Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +

Love our website? Signup to our list to keep current on the awesome stuff we’re doing.

Psikoreligi dan Trauma Bencana

Oleh : Julizar Firmansyah, S. Sos., M. Hum. *)

Bencana yang banyak melanda Indonesia merupakan peringatan Allah SWT.

Suatu musibah dapat merupakan peringatan, cobaan, dan hukuman dari Allah SWT. Musibah tidak akan terjadi kalau tidak ada kesalahan dan dosa manusia yang sudah melampaui batas.

Indonesia sejak ribuan tahun yang lalu terletak di daerah rawan bencana, misalnya terdapat lempengan-lempengan di bawah laut Samudera Hindia sepanjang pantai pulau Sumatera dan Jawa. Selain itu terdapat ratusan gunung berapi yang masih aktif yang sewaktu-waktu dapat menimbulkan bencana.

Sebagian orang berpendapat bahwa bencana alam tidak ada hubungannya dengan dosa manusia. Anehnya orang-orang itu mengaku beragama. Mereka lupa, alam semesta termasuk manusia adalah ciptaan Allah SWT.

Allah SWT berfirman, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar” (QS Ar-Rum [30]: 41).

Mengapa bumi yang semula tenang tiba-tiba menimbulkan bencana? Pasti ada sebabnya. Selain sebab-sebab alamiah, bersamaan waktunya dengan ulah manusia yang bergelimpangan dengan kesalahan dan dosa, sehingga Allah memberi peringatan.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itu sendirilah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri” (QS Yunus [10]: 44).

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya peperangan terbesar (di muka bumi ini) adalah peperangan melawan hawa nafsunya sendiri.” (HR Thabrani dan Baihaqi).

Bencana dapat juga terjadi karena meluasnya perzinaan dan riba. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Apabila perzinaan dan riba telah melanda suatu negeri, maka mereka (penghuninya) sudah menghalalkan atas mereka sendiri siksaan Allah” (HR Ath-Thabrani dan Al-Hakim).

Prof. Dadang menyebut beberapa contoh yang menunjukkan perilaku manusia tidak berada di jalan yang benar, yang dilakukan secara nasional. Meliputi (a) Penegakan hukum. (b) Korupsi. (c) Penegakan moral. (d) Penyalahgunaan NAZA. (e) Penanggulangan HIV/AIDS. (f) Perjudian. (g) Disintegrasi dan disorganisasi masyarakat. (h) Aborsi. (i) Pendusta agama. (j) Jeritan Pahlawan Devisa (TKI/TKW). (k) Pengelolaan ibadah haji. (l)Penyimpangan UUD 1945. (m) Perilaku anggota dewan.

Berbagai dosa dan kesalahan itu disebabkan pengelolanya di eksekutif, legislatif, dan yudikatif, aparat dan sipil, tidak amanah dalam mengemban tugas yang dipercayakan rakyat. Pengelolanya tidak the right man in the right place.

Ketidak-amanahan tersebut mengakibatkan natural disaster dan human disaster. Allah SWT berfirman, “Dan apabila Kami menghendaki untuk membinasakan suatu negeri, Kami menyuruh orang-orang yang hidup mewah (supaya taat kepada Allah) lalu mereka berbuat kedurhakaan dalam negeri itu, maka benarlah berlaku atasnya ketentuan Allah (siksa-Nya), lalu Kami menghancurkan sehancur-hancurnya.” (QS Al-Isra [17]: 16).

Azab Modernisasi
Mereka lupa bahwa di balik modernisasi ada gejala the agony of modernization, yaitu azab sengsara karena modernisasi. Gejalanya berupa ketegangan psikososial itu dapat disaksikan masyarakat, yaitu semakin meningkatnya angka kriminalitas. Gejala psikososial tadi karena semakin modern suatu masyarakat semakin bertambah intensitas dan eksistensitas dari berbagai disorganisasi dan disintegrasi social di masyarakat.

Masalah utama masyarakat modern adalah disintegrasi dari masyarakat tradisional karena unsur-unsurnya mengalami perubahan dengan kecepatan yang berbeda. Kebenaran-kebenaran abadi sebagaimana terkandung dalam ajaran agama, disisihkan karena dianggap kuno, sehingga masyarakat hanya berpegang pada materi dan kepentingan jangka pendek belaka.

Dalam masyarakat modern rongrongan terhadap agama, moral, budi pekerti, warisan budaya lama dan tradisional telah menimbulkan ketidakpastian fundamental di bidang hukum, moral, norma, nilai, dan etika kehidupan. Berbagai perubahan yang cepat sebagai akibat modernisasi, telah menyebabkan warga kehilangan identitas diri.

Trauma Bencana
Umumnya masyarakat dan pemerintah dalam menyikapi korban bencana lebih menitikberatkan pada aspek fisik. Misalnya bantuan pengobatan, sandang, pangan, dan papan. Aspek kejiwaan/mental/psikologik yang mengarah pada gangguan stress pasca-trauma kurang diperhatikan.

Stres pasca-trauma itu sendiri bila tidak ditangani secara sungguh-sungguh dan professional dapat berlanjut pada gangguan jiwa seperti kecemasan, depresi, psikosis (gangguan jiwa berat) bahkan sampai bunuh diri.

Orang yang selamat dari peristiwa-peristiwa stressor traumatis, dapat memperlihatkan gejala-gejala klinis stres pasca-trauma yaitu:

  1. Terdapat stressor traumatis yang berat dan jelas.
  2. Penghayatan yang berulang dari trauma itu yang dibuktikan dengan terdapatnya paling sedikit satu dari tiga hal berikut: (a) Ingatan berulang dan menonjol tentang peristiwa itu. (b) Mimpi-mimpi berulang tentang peristiwa itu. (c) Timbulnya secara tiba-tiba perilaku atau perasaan, seolah-olah peristiwa traumatikitu sedang timbul kembali.
  3. Penumpulan respon terhadap dunia luar atau berkurangnya hubungan dengan dunia luar, yang mulai beberapa waktu sesudah trauma.
  4. Minimal ada dua dari enam gejala berikut ini, yang tidak ada sebelum terjadinya peristiwa sensor traumatic itu, yaitu: (a) Waspada atau reaksi terkejut berlebihan. (b) Gangguan tidur disertai mimpi-mimpi menggelisahkan. (c) Perasaan bersalah karena lolos dari maut sedangkan orang lain tidak, atau merasa bersalah tentang perbuatan yang dilakukan agar tetap hidup. (d) Hendaya (impairment) daya ingat atau kesukaran konsentrasi. (e) Menghindari dari aktivitas yang membangkitkan ingatan tentang peristiwa traumatik (f) Meningkatnya gejala-gejala bila dihadapkan pada peristiwa yang menyimbolisasikan atau yang menyerupai peristiwa traumatikitu.

Untuk menyikapi dan menolong korban yang mengalami gangguan jiwa stress pasca-trauma itu hendaknya disediakan fasilitas-fasilitas terapi medik-psikiatrik dan rehabilitasi selain dibentuk Crisis Centers.

Dalam menghadapi bencana kecuali ikhtiar diperlukan juga kesabaran. Sesuai dengan firman Allah, ”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah [2]: 155).

Judul : Pendekatan Psikoreligi pada Trauma Bencana
Penulis : Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari, Psikiater
Penerbit : Badan Penerbit FKUI, Jakarta, 2011
Isi : xvi + 228 hlm

*) Penulis adalah mantan dosen filsafat FKM-UI dan kini magang di Yayasan Madani Mental Health Care

831 Total Views 6 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +