Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +

Love our website? Signup to our list to keep current on the awesome stuff we’re doing.

Sebuah Catatan Konselor

Oleh : Ginanjar Maulana

Adalah sebuah catatan diary seorang konselor di Madani ;

Hari ini, 01/04/09 @ Goedang Futsal Ridho Slank..

Gue mengawali awal April di 2009 ini dengan berfutsal ria bersama pasien-pasien dual diagnosis. Teman teman terhebat yang pernah gue temuin, kenapa hebat, yup karena mereka mampu bertahan dan berjuang melawan “rasa” yang sangat mengganggu mereka, baik bisikan yang terasa nyata di telinga mereka, atau perasaan aneh yang juga terasa sangat nyata, atau penglihatan mereka yang melihat halhal indah atau seram yang setia menemani mereka setiap saat.

Mereka berjuang melawan sakit yang tidak semua orang paham. Hebatnya mereka berlatar belakang orang-orang hebat dan jenius (ada mantan direktur perusahaan, staf menteri, pejabat, ilmuwan, mahasiswa terbaik di  sebuah universitas paling keren di negeri ini, akuntan, pelajar jenius baik tingkat SMP maupun SMU ), saudaraku, dual diagnosis tidak mengenal latar belakang. Mereka butuh kita. Mereka butuh dipahami, bukan dinasehati, apalagi dipasung.

Kembali ke lapangan, di tengah pertandingan yang semakin seru, mereka asyik nendang sendiri, tertawa, umpan tembok, gue nggak dioper oper!! Emosi gue!! Oper donk!! Gue marah,, dibales dengan senyuman manis. Gue tendang bola ke badannya, gue hajar kakinya. Kalo elu yang normal pasti MARAH dan SEWOT, TAPI..Mereka enggak bro! Mereka TERSENYUM MANIS! LUAR BIASA!! LUE, GUE, APA MEREKA YANG SAKIT ??”

#

10 tahun lalu, catatan konselor tersebut sebenarnya mengingatkan kita betapa banyak orang dengan gangguan dual diagnosis berada di sekitar kita, salah satunya dimungkinkan disebabkan oleh penyalahgunaan narkoba yang semakin massif.

Pergeseran tren jenis narkoba di Indonesia, dari yang awalnya ramai Morfin (Putaw) kemudian bergeser menjadi banyak digunakannya Amfhetamine Type Stimulant (ATS) yang lebih nge-tren disebut Shabu, lalu berkembang lagi dengan ramainya Tembakau Sintetis dengan jenis nama jalanan, Gorilla, Nataraja, dan lain lain. Kedua jenis narkoba terakhir banyak memicu halusinasi baik setelah pemakaian maupun saat pemakaian.

Lalu apa itu Dual Diagnosis?

Dikutip dari situs kemenkes, http://yankes.kemkes.go.id  dr. Ratna Dewi Pangestuti, M.Sc.,Sp.KJ, seorang Psikater RSJS Magelang, menyatakan dual diagnosis atau dual disorders adalah istilah yang dipergunakan untuk menggambarkan individu yang mengalami penyakit mental berat dan gangguan penggunaan zat. Dalam istilah yang lain juga dikenal dengan co-occuring disorder, dual disorder, atau dual trouble.

Dalam arti sempit, dual diagnosis memiliki arti bahwa seorang individu memiliki dua penyakit yang terpisah tetapi saling berkaitan. Diagnosis ini terdiri dari diagnosis psikiatri dan diagnosis ketergantungan zat yang dapat meliputi alkohol maupun obat. Penyalahgunaan zat dapat terjadi terlebih dahulu kemudian diikuti gangguan mental, atau sebaliknya, gangguan mental dapat terjadi terlebih dahulu kemudian diikuti oleh perilaku penyalahgunaan zat.

Penyakit mental berat yang dimaksud adalah gangguan psikiatrik dengan penurunan yang berat dan menetap pada fungsi psikososial seseorang, termasuk kemampuan untuk bekerja, mempertahankan hubungan, dan perawatan diri.

Penyakit-penyakit ini biasanya meliputi gejala psikotik seperti halusinasi atau waham. Termasuk yang paling sering adalah skizofrenia, gangguan skizoafektif, gangguan bipolar, dan depresi mayor dengan gejala psikotik, gejala lain yang juga bisa berat, seperti gangguan cemas (seperti post traumatic stress disoder), dan gangguan kepribadian (seperti gangguan kepribadian ambang).

Penyalahgunaan zat berhubungan dengan akibat negatif yang luas termasuk relaps dan rehospitalisasi, kekerasan, bunuh diri, problem interpersonal, dan biaya rata-rata yang tinggi. Sebuah dual diagnosis diberikan ketika seorang individu menderita baik ketergantungan zat dan gangguan mental. Masing-masing penyakit memiliki gejala yang dapat mengganggu fungsi pekerjaan dan sosial pasien.

Bukan hanya individu tersebut memiliki dua penyakit tetapi kedua penyakit ini pun berinteraksi satu dengan lainnya. Penyakit yang satu dapat mengeksarsebasi penyakit yang lain dan dapat menyebabkan relaps. Bila penyakit terjadi bersamaan, gejala yang timbul dapat bersamaan bahkan saling menutupi sehingga menyulitkan dalam mendiagnosis dan menterapi pasien dengan dual diagnosis.

Kondisi dual diagnosis pada diri seseorang, membuat dia memiliki kondisi psikologi yang khusus sehingga tentu memerlukan penanganan yang khusus pula. Penanganan yang diberikan meliputi penanganan obat psikiatrik dan penanganan perilaku (psikososialnya). Jika para korban penyalahguna NAPZA lain melakukan terapi perubahan perilaku, maka klien dual diagnosis melakukan terapi obat dan terapi perubahan perilaku.

Prinsip dalam Mendiagnosis Pasien dengan Dual Diagnosis

Dalam proses mendiagnosis seorang pasien harus dievaluasi akan kemungkinan terjadinya suatu gangguan jiwa dan gangguan ketergantungan zat. Selain itu perlu dilakukan suatu wawancara dan pemeriksaan berkala sehubungan dengan gejala psikiatrik maupun gejala ketergantungan zat untuk melengkapi evaluasi diagnosis.

Ada beberapa prinsip dalam mendiagnosis dan terapi pasien dengan dual disorder, yaitu :

  1. Stabilisasi gejala psikiatrik akut dan atau gejala ketergantungan zat akut.
  2. Perlu dilakukan observasi pada pasien ketergantungan zat untuk bebas dari zat selama 3-6 minggu sebelum membuat diagnosis psikiatrik dan merencanakan terapi jangka panjang.
  3. Obati kedua penyakit dengan efektif, karena bila tidak maka tidak akan membawa perbaikan yang bermakna. Terapi harus bersifat suportif dan tidak menghakimi.
  4. Konseling adiksi dan atau Alcohol/Narcotic Anonimoussendiri merupakan terapi yang tidak efektif untuk pasien dual disorder bila dikerjakan sendiri. Sikap konfrontasi dan kaku pada pasien dengan dual disorder hendaknya dihindari untuk membuat pasien berhenti menggunakan obat/zat pada awal terapi.
  5. Frekuensi terapi sebaiknya dilakukan 2-3 kali seminggu sampai fase stabilisasi untuk kedua penyakit tercapai.
  6. Berikan terapi dengan satu klinisi atau dengan satu program, karena bila diobati dengan dua terapis yang berbeda, akan dibutuhkan diskusi antar terapis dan pasien dapat memanipulasi terapis.
  7. Relaps lebih mudah terjadi pada pasien dengan dual disorder, tetapi bukan berarti terapi yang sebelumnya gagal.
  8. Hati-hati akan adanya reaksi transferens dan countertransferens. Pasien biasanya menginginkan kesembuhan atau terapi yang diberikan akhirnya gagal.
  9. Berikan dorongan penuh pada pasien.

Sumber http://yankes.kemkes.go.id/read-dual-diagnosa-dual-recovery-6793.html.

Penderita Narkoba/NAZA dengan gangguan penyerta atau dual diagnosis dapat dipulihkan dan dicegah kekambuhannya dengan pendekatan bio-psiko-sosial-spiritual – BPSS (WHO, 1984; APA, 1992; WPA, 1994).

MADANI Mental Health Care adalah sarana rehabilitasi korban penyalahgunaan Narkoba dan Penderita Skizofrenia yang menggunakan pembinaan berbasis masyarakat (community based) dengan pendekatan Bio, Psiko, Sosial, dan Spiritual (BPSS). Didirikan atas dasar kesadaran dan tanggung jawab, kami memilih untuk menggunakan Metode Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari, Psikiater sebagai metode mutakhir yang menggunakan pendekatan holistik BPSS.

Dalam menjalankan proses rehabilitasinya Madani sudah sangat sesuai dengan Prinsip prinsip dan pedoman rehabilitasi yang dikeluarkan oleh UNODC, ada 7 prinsip rehabilitasi, antara lain :

  1. Terapi harus tersedia, mudah diakses, menarik, dan sesuai kebutuhan. (treatment must be available, accessible, attractive, and appropriate for needs).
  2. Adanya standar etik dalam layanan terapi (ensuring ethical standards in treatment service).
  3. Mempromosikan terapi untuk gangguan penggunaan narkoba melalui koordinasi yang efektif antara sistem peradilan pidana, kesehatan,dan layanan sosial (promoting treatment of drug use disorders by effective coordination between the criminal justice system and health and social services).
  4. Terapi harus berbasis bukti (berdasarkan kajian ilmiah) dan mengakomodasi kebutuhan spesifik individu dengan gangguan penggunaan narkoba (treatment must be based on scientific evidence and respond to specific needs of individuals with drug use disorders).
  5. Mengakomodasi kebutuhan dan kondisi populasi khusus (responding to the needs of special sub-groups and conditions).
  6. Memastikan tata kelola yang baik dalam layanan terapi dan program untuk gangguan penggunaan narkoba (ensuring good clinical governance of treatment services and programs for drug use disorders).
  7. Kebijakan, layanan, prosedur, pendekatan, dan jejaring yang terintegrasi harus dimonitor dan dievaluasi secara berkala (integrated treatment policies, services, procedures, approaches and linkages must be constantly monitored and evaluated).

Dalam rangka memenuhi kebutuhan korban narkoba /napza yang kompleks, termasuk dual diagnosis, sebuah lembaga rehabilitasi diharapkan memiliki layanan yang komperehensif, menyeluruh.

Terapi dan rehabilitasi bagi pecandu, penyalah guna, dan korban penyalahgunaan narkoba merupakan suatu proses yang panjang di mana banyak individu membutuhkan beragam intervensi dan monitoring yang berkala, sehingga memerlukan penanganan yang bersifat komprehensif (NIDA, 2012), sebagaimana gambaran di bawah ini.

Gambar 1. Komponen Layanan Terapi dan Rehabilitasi Komprehensif

The best treatment programs provide a combination of therapies and other services to meet the needs of the individual patient.(NIDA, 2012)

Layanan medis (dokter, psikiater) serta psikologis dan psikososial bahkan vokasional diharapkan tersedia dan mudah diakses.

Madani sebagai sebuah lembaga rehabilitasi yang komperehensif dengan metode holistik BPSS-nya telah teruji menyediakan layanan layanan tersebut, memiliki psikiater, 1 neurolog, 2 psikolog, dan 15 konselor adiksi, beserta beberapa instruktur lain sebagai penunjang membuat para pasien atau klien korban narkoba beserta keluarga diharapakan terpenuhi kebutuhan dan harapannya dalam proses pemulihan yang berkelanjutan.

Datang dan kunjungi Madani Mental Health Care di Alamat Jl. Pancawarga III RT. 003/04 No. 34 Cipinang Besar Selatan Jatinegara Jakarta Timur 13410 (021) 8578228 –  0816  1342 931. Website : madanionline.org.

#Artikel Juara III Lomba Karya Tulis Milad Madani XX 2019.

267 Total Views 9 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +