi dan kerjasama di semua tingkatan untuk membangun masyarakat internasional agar terbebas dari penyalahgunaan narkoba.

Indonesia tergabung secara global untuk perang melawan narkoba dan turut serta dalam upaya pencegahan, pemberantasan, dan rehabilitasi para pecandu narkoba. Pada HANI tahun ini BNN mengusung tema “Milenial Sehat Tanpa Narkoba Menuju Indonesia Emas”.

Indonesia saat ini sudah masuk menjadi negara darurat narkoba lebih dari 4 juta orang yang terdiri dari penyalahguna coba pakai, teratur pakai, dan pecandu.  Jargon pemerintahan Jokowi “Indonesia Darurat Narkoba” ditafsirkan dengan program Rehabilitasi 100.000 pecandu narkoba yang dilaksanakan oleh BNN, Kemsos, dan Kemkes, tentunya bukan tanpa tantangan dan rintangan. Lalu apa yg menjadi “fiksi” atas program Indonesia Darurat Narkoba ini?

Pertama, lemahnya UU No. 35 Tentang Narkotika untuk memberikan perlindungan hukum pada korban untuk mendapatkan akses rehabilitasi dan efek jera terhadap bandar dan para pelindung bandar (aparat yang terlibat). Masih banyak siswa dan karyawan yang dikeluarkan dari sekolah atau pekerjaan karena ikut program rehabilitasi.

Kedua, lemahnya koordinasi antar lembaga pelaksana rehabilitasi antara Kemsos, Kemkes, dinas-dinas terkait di kota dan Provinsi, dan BNN yang terkesan lebih mementingkan egosektoral kelembagaannya masing-masing. Diperlukan payung hukum untuk mengkoordinasikan lembaga-lembaga pelaksana rehabilitasi dari pusat hingga daerah. Selengkapnya…

Indonesia dalam Ancaman Bahaya Narkoba

Indonesia dalam Ancaman Bahaya Narkoba

Oleh : Dimas Pratama, S. Kep. Ners.

Penyalahgunaan narkoba di Indonesia beberapa tahun terakhir ini menjadi masalah serius dan telah mencapai keadaan yang memprihatinkan, sehingga permasalahan narkoba menjadi masalah nasional.

Sebagai salah satu negara berkembang, Indonesia menjadi sasaran yang sangat potensial sebagai tempat pengedaran narkoba secara ilegal. Penyalahgunaan narkoba masih menjadi masalah kronis yang menimpa Indonesia, kasus peredaran sabu dan banyak tertangkapnya bandar-bandar narkoba internasional dalam beberapa tahun terakhir menjadi bukti bahwa Indonesia sedang berada dalam kondisi darurat narkoba.

Indonesia juga menjadi sasaran bagi para pengedar narkoba, karena di Indonesia para pengedar narkoba bisa menjual barang haram tersebut dengan mudah karena masih kurangnya pengawasan.

Penyalahgunaan narkoba serta peredarannya yang telah mencapai seluruh penjuru daerah dan tidak lagi mengenal strata sosial masyarakat, penyalahgunaan narkoba saat ini tidak hanya menjangkau kalangan yang tidak berpendidikan saja akan tetapi penyalahgunaan narkoba telah menyebar di semua kalangan bahkan sampai pada kalangan berpendidikan.

Selain itu, pengawasan pemerintah yang lemah terhadap pengedaran narkoba pun membuat pengedar narkoba semakin mudah untuk menjalankan transaksinya. Kehidupan di zaman modern sangat jauh dari kata ramah, hal ini terlihat dari tingginya tingkat kesibukan masyarakat, tingginya angka depresi, banyaknya anak-anak yang kurang perhatian orang tua, dan begitu beragamnya kegiatan yang dilakukan sampai dengan ramainya kegiatan di jam-jam malam, ini terlihat dari banyaknya tempat hiburan malam yang buka dan berkembang.

Hal ini sangat mempengaruhi pola kehidupan masyarakat, salah satunya adalah keberadaan obat bius dan zat-zat narkotika. Peredaran narkoba yang dilakukan dengan teknik canggih telah merambah seluruh Indonesia. Selengkapnya…

Darurat Narkoba dan Akibatnya

Darurat Narkoba dan Akibatnya

Oleh : Rudi Pardomuan Dongoran

Narkoba menjadi salah satu kasus terbesar yang mana hampir setiap negara di dunia mengalami permasalahan-permasalahan yang ditimbulkan oleh narkoba.

Selain itu, narkoba juga sudah dikategorikan sebagai kejahatan transnasional. Narkoba memang pantas untuk dikategorikan sebagai kejahatan transnasional karena dampak dan juga masalah-masalah yang ditimbulkannya tidak hanya berlaku bagi satu negara saja dan juga narkoba ini kemudian tidak hanya menyerang generasi muda di satu negara saja akan tetapi juga menyerang generasi muda di seluruh dunia.

Indonesia juga termasuk ke dalam negara yang diserang oleh masalah-masalah maupun isu-isu narkoba. Tidak sedikit dari pemuda di Indonesia yang terlibat di dalam masalah narkoba. Bukan hanya dari kalangan dewasa, pelajar, karyawan, public figure, bahkan aparatur negara pun juga terlibat masalah narkoba ini. Penggunaannya juga bukan dari kalangan menengah ke atas akan tetapi dari kalangan menengah ke bawah banyak yang terjerat kasus narkoba.

Indonesia Darurat Narkoba!!! Merupakan situasi yang cocok menggambarkan keadaan Indonesia berkaitan dengan narkoba. Seperti yang kita lihat yang lebih parahnya pengguna narkoba dari kalangan pelajar mulai dari tingkat SD hingga mahasiswa perguruan tinggi baik negeri maupun swasta.

Tidak sedikit orang-orang yang bertindak sebagai pengedar narkoba di Indonesia baik penduduk asli Indonesia yang tinggal di perkotaan, desa, dan juga para pendatang di Indonesia atau yang sering kita sebut turis di Indonesia yang menjadi pengedar dan pendistribusi narkoba di Indonesia. Selengkapnya…

Semua Ajaran Agama di Indonesia Menolak Narkoba

Semua Ajaran Agama di Indonesia Menolak Narkoba

Oleh : Arizal Firdaus

Baru saja kita melihat di media televisi dan media sosial tentang penyalahgunaan narkoba.

Perumahan dijadikan pabrik Shabu. Kost-kostan wanita digunakan untuk mengkonsumsi narkoba. Penyitaan ribuan ekstasi di daerah terpencil dan beragam peristiwa nyata mengenai penyalahgunaan narkoba yang tidak semua dapat kita baca di berita.

Kita sering mendengar istilah NAPZA. Kepanjangannya adalah Narkotika, Alkohol, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya). Perlu sama-sama kita ketahui pandangan berbagai agama di Indonesia tentang penyalahgunaan narkoba. Karena setiap agama menganut moral, etika, dan norma.

Adapun pandangan narkoba tersebut adalah sebagai berikut :

(1). Agama Islam

Banyak ayat al Quran dan Hadits yang melarang manusia mengonsumsi minuman keras. Memang di zaman Rasulullah zat yang paling berbahaya adalah khomer/minuman keras dan di zaman modern saat ini khomer dianalogikan menjadi narkoba.

Proses pengharaman khomer menurut Islam sangatlah unik. Sebagaimana Allah SWT menurunkan ayat pertama tentang khomar di dalam QS. An-Nahl ayat 67. Adapun isi ayat tersebut tidak membahas tentang dosa tetapi manfaat dasar dari khomer.

Kemudian Allah menurunkan ayat kedua tentang khomer di dalam QS. al Baqarah ayat 219 setelah turun ayat ini di zaman Rasulullah para sahabat sudah mulai mengurangi mengkonsumsi khamar tetapi masih ada yang mengonsumsinya.

Kemudian Allah menurunkan ayat yang ketiga mengenai khomar di dalam QS. Annisa ayat 43. Adapun frekuensi di zaman sahabat yang mengonsumsi khomar semakin sedikit.

Lalu pada tahap terakhir Allah menegaskan di QS. al Maidah ayat 90 bahwasannya khomer yang dianalogikan narkoba diharamkan karena lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya (la dororo wala diroron). Selengkapnya…

Narkoba dan Keniscayaannya

Narkoba dan Keniscayaannya

Oleh : Yuki Andi Arpan, SS.

Narkoba singkatan dari Narkotika dan Obat-obatan Terlarang.

Sementara NAPZA singkatan dari Narkotika, Psikotropika, Alkohol, dan Zat Adiktif Lainnya. Kedua istilah di atas adalah istilah yang sama hanya saja NAPZA cakupannya lebih luas daripada Narkoba.

Kedua istilah itu digunakan untuk bahan/zat yang jika dimasukan dalam tubuh manusia, baik secara oral/diminum, dihirup, maupun disuntikan, dapat mengubah pikiran, suasana hati atau perasaan, dan perilaku seseorang dan dapat menimbulkan ketergantungan (adiksi) fisik dan psikologis. Sehingga akan berakibat buruk kepada orang yang secara terus-menerus menyalahgunakannya dalam jangka waktu lama.

Mengapa peredaran dan penyalahgunaannya semakin marak?

Hal itu disebabkan oleh beberapa hal di antaranya:

(1). Banyaknya Permintaan

Dalam hukum ekonomi dikenal istilah suplay and demand, semakin banyak permintaan akan semakin banyak barang yang disediakan. Dengan demikian semakin banyak peermintaan terhadap kebutuhan akan narkoba, akan semakin marak narkoba yang diselundupkan.

Mengapa banyak permintaan? Itu disebabkan karena efek narkoba itu sendiri yang akan menimbulkan ketagihan baik yang bersifat Depresan (morpin dan heroin serta turunannya), Stimulan (Kafein, Kokain, Amphetamin, dan lain-lain), Halusinogen (LSD, Ganja, dan lain-lain yang dengan efek tersebut, orang yang menyalahgunakannya akan merasakan tenang, bergairah, dan berhalusinasi. Atau bahasa istilah yang mereka gunakan Nge-fly.

(2). Ladang Bisnis Menggiurkan

Dengan banyaknya permintaan, narkoba akan menjadi ladang bisnis yang menjanjikan kekayaan. Bisnis barang haram ini seperti menjadi daya tarik bagi mereka yang dalam himpitan ekonomi atau mereka yang berambisi mengumpulkan kekayaan pribadi. Meskipun jerat hukuman berat menghantui bahkan hingga hukuman mati bagi bandar narkoba, tidak menyurutkan mereka. Selengkapnya…

10 Tips Menjauhkan Anak dari Bahaya Narkoba

10 Tips Menjauhkan Anak dari Bahaya Narkoba

Oleh : Kang Ginanjar Maulana

Sampai detik ini, pemakaian dan penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja sudah sangat mengkhawatirkan.

Bahkan setiap tahunnya, jumlah pecandu narkoba di kalangan anak muda di Indonesia terus bertambah.

Sebenarnya, tingkat pengetahuan masyarakat tentang bahaya narkoba sudah cukup baik, hanya saja pemahaman tentang bagaimana upaya pencegahan narkoba masih tergolong rendah. Dengan demikian, perlu adanya upaya komunikasi, edukasi, dan informasi yang lebih maksimal tentang cara melakukan pencegahan efektif dari ancaman bahaya narkoba.

Dalam hal ini, peran orang tua memiliki andil sangat besar dalam melindungi anak-anak dari ancaman barang haram dan berbahaya tersebut.

Berikut ini 10 tips bagi para orang tua untuk membantu melindungi anak-anak dari paparan obat terlarang. Simak ya Dads dan Moms!

1. Jalin komunikasi sejak dini soal bahaya  narkoba

Hal terbaik yang bisa dilakukan orang tua untuk mencegah penyalahgunaan narkoba, alkohol, termasuk rokok pada anak-anak adalah dengan cara melakukan komunikasi sejak dini pada sang anak. Bicarakan dengan anak-anak tentang bagaimana zat ini berbahaya bagi mereka. Jelaskan efeknya bagi tubuh, psikologis, bahkan masa depannya.

2. Fokus pada hal positif

Diskusikan pada buah hati, bagaimana cara mengambil keputusan yang bertanggung jawab tanpa terpengaruh dari perilaku teman sebaya.

Jangan lupa untuk memuji prestasi yang dilakukan anak agar membangun harga dirinya. Biarkan mereka aktif terlibat dalam kegiatan positif seperti olahraga, seni lukis, dan kegiatan lain yang disukainya. Selain itu selalu luangkan waktu bersama anak, untuk sekedar bicara dan mengetahui kegiatannya seharian. Selengkapnya…

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +