Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +

Love our website? Signup to our list to keep current on the awesome stuff we’re doing.

Sumbangsih Tasawuf Al-Ghazali Bagi Terapi Psikoreligius

Oleh: Julizar Firmansyah S.Sos., M.Hum*

Tasawuf Akhlaki Al-Ghazali


Corak pemikiran tasawuf Al-Ghazali dapat dikelompokkan sebagai tasawuf akhlaki atau tasawuf sunni.

Tasawuf akhlaki berbeda dengan tasawuf falsafi dan tasawuf semi-falsafi (tasawuf teosofi).

Menurut Drs. H. Ahmad Bangun Nasution, M.A. dan Dra. Hj. Rayani Hanum Siregar, M.H. dalam buku mereka Akhlak Tasawuf: Pengenalan, Pemahaman, dan Pengaplikasiannya (Disertai Biografi dan Tokoh-tokoh Sufi), kata “tasawuf” dalam bahasa Arab bisa berarti “membersihkan” atau “saling membersihkan”. Kata “membersihkan” merupakan kata kerja yang membutuhkan objek. Objek tasawuf adalah akhlak manusia.

Dalam tasawuf akhlaki, sistem pembinaan akhlak adalah seperti berikut. Pertama, takhalli yaitu usaha mengosongkan diri dari akhlak tercela. Hal ini dapat dicapai dengan menjauhkan diri dari kemaksiatan dan melenyapkan dorongan hawa nafsu. Kedua, tahalli yakni upaya menghiasi diri dengan jalan membiasakan diri dengan sikap, perilaku, dan akhlak terpuji.

Ketiga, tajalli. Untuk pemantapan dan pendalaman materi yang telah dilalui pada fase tahalli, rangkaian pendidikan akhlak disempurnakan pada fase tajalli. Tahap ini termasuk penyempurnaan kesucian jiwa. Kesempurnaan kesucian jiwa hanya dapat ditempuh dengan cinta kepada Allah dan memperdalam rasa kecintaan itu.

Ciri-ciri tasawuf akhlaki adalah: pertama, berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnah. Cenderung memakai landasan Qurani dan Hadist sebagai kerangka pendekatannya. Kedua, kesinambungan antara hakikat dengan syariah, yaitu keterkaitan antara tasawuf (aspek batin) dan fikih (aspek lahir). Ketiga, lebih bersifat mengajarkan dualisme dalam hubungan antara Allah dan manusia.

Keempat, lebih terkonsentrasi pada soal pembinaan, pendidikan akhlak, dan pengobatan jiwa melalui latihan mental (takhalli, tahalli, dan tajalli). Kelima, tidak menggunakan terminologi-terminologi filsafat. Terminologi-terminologi yang dikembangkan lebih transparan. Selain Al-Ghazali, tokoh-tokoh tasawuf akhlaki misalnya Hasan Al-Basri dan Al-Muhasibi.

Ada juga pemetaan lain yang dibuat Dr. Simuh, pakar sufisme UIN Yogya. Dr. H. Sumanta, M.Ag. mengutip Simuh dalam bukunya Pencerahan Spiritual dalam Perspektif Tasawuf, bahwa tasawuf dipetakan menjadi aliran transendentalisme dan aliran unionisme. Aliran transendentalisme adalah aliran yang masih mempertahankan sendi-sendi dasar ajaran tauhid dan membedakan adanya dua pola wujud yaitu wajib al-wujud (Allah) dan mumkin al-wujud (makhluk). Keduanya berbeda secara fundamental.

Transendentalisme mempertahankan ketidakserupaan antara hamba dengan Allah. Pemikiran Al-Ghazali termasuk aliran ini. Sedangkan aliran unionisme menekankan penyatuan Tuhan dengan hamba (union mystic). Di Indonesia ajaran tersebut dikenal sebagai manunggaling kawula lan gustiyang dibawa Syekh Siti Jenar.

Dalam pemikiran transendentalisme, tingkat tertinggi yang dapat diperoleh seorang hamba dalam tasawuf adalah makrifatullah dan penghayatan terhadap alam gaib (kasyaf) serta mendapat ilmu laduni (ilmu yang diperoleh langsung dari Allah tanpa melalui proses belajar).

Al-Ghazali menyebut tentang istilah wali atau golongan khawwas. Tingkat waliyullah adalah tingkat selapis di bawah tingkatan para nabi. Al-Ghazali menjelaskan bahwa karomah para wali sama dengan tingkat permulaan para nabi.

Bagi Al-Ghazali, semangat tasawuf tidak lain adalah semangat pendalaman agama, baik dalam pemahaman, penghayatan, dan pengamalannya. Semangat tasawuf ialah sesuatu yang inheren dalam sistem keagamaan, karena agama tanpa semangat tasawuf adalah mustahil. Bahkan boleh jadi hanya sekadar kumpulan aturan formal yang beku dan sangat tidak menarik bagi siapa saja yang masih memiliki kesadaran batiniah (esoterik).

Melalui berbagai pemaparan dalam karya-karya sufismenya, Al-Ghazali bertujuan untuk hidup dengan melaksanakan kebenaran-kebenaran agama dan mengujinya dengan metode eksperimental kaum sufi. Pengujian tersebut ternyata berhasil dengan kesimpulan: pertama, hanya dengan mengintensifkan kehidupan batin maka iman yang hidup segera benar-benar dapat diwujudkan; kedua, tasawuf tidak mempunyai tujuan kognitif apapun selain agama.

Dari dua kesimpulan itu maka tasawuf Al-Ghazali dapat disebut sebagai tasawuf religius ortodoks (sunni) yang menitikberatkan pada kesucian rohani dan keluhuran budi sebagai manifestasi yang otentik dan valid dari keberagamaan seseorang.

Al-Ghazali diakui para ulama sebagai pembela utama tasawuf sunni, yang mudah dipahami dan diterima oleh semua orang. Namun untuk dirinya sendiri dan kalangan terbatas murid-muridnya, Al-Ghazali dekat dengan doktrin wahdat al-wujud. Ia mengatakan bahwa “tidak ada dalam wujud ini kecuali Allah”. Sebenarnya corak sufisme yang dianut untuk diri dan murid-murid pilihannya ini dapat disebut tasawuf filosofis.

Mengapa seolah-olah Al-Ghazali berpendirian ganda? Dalam bahasa Sumanta, tidak mengherankan jika ada sarjana yang “menuduh” Al-Ghazali bermuka dua. Sikap Al-Ghazali tersebut dapat dipahami bila kita memperhatikan hadist Rasulullah SAW yang menganjurkan agar dalam menyampaikan ajaran agama harus melihat kadar pengetahuan audiensnya.

Tasawuf yang Mudah Diterima
Karena tasawuf sunni yang diajarkan Al-Ghazali mudah dipahami dan diterima masyarakat, maka model sufisme semacam inilah yang tepat bagi korban NAPZA dan penderita skizofrenia. Lagipula tasawuf sunni bukanlah sufisme yang dikawinkan dengan pandangan-pandangan filsafat seperti halnya wahdat al-wujud, meskipun untuk Al-Ghazali dan murid-murid pilihannya menganut pandangan esoterik dan filosofis yang radikal.

Bangunan sufisme sunni yang dikembangkan Al-Ghazali mempunyai pengaruh yang kuat dan besar serta luas di Dunia Islam khususnya. Tasawuf akhlaki inilah yang diterapkan pesantren-pesantren di Indonesia.

Di Dunia Islam sejak lama telah tumbuh dan berkembang berbagai ordo sufisme atau lebih dikenal sebagai tarekat (thoriqoh). Thoriqoh secara etimologis (bahasa) berarti “jalan” dan menurut pengertian terminologisnya (peristilahan) adalah perkumpulan-perkumpulan para sufi yang mengacu pada kepemimpinan dan ajaran-ajaran wali-wali besar tertentu.

Untuk menyebut beberapa di antaranya adalah tarekat Qodiriyah, Naqsyabandiyah, Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (perpaduan dua tarekat), Tijaniyah, Syattariyah, Chistiyah, Idrisiyah, Sanusiyah dan sebagainya.

Di Indonesia, bagi kalangan-kalangan seperti Muhammadiyah, Persis (Persatuan Islam), atau yang lebih kekinian semacam salafiyun/salafi (mengacu pada ajaran-ajaran Wahabi), tarekat adalah bid’ah.

Golongan-golongan ini mengkritik amalan tarekat, untuk menyebut beberapa contoh, misalnya ziarah dan meminta tolong kepada para wali, tawasul, serta dzikir yang dibatasi dalam jumlah hitungannya.

Dzikir-dzikir tersebut umumnya bisa mencapai ribuan atau bahkan puluhan ribu kali. Sebagai contoh, Solawat Nariyah yang didzikirkan sebanyak 4.444 kali. Menurut kelompok salafi dan yang sejenis, lafal Solawat Nariyah sendiri tidak berasal dari Nabi Muhammad SAW, melainkan dibuat oleh ulama sufi dan menurut syariah tidak ditentukan jumlah hitungan dzikir hingga mencapai seribu, dua ribu, atau seterusnya, melainkan sebanyak-banyaknya tanpa hitungan tertentu.

Dalam tulisan ini penulis tidak mendukung salah satu pendapat. Terserah pilihan dan keyakinan para pembaca, meski tetap harus merujuk pada nash-nash syar’i atau pendapat-pendapat dari otoritas kefikihan dan ketasawufan yang mumpuni.

Ada pendapat di sebagian kaum sufi bahwa bila seseorang mempelajari tasawuf tanpa guru berarti ia telah berguru pada setan. Tapi menurut Dr. Haidar Bagir –mengutip salah satu kitab—seseorang dapat saja bertasawuf tanpa guru.

Ini paralel dengan pendapat Syekh Said Hawwa, ulama Ikhwanul Muslimun, dalam bukunya Jalan Ruhani. Ia berpandangan, seorang muslim dapat bertasawuf tanpa guru tarekat (mursyid), dengan cara berlandaskan pada ilmu yang sahih menurut Al-Quran dan Sunnah.

Terapi Psikoreligius
Dalam tinjauan sufisme, dikaji relasi antara jiwa dengan badan untuk mencapai keserasian kedua aspek tersebut. Tilikan para sufi tersebut dilakukan untuk melihat sejauhmana hubungan perilaku dengan dorongan yang dimunculkan jiwa yang menyebabkan suatu perbuatan dapat terjadi. Jika jiwa seseorang tidak terkendali, maka mentalnya menjadi kurang sehat.

Cakupan golongan yang kurang sehat sangat luas, dari yang paling ringan hingga yang paling berat. Dari orang yang merasa terganggu ketenteraman batinnya hingga yang sakit jiwa. Menurut Ahmad dan Rayani, gejala umum pada orang yang kurang sehat dapat dilihat dalam beberapa segi yaitu perasaan, pikiran, kelakuan, dan kesehatan, seperti diuraikan di bawah ini.

Pertama, perasaan terganggu, tidak tenteram, gelisah, takut yang tidak masuk akal, iri, sedih yang tidak beralasan, dan sebagainya.

Kedua, gangguan kesehatan mental dapat pula memengaruhi pikiran, misalnya menjadi malas dan tidak dapat berkonsentrasi.

Ketiga, pada umumnya berkelakuan tidak baik. Keempat, jasmaninya dapat terganggu bukan lantaran ada penyakit yang betul-betul mengenai jasmani, melainkan akibat jiwa yang tidak tenteram. Penyakit ini disebut psikosomatik. Gejala yang sering terjadi adalah sakit kepala, lemah, letih, sering masuk angin, tekanan darah tinggi atau rendah, jantung sesak napas, sering pingsan (kejang), dan lain-lain.

Para korban NAPZA dan penderita skizofrenia, untuk menunjang kesembuhannya, dapat menjalani laku kehidupan para sufi. Tapi dengan pola tasawuf yang memandang dunia secara positif sehingga aktivitas ibadahnya tidak sampai menjauhi ilmu-ilmu dan kegiatan keduniaan. Dalam istilah lain adalah tasawuf positif, tasawuf moderat, neo-sufisme dan istilah-istilah lain yang serupa.

Hal ini perlu diingat sebab, seperti di Madani Mental Health Center misalnya, korban NAPZA dan pasien skizofrenia (disebut “santri”) terdiri dari berbagai kalangan semisal pebisnis, karyawan bank, mantan karyawan, mahasiswa, pelajar, dan sebagainya, sehingga tidak mungkin meninggalkan aktivitas duniawi. Dalam ajaran Islam pun keseimbangan dunia-akhirat benar-benar dijaga, sebagaimana dapat dirujuk pada nash-nash syar’i.

Di Yayasan Madani, dipraktikkan dzikrullah dalam pengertiannya yang sangat luas mencakup solat wajib dan solat sunah, wirid sesudah solat, tadarus Al-Quran setiap hari, bedah buku agama, latihan ceramah (muhadhoroh), dialog keislaman, dan lain-lain. Aktivitas ini sangat menunjang kesembuhan dari NAPZA dan skizofrenia.

Berbeda dengan yayasan atau lembaga lain lantaran di Madani dikembangkan metode BPSS (Biologik-Psikologik-Sosial-Spiritual) bentukan (alm.) Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari, Psikiater. Diamanatkan dalam ajaran Islam bahwa Al-Quran adalah penyembuh (syifa) dan hanya dengan berdzikir maka hati menjadi tenang.

Allah SWT berfirman, “Berdzikirlah kamu kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS Al-Ahzab [33]: 41). Al-Quran menyebutkan, “Setelah menunaikan solat, bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah, dan berdzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (QS Al-Jumu’ah [62]: 10).

Kata sifat untuk dzikir adalah dzikran katsira, bukan dzikran shaliha. Walau kualitas dzikir kita jelek, kita dianjurkan untuk berdzikir sebanyak-banyaknya. Dalam kitab Al-Hikam buah tangan Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari dikatakan bahwa lalai dalam wirid lebih baik daripada lalai di luar wirid. Dalam sebuah Hadist Qudsi Allah SWT berfirman, “Aku akan menyertai hamba-Ku ketika dia berdzikir kepada-Ku dan ketika bibirnya menyebut nama-Ku.”

Masalahnya, mengapa korban NAPZA setelah melakukan dzikir masih ada kemungkinan memakai narkoba lagi –tentunya setelah juga menjalani proses pengobatan? Imam Al-Ghazali punya jawabannya. Beliau mengatakan, setan itu seperti anjing yang walau diusir akan tetap datang bila makanan tetap ada.

Begitu pula setan, dia tidak akan takut pada dzikir seseorang bila di hati orang yang bersangkutan masih ada makanan setan. Jadi, bukanlah setan yang menggoda kita, melainkan kitalah yang “menggoda” setan dengan menyediakan makanannya di dalam hati kita. Allahu a’lam bish-shawab.

*Penulis adalah alumnus S2 filsafat UI

105 Total Views 3 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +