Stigma Lagi, Lagi-Lagi Stigma?!

1bded1b1-c0e9-4128-ac97-07fb30ce2d46Oleh: Ginanjar Maulana

Mata Nenek Arni berkaca-kaca. Perlakuan diskriminatif terhadap cucunya, Rahmat, yang ditolak bersekolah karena berstatus HIV positif, selalu membuat ia menangis. Padahal kejadian itu sudah enam tahun berlalu. “Nenek selalu dihantui rasa bersalah karena menceritakan penyakit Rahmat waktu itu kepada kepala sekolah. Sejak itu, Nenek sebisa mungkin merahasiakan status HIV-nya kepada siapa pun,” tuturnya.

Nenek Arni tidak sendirian. Saya percaya ada banyak kasus diskriminasi lainnya di lingkungan sekolah akibat status pengidap HIV. Ke depan, kasus semacam ini bisa lebih banyak lagi karena orang dengan HIV positif terus meningkat. Saat ini saja jumlah anak dengan HIV yang dilaporkan di Indonesia mencapai 3.408 orang, sedangkan jumlah orang dewasa dengan HIV positif adalah 134.042 orang (Ditjen P2PL, 2014).

Perlakuan diskriminatif itu niscaya justru membuat anak-anak dengan HIV dan keluarganya kian sulit mendapatkan hak-hak mereka sebagai anak-anak. Mereka bahkan bisa membahayakan orang-orang di sekitarnya tanpa disadari. Akibat trauma atas perlakuan yang didapat Rahmat, misalnya, Nenek Arni menyembunyikan status HIV cucunya, bahkan dari sang anak sendiri. Ia tidak pernah menceritakan status HIV itu kepada Rahmat, yang sekarang sudah masuk SMP, dan cucu ketiganya, Hafidz, 7 tahun, yang juga berstatus HIV positif.

Rahmat dan Hafidz hanya tahu bahwa mereka harus minum obat 12 jam sekali, setiap hari dan seumur hidup. Mereka tak tahu obat itu adalah anti-HIV. Yang mereka ketahui, obat yang diminum itu adalah obat jantung, asma, anemia, atau bahkan obat cantik. Kepada guru kelas Rahmat, Nenek Arni juga terpaksa berbohong, bahwa cucunya sakit jantung sehingga pasti akan ada satu hari-Selasa atau Jumat setiap bulan-ketika Rahmat harus izin tidak masuk sekolah untuk berobat ke rumah sakit. Orang tua lainnya, dalam catatan kami, juga terpaksa melakukan hal yang sama.

Ini jelas tak boleh dibiarkan. Nenek Arni tidak pernah tahu sampai berapa lama ia akan menutupi status HIV cucunya. Tapi ia tahu, dia dan cucunya belum siap untuk tahu soal HIV. Mungkin tak akan pernah siap. Karena itu, negara harus turun tangan membantu.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak mengamanatkan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadi dan tingkat kecerdasan sesuai dengan minat dan bakatnya. Prof. dr. Fasli Jalal, Ph. D.-saat itu menjabat Wakil Menteri Pendidikan Nasional-menyampaikan dalam film berjudul Berikan Kami Harapan, sebuah film dokumenter yang dibuat oleh Lentera Anak Pelangi pada 2010, bahwa Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan tidak boleh ada diskriminasi terhadap setiap anak dalam mendapatkan hak-hak pendidikannya.

Sayangnya, sikap pemerintah yang terang-benderang ini belum terimplementasi dengan baik di sekolah, bahkan di sekolah yang tak jauh dari Ibu kota. Agaknya, upaya penyuluhan serta advokasi tentang HIV kepada sekolah, guru, dan orang tua murid belum cukup meresap. Lantas kapan kemerdekaan yang sesungguhnya bisa dirasakan anak-anak dengan HIV?

Di atas adalah tulisan Natasya Evalyne Sitorus tentang Diskriminasi terhadap Anak dengan HIV dimuat di kolom Pendapat (hal.15) Koran TEMPO, Edisi 4 September 2014.

Kini, 2016. Dua tahun menjelang setelahnya, saya secara pribadi masih mendapatkan kasus diskriminasi tersebut, seorang teman ditolak salah satu rumah umu sakit daerah (RSUD) dan tidak diberikan layanan hanya gara-gara dia berstatus HIV positif. Hello? Katanya sudah maju, kok pikiran masih primitif? Kesehatan adalah hak dasar manusia untuk mendapatkannya. Negara harusnya menjamin, alih-alih menggratiskan pembiayaan. Malah masyarakat dipusingkan dengan BPJS. Ah sudah lah.

Kembali pada stigma dan diskriminasi HIV, tolong jujur jawab pertanyaan saya, kalau Anda disuruh merawat pasien dengan penyakit TBC, Hepatitis, dan HIV Anda pilih mana?

Di beberapa seminar dan penyuluhan saya sering tanyakan hal tersebut kepada peserta. Mayoritas peserta menjawab lebih memilih TBC dan Hepatitis. Mungkin termasuk Anda tadi pembaca? Hehehe.

Padahal setelah ditelaah lagi, bukankah TBC lebih menular ketika kita berbicara langsung transmisi lewat udara ketika batuk, atau hepatitis A yang menular lewat sentuhan kulit yang transmisinya lewat keringat? Sedangkan HIV? Kita tertusuk jarum setelah injeksi aja udah ketakutan setengah mati? Bukannya HIV menular lewat darah? Nah jika tertusuk apakah sampai menembus pembuluh darah? Mungkin iya, tapi sebagian besar hanya mencapai lapisan dermis dan resikonya hanya berkisar antara 1-2%. Begitu besar kepanikan yang ditimbulkan dibanding setelah melakukan kontak fisik dengan hepatitis A. Beda ketika kita berinteraksi dengan tenangnya pada penderita TBC. Bukan bersikap mendiskriminasikan ketiga penyakit ini, tapi sebagai bahan perbandingan saja jika kalian menganggap HIV lebih berbahaya daripada TBC dan Hepatitis. Iya pasti jawaban sebagian orang HIV belum ada obatnya, tapi TBC dan hepatitis sudah ada. Padahal sebagai tenaga kesehatan sudah diajarkan pertolongan pertama ketika tertusuk jarum dengan mengeluarkan darah sedikit lalu konsumsi obat profilaksis sebelum dilakukan screening.

HIV memang belum ada obatnya, tapi ada terapi HIV yang sekarang sudah beredar luas, ARV namanya. Jadi bukan berarti pasutri (pasangan suami istri) yang salah satunya menderita HIV tidak boleh melakukan hubungan seksual. Boleh tapi ASAL si penderita mengkonsumsi ARV rutin, tes viral load dan kadar CD4 dalam tubuh.

Dan, salah satunya jalan persalinan adalah dengan operasi sectio cesarea untuk menghindari kemungkinan terburuk penularan. Banyak anjuran untuk tidak memberikan ASI pada anak jika ibu menderita penyakit HIV, hal itu masih diperdebatkan. Di Indonesia sendiri melarang ibu dengan HIV melakukan pemberian ASI pada anak, padahal manfaat ASI yang kita ketahui banyak dan baik sekali. WHO sendiri mengatakan memperbolehkan pemberian ASI dengan syarat tidak terjadi pelecetan di sekitar payudara karena kuncinya dari awal bahwa penularan melalui darah.

Jadi intinya STIGMA! Stigma yang beredar sudah terlanjur negatif dan stigma itu yang menakuti diri kita sendiri.

So, free our mind guys and be smart.

Mereka dengan HIV juga tidak berharap terkena penyakit yang katanya mematikan dan tidak ada harapan untuk hidup lagi. Tapi kembali lagi di setiap musibah ada hikmah, dan di setiap penyakit ada obatnya. Jauhi penyakitnya bukan orangnya.

Support 112 ( World AIDS Day)

KM 104 Tol Cipularang.

-301116-

-GYN-

*Tulisan ini dibuat di atas bis jurusan Jakarta, setelah penulis berbagi tentang stigma sosial di Garut.

1221 Total Views 9 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +