S. Evangeline I. Suaidy: Adiksi Game Online sama dengan Narkoba

adiksi goPesatnya perkembangan teknologi informasi membuat game online bukan lagi menjadi barang asing. Bukan hanya bagi orang dewasa, tetapi juga bagi anak-anak. Dengan menjamurnya warung internet (warnet) hingga ke pelosok, permainan dunia maya ini juga merambah hingga ke pedesaan. Tak hanya lewat Warnet, game online pun kini gampang didapat lewat gadget atau ponsel.

Pada satu sisi, kemajuan ini adalah hal yang positif. “Games adalah sesuatu yang menyenangkan, karena bisa melepaskan ketegangan, kebosanan, untuk hiburan, meningkatkan keterampilan main games, hingga merasa berkuasa atau jago dalam game tersebut,” kata Psikolog remaja, S. Evangeline I. Suaidy kepada politikindonesia.com, di Jakarta, Senin (03/08).

Evangeline mengatakan, semua individu, termasuk anak-anak membutuhkan kesenangan. Kesenangan itu bisa didapat dengan berbagai cara. Entah itu dengan jalan-jalan, makan makanan kesukaan, mendengarkan musik atau dengan relaksasi. Bermain game, termasuk salah satu cara untuk mencapai kesenangan.

Ia mengatakan, ketika seseorang merasa sedang, maka tubuhnya akan melepaskan hormon dopamin. Dopamin adalah hormon atau zat kimia yang terkait hubungannya dengan kesenangan.

Nah, hormon dopamin ini ada pula sisi negatifnya. Jika efek kesenangan itu tidak dapat dikontrol dengan baik, maka stimulus dari Dopamin tersebut dapat mengakibatkan adiksi, atau kecanduan. Dampaknya sama seperti seseorang yang kecanduan narkotika.

Jangan heran, jika ada orang yang mampu bermain game online hingga berjam-jam tanpa berhenti. Bahkan, dalam beberapa kasus di luar negeri ada orang yang meninggal dunia karena bermain game online hingga puluhan jam. “Adiksi narkoba sama dengan game online. Karena game itu ada di rumah atau ponsel masing-masing,” ujar Dosen dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta ini.

Kepada Elva Setyaningrum dari politikidonesia.com, psikolog dari Yayasan Kita & Buah Hati ini menjelaskan pendapatnya mengenai perkembangan game online. Mengapa seorang anak bisa kecanduan game online. Apa alasannya bahaya game online sama dengan narkoba. Lalu, apa positif dan negatifnya buat pertumbuhan dan perkembangan anak yang kecanduan tersebut. Berikut hasil wawancaranya:

Bagaimana pendapat Anda tentang berkembangnya games online yang makin menggeser permainan konvensional saat ini?

Permainan konvensional seperti monopoli, ular tangga, catur, karambol, atau kwartet, saat ini memang mulai tergeser oleh games online. Akan tetapi, dua jenis permainan ini adalah hal yang berbeda sama sekali. Baik dari cara memainkannya ataupun terhadap dampak yang ditimbulkannya.

Pada permainan konvensional, ada situasi interaksi, situasi sosial langsung dengan teman sebagai lawan main, misalnya karambol ada teman yang mainnya jago, licik, atau main curang. Di game online mereka tidak mendapatkannya.

Dalam permainan konvensional, ada individu merasa gagal, terpuruk, tapi ada yang merasa senang dan puas. Hal itu wajar, karena anak-anak bisa mengasah keterampilan sosial dan interaksi tatap muka. Sedangkan anak yang menyukai game online memiliki keterampilan sosial lemah dan susah mempertahankan interaksi tatap muka. Jika hal ini berlanjut hingga dewasa akan memengaruhi hubungan interpersonal dengan orang lain.

Kalau anak dihina, diledekin, disalahin saat bermain di permainan konvensional, itu memang bullying, tetapi tekanan sosial di luar sana keras. Jadi akan menggembleng anak lebih tangguh, dan bisa mengatasi hinaan atau ledekan.

Mengapa Anda menyatakan kecanduan game online sama dengan kecanduan narkoba?

Jika biasanya seseorang main game online hanya main satu jam, setelah beberapa minggu atau bulan dia merasa kurang jika bermain satu jam, butuh waktu lebih lama lagi. Buat orang adiksi game, game itu sama pentingnya membuat dengan membuat pekerjaan rumah dan sekolah.

Bahayanya lagi, kalau anak sudah mulai mencuri, bohong, dan hanya ingin bermain game, anak tersebut sudah masuk kategori adiksi game. Jika terjadi hal demikian, hendaknya orangtua membangun komunikasi dengan anak. Jika tidak bisa melakukannya sendiri, minta bantuan ke ahli, misal psikolog atau konselor.

Apa yang membuat anak-anak ketagihan main game online?

Awalnya mungkin diperkenalkan oleh orangtua dengan alasan perkembangan teknologi. Selain itu, ada kecenderungan ikut-ikutan. Karena game bisa menghilangkan ketegangan, kebosanan dan menjadi hiburan yang menyenangkan, khususnya buat anak-anak.

Biasanya, anak-anak yang gemar bermain game online mukanya akan terlihat tegang. Terlebih jika orangtua memperkenalkan game online dengan  penggunaan bahasa Inggris, bisa meningkatkan praktek penggunaan motorik halus dan kemampuan spasialnya hingga membantu mengembangkan teknik analisa dan strategi.

Apakah game online bisa mencerdaskan anak?

Begitu banyak cara untuk mencerdaskan anak, salah satu dengan games online. Tapi, harus diingat, tidak semuanya game tersebut mencerdaskan anak. Bahkan ada yang bisa mengurangi perkembangan otaknya. Orang tua harus selektif dalam hal ini.

Sebagai orangtua cerdas, kita harus bisa memperkenalkan games yang cerdas bagi anak. Jangan terpaku pada satu jenis games saja. Orangtua bisa mencari sendiri dampak negatif dari games tersebut. Karena anak tidak bisa membedakan mana yang sesungguhnya. Misalnya permainan menyetir mobil, sebenarnya banyak dampak negatif dari games itu.

Bisa lebih detail soal dampak negatif game online?

Jika si anak ketagihan sebuah game online, itu sudah pasti berdampak negatif.  Apalagi jika anak itu memainkanya di warnet yang otomatis tanpa pengawasan. Selain menghamburkan uang sia-sia, mereka akan lupa waktu. Anak yang kecanduan ini terkadang lebih memilih untuk tidak sekolah (bolos) hanya untuk bermain game online.

Game online bisa membuat mereka lupa  waktu untuk makan, belajar, beribadah, waktu untuk pulang ,dan lainnya. Terlalu sering berhadapan dengan monitor secara mata telanjang juga dapat menimbulkan kerusakan pada mata sang anak.

Sedangkan pengaruh positif dari game online?

Kecerdasan mereka bertambah, karena bisa melatih pemecahan masalah dan penggunaan logika. Mereka dapat menguasai komputer lebih baik karena diperkenalkan pada teknologi informasi. Selain itu, dengan bermain game online secara langsung anak dapat mengerti bahasa Inggris yang dipergunakan pada gamenya.

Tak jarang mereka juga mesti mengartikan sendiri kata–kata yang mereka tidak ketahui. Mereka juga bisa menambah teman, walaupun hanya didunia maya sehingga meningkatkan kemampuan sosialnya. Mereka bisa menggunakan imajinasi untuk menyeimbangkan skenario dalam permainan tersebut, seperti realita.

Bahkan, banyak games yang mengajarkan anak-anak nilai ekonomi lewat mendapatkan uang dan menukarkan uang dengan objek yang bisa memfasilitasi mainan tersebut. Game online juga bisa memberikan kesempatan kepada orangtua dan anak untuk main bersama.

Bagaimana dengan permainan yang ada di arena bermain di mal, taman atau sekolah?

Bermain merupakan sesuatu yang menyenangkan, apalagi orangtua mendukung kegiatan tersebut. Memang saat ini tak sedikit mal yang menawarkan arena bermain bagi anak. Tetapi orangtua juga harus mengawasi anak bermain, karena tidak semua arena ada pengawasnya. Di sisi lain biarkan anak memilih atau melakukan permainan apa saja di arena tersebut. Jika masih perlu pengawasan, harus didampingi, jangan dibiarkan bermain sendiri. Peran orangtua dalam mendampingi anak bermain dengan cara mengenalkan permainan yang mengandung minat dan bakat, karena lewat permainan tersebut kita orangtua bisa mengenalkan berbagai macam profesi.

Misal pilot, dokter, polisi, pemadam kebakaran, pembuat kue, dan lain-lain. Hal itu akan menambah pengetahuan anak tentang profesi, imaji, dan memiliki cita-cita. Setelah bermain, kita tanya anaknya, seperti apa yang menarik dari permainan tadi. Jangan cuma nanya ‘seneng nggak tadi?’, anak jawabnya pasti senang.

Sumber: Politikindonesia, 03/09/2012.

418 total views, 1 views today