Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +

Love our website? Signup to our list to keep current on the awesome stuff we’re doing.

Sejarah Perjalanan Rumah Kesadaran Sampai Bertransformasi Menjadi Madani

(Wawancara Eksklusif dengan Ustadz Darmawan, SAg, Pendiri Yayasan Madani Mental Health Care Foundation, Jakarta)

 Perjuangan melawan narkoba selalu akan selalu kalah jika ia hanya berupa kata-kata. Beribu jargon hanya omong kosong belaka jika pejuang anti narkoba hanya memperalat para pecandu narkoba dan keluarganya sebagai bahan mereka untuk terus menambah pundi-pundi rupiah.

Perjuangan Ust. Darmawan (yang akrab disapa UsDar) bersama Rumah Kesadaran yang kemudian bertransformasi menjadi Madani adalah perjuangan sepi. Perjuangan tanpa gembar-gembor media mainstream. Perjuangan yang dirintis tanpa uluran tangan Pemerintah yang sebenarnya lebih berkewajiban melakukan perang dengan narkoba.

Tanpa banyak jargon. Tanpa banyak kata namun dengan beribu kesusahan dan duka yang UsDar dan Komunitas Madani alami dalam perang melawan candu narkoba sudah beliau jalani sejak sekitar tahun 1996 hingga kini.

Untuk menangkap semangat yang tak kunjung padam itu. Sekaligus untuk belajar dari perjalanan sejarah Madani, Mohamad Istihori dari Madani Press (MaPress) melakukan wawancara ekskusif melalui voice note WA pada Ahad, 12 Juli 2020 pukul 08.00 WIB. Berikut petikannya:

Bagaimana sejarah awalnya berdiri Madani?

Wah luar biasa nih. Kalau kita bicara sejarah awal berdirinya Madani. Sekitar tahun 1996-an saya bergabung bersama Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari, Psikiater di Pusat Rehabilitasi terbesar se-Asia Tenggara.

Dari 1996 sampai 1999, saya keluar. Saya berpikir jumlah para pecandu narkoba berkurang. Ternyata semakin banyak korbannya. Sejarah berdirinya dimulai dari berdatangannya para mantan pasien Prof. Dadang.

Kebetulan juga mereka adalah para mantan pasien dari murid gue tahun 1999. Satu per satu mereka berdatangan. Mulanya mereka curhat dan berkeluh kesah. Mereka merasa kesulitan untuk melepaskan diri dari narkoba. Mereka menyadari sebenarnya akan sangat kesulitan jika sendirian dalam proses pemulihan.

Mereka merasa membutuhkan bantuan, rangkulan, dan dukungan. Mereka memilih gue sebagai tempat untuk bisa memberikan solusi yang terbaik untuk diri mereka. Setelah itu satu, dua, dan tiga orang mulai tinggal di tempat gue.

Mereka sharing. Kita diskusi. Sampai pada akhirnya dari mereka sendirilah yang menyatakan mau tinggal dan hidup dengan gue beserta keluarga. Sampai akhirnya, dari mulut ke mulut para Junky (para pengguna narkoba) mereka mendapatkan informasi tentang rumah gue. Mereka pun berdatangan. Tanpa diundang. Tanpa ada iklan atau promosi apapun.

Mereka juga minta dibantu untuk bisa dipulihkan dan diobati sehingga bisa kembali beraktivitas seperti sediakala. Tak sedikit juga dari mereka yang memiliki motivasi untuk memperdalam agama sebagai bekal dan benteng yang paling kuat untuk bisa menghindari gejala dan dampak buruk narkoba. Intinya mereka ingin berhenti memakai narkoba.

Mulai dari satu orang. Bertambah langsung dua orang. Jadi tiga pasien dan seterusnya. Sampai akhirnya gue keteteran (kuwalahan). Karena awalnya di satu rumah hanya tersedia satu kamar dan satu ruang tamu sudah penuh semua. Subhaanallah, orang tua gue men-support.

Awalnya sih gue agak ragu karena tidak memiliki tempat dan fasilitas yang memadai sebagai sebuah panti rehabilitasi. Tapi kok mereka tiba-tiba mau tinggal di sini.

Nah, itulah orang tua gue yang sangat berperan. Terutama Almarhumah Nyokap yang mendukung gue yang pada saat itu gue hampir dan nyaris tidak memiliki waktu untuk mengurus mereka.

Tiga hari setelah gue menyatakan keluar dari Pondok Pesantren Rehabilitasi Narkoba Darul Ihsan di Cariu, Jonggol, Jawa Barat yang terbesar se-Asia Tenggara gue banyak menerima panggilan. Umumnya gue diminta untuk menjadi tenaga ahli spiritual atau bimbingan rohani (Binroh). Gue membina sekitar empat rumah sakit jiwa (RSJ) dan delapan panti rehabilitasi.

Saat di rumah ada tiga sampai empat pasien, gue merasa kebingungan untuk mengatur jadwal kerja. Nyokap kemudian berkata, ‘Kalo elu nggak mau ngurus, biar Enyak yang ngurus’.

Nyokap juga menawarkan sebuah kontrakan milik beliau yang kosong untuk dijadikan tempat pemulihan karena rumah gue sendiri sudah tidak mampu menampung mereka.

Ucapakan Nyokap yang kemudian kembali menyadarkan gue, ‘Mereka itu datang ke rumah Lu atas kesadaran sendiri. Semua hidup kita ini takdir Allah. Daun yang jatuh dari dahannya adalah takdir Allah.

Mereka datang untuk meminta tolong. Mereka meminta untuk diobati. Itu semua atas ketentuan Allah. Berarti Allah sudah memberikan petunjuk kepada mereka melalui perantara diri Lu. Kalau Lu nggak terima, Lu sama saja menolak takdir Allah yang sudah pasti baik untuk diri Lu dan kita semua.’

Setelah tahun 1999, satu per satu Junky berdatangan ke rumah gue. Mereka mendapatkan informasi tentang rumah gue dari mulut ke mulut. Sudah di atas empat pasien, gue akhirnya mulai mengurangi jadwal kegiatan keluar.

Jadwal memberikan bimbingan rohani di empat rumah sakit jiwa (RSJ) dan delapan panti rehabilitasi perlahan namun pasti gue kurangi intensitasnya. Sampai akhirnya, gue matengin lagi metode Prof. Dadang itu dengan metode yang memang harus kita kembangkan. Sehingga para pasien bisa tetap dan kembali sekolah, kuliah, atau bekerja namun kembali lagi ke rumah gue.

Keluarga mereka pun bisa merasa aman, damai, tersenyum, dan nyaman selama mereka berada di rumah gue. Apalagi setelah mereka melihat langsung perubahan positif yang dialami anak-anak mereka.

Dan, pada saat mulai booming (sudah mulai banyak) di kos-kosan gue, dulu namanya Rumah Kesadaran belum bernama Madani, gue mengajak tiga orang sahabat yang asli Betawi untuk bergabung. Mereka adalah Ust. Syarif, Ust. Latif, dan Ust. Badruddin.

Saat itu kita masih memakai sistem manajemen tradisional. Tidak memakai angka-angka dan hitungan ekonomi mainstrem. Semua kita kelola berdasarkan asas saling percaya dan amanah. Dan, alhamdulillah berkembang.”

Bagaimana sejarah awal mulanya Madani memiliki hubungan kerja sama dengan Prof. Dadang?

“Pada 2003, Prof. Dadang memiliki lima panti rehabilitasi di Jakarta setelah mengundurkan diri dari Panti Rehabilitasi Darul Ihsan. Dan, gue ikut mengajar di dalamnya. Semua bisa berdiri atas kerja sama Prof. Dadang dengan beberapa pengusaha.

Namun dalam perjalanannya semua panti rehabilitasi tersebut tidak berjalan dengan signifikan. Semua programnya berjalan dengan monoton dan hanya dijadikan ladang bisnis semata. Prof. Dadang pun kecewa dan memutuskan untuk menutup seluruh panti rehabilitasi tersebut.

Prof. Dadang akhirnya mengetahui secara langsung tentang keberadaan panti rehabilitasi yang ada di pondok gue yaitu Rumah Kesadaran, rumah Nyokap gue. Yang kala itu masih berupa kontrakan atau kos-kosan.

Saat Prof. bertanya, ‘Kamu punya panti rehab?’

Gue jawab, ‘Tidak.’

Jawaban tersebut gue berikan karena saat itu gue belum menganggap Rumah Kesadaran memiliki kelayakan dan kepantasan untuk dijuluki sebagai sebuah panti rehabilitasi.

Gue lebih menganggap itu hanya sebuah kontrakan atau kos-kosan. Mendengar jawaban tersebut Prof. tersenyum dan berkata, ‘Saya sudah tahu semua tentang Rumah Kesadaranmu dari salah satu keluarga pasien saya yang bekerja di Bea Cukai. Anaknya sudah empat tahun tinggal sama kamu dan sekarang lagi skripsi. Dan, yang satu lagi sedang kuliah di UI. Boleh nggak saya main ke tempat kamu?’

Wah, gue merasa seperti ketiban bulan saat itu. Sekelas Prof. Dadang Hawari yang namanya saat itu sampai saat ini memiliki nama yang sangat tenar dan terkenal di Indonesia bahkan di dunia dalam bidang pemulihan pasien narkoba. Kok mau berkunjung ke rumah gue. Ke rumah Enyak gue pada zaman itu.

Linangan air mata sangat nampak setelah berkunjung ke Rumah Kesadaran. Ia memeluk dan menepuk pundak gue seraya berkata, ‘Maafkan saya selama ini tidak pernah melihat gajah di depan mata karena terlalu sibuk memperhatikan semut yang berada di ujung sana.

Mulai hari ini jika kamu bersedia, Bismillah, kamu undang teman-temanmu untuk bertemu dengan saya di RS. MH. Thamrin untuk membicarakan lebih lanjut masalah rehabilitasi di rumah kamu ini.’ Kebetulan memang saat itu gue sedang mendapatkan tugas dari Prof. Dadang di RS. MH. Thamrin.

Dari situlah gue mengumpukan teman-teman dekat dan sepakat mendirikan panti rehabilitasi dengan nama Madani Home Care.”

Apa motivasi utama UsDar mendirikan Madani?

“Motivasi utamanya adalah rasa kepedulian, keprihatinan, dan tentu rasa kemanusiaan. Gue terpanggil melihat bagaimana banyaknya korban narkoba pada saat itu. Maka berdirilah Rumah Kesadaran yang pada akhirnya kini bernama Madani.”

Harapan UsDar terhadap Madani dalam kaitannya memulihkan para pecandu narkoba dan klien yang memiliki gangguan jiwa lainnya?

Harapan gue semoga Madani bisa terus bermanfaat dan berkontribusi seluas mungkin bagi siapapun dan di manapun para pecandu narkoba dan penderita gangguan jiwa.

Sehingga mereka dapat kembali kepada fitrahnya sebagai makhluk sosial, yang mampu saling mengenal, senantiasa saling peduli, dan berbagi satu sama lain. Madani harus menjadikan mereka memiliki kembali kemampuan untuk bisa melihat langsung kenyataan kehidupan saudaranya sendiri yang ada di sekitarnya.”

Bagaimana dengan filosofi Madani yang tidak hanya memperbaiki individu tapi juga peradaban?

“Kalau bicara filosofi Madani itu sama dengan motto hidup gue. Gue memiliki motto hidup yang ditanamkan betul oleh Almarhum Babe, H. Radi bin Arsyad. Babe selalu bilang, ‘Wan, jadilah orang yang berguna bagi makhluk lainnya.’

Makhluk lain ini artinya secara luas. Semua makhluk Allah dengan segala macam jenisnya. Terutama bagi manusia dan alam sekitarnya. Dan, juga yang selalu beliau ajarkan adalah suatu saat gue akan tumbuh menjadi orang yang dewasa.

Babe berharap gue bisa menjadi ikan di lautan. Mampu mengarungi samudra yang luas. Harus kuat dan sabar dalam menghadapi gelombang, angin besar, dan lain sebagainya tapi Lu jangan pernah kalah.

Kalau Lu sampai kalah, Lu hanya akan menjadi ikan asin yang terpinggirkan dan berharga murah. Jadilah ikan yang tangguh. Ikan yang tidak bisa dikalahkan oleh asinnya air laut sehingga Lu bisa tetap mengarungi samudra yang begitu luas dan dalam.”

Kenapa Madani memilih tempat yang sekarang, bukan di tempat yang lain?

“Ini merupakan sebuah hal yang unik. Berdasarkan dari hasil riset gue dan juga dari hasil diskusi gue yang berasal dari obrolan bareng teman-teman di tempat nongkrong selama gue bertugas di Pondok Pesantren Rehabilitasi Darul Ihsan di Cariu, Jonggol, Jawa Barat menunjukkan data bahwa pada zaman itu hampir 99% pengguna narkoba adalah anak-anak orang kaya yang tinggal di kompleks perumahan.

Gue sendiri jadi bertanya, ‘Ada apa dengan anak kompleks?’ Seiring waktu berjalan, ilmu psikologi berkembang semakin dahsyat dan gue menemukan ternyata jawabannya ada dalam Al Quran.

Kita adalah makhluk sosial. Makhluk yang bermasyarakat. Makhluk yang berbagi dan lain sebagainya. Dan, subhaanallah, Allah menakdirkan Madani terletak di tengah sebuah perkampungan.

Khususnya berada di tengah keluarga gue yang multikultural. Maksudnya, kami memang Orang Betawi asli tapi menerima dan memiliki konsumen dalam hal pelayanan di kontrakan gue yang mereka berasal dari berbagai macam suku bangsa. Kami sekeluarga sama sekali tidak berpikir dan bertindak rasis.

Itulah yang gue maksud dalam Al Quran bahwa kita semua harus bisa bersosialisasi dan berinteraksi dengan siapapun. Itu semua ternyata menjawab pertanyaan dan kegelisahan gue yang sering heran dan bertanya sendiri, ‘Mengapa pada umumnya para pengguna narkoba berasal dari daerah kompleks perumahan yang bersifat individu. Terpisah dari kehidupan sosial masyarakat sekitarnya. Mereka hidup tidak saling mengenal dengan tetangga di sebelah rumahnya. Kurang sosialisasi. Kurang psikososial.’”

Terima kasih banyak atas kesediaan UsDar untuk menjawab beberapa pertanyaan MaPress. Semoga Allah membalas dengan kebaikan, keberkahan, dan rahmat yang melimpah.

(Jakarta, Ahad, 12 Juli 2020, 08.00 WIB)

764 Total Views 9 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +