Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +

Love our website? Signup to our list to keep current on the awesome stuff we’re doing.

Psikologi Islami, Adakah?

Oleh: Julizar Firmansyah, S.Sos.,M.Hum.*)

Setidaknya ada dua alasan mengapa psikologi islami diwacanakan akan keberadaannya. Pertama, lantaran Islam memiliki pandangan khas mengenai manusia. Kedua, adanya krisis yang menerpa psikologi modern.

Dr. Djamaludin Ancok dan Fuat Nashori Suroso menulis dalam buku mereka Psikologi Islami: Solusi Islam atas Problem-problem Psikologi, bahwa sebagai disiplin ilmu yang merupakan hasil spekulasi pikiran dan keterbatasan pengamatan manusia, psikologi tentu mempunyai sejumlah kelemahan, yang antara lain dapat dilihat kemampuan psikologi yang sangat terbatas dalam menerangkan siapa sesungguhnya manusia dan bagaimana seharusnya manusia menata diri sehingga mencapai kesuksesan dalam menjalani kehidupannya.

Seringkali kita melihat bahwa psikologi sangat mudah mereduksi fenomena-fenomena siapa sesungguhnya manusia. Sering timbul pertanyaan: bagaimana mungkin B.F. Skinner bisa sampai pada kesimpulan bahwa perilaku manusia sangat ditentukan hukum stimulus dan respon (S-R) dan bagaimana mungkin Sigmund Freud sampai kesimpulan bahwa manusia hanya didorong oleh kebutuhan libido?

Mencermati pelbagai kekurangan, kelemahan, dan bias dalam teori yang dikembangkan khazanah psikologi, maka salah satu tugas para pakar itu adalah melancarkan telaah kritis, baik dengan cara pembandingan ataupun dengan cara penilaian. Metode penilaian dapat digunakan untuk menilai konsep-konsep atau teori-teori psikologi dengan memakai sudut pandang tertentu. Salah satunya adalah sudut pandang Islam.

Gambar: dinalislam1.files.wordpress.com

Pengambilan sudut pandang Islam dilakukan dengan pertimbangan bahwa Islam adalah sumber pedoman, pandangan, dan tata nilai kehidupan bagi manusia. Secara normatif, jelas sekali Islam dapat dimanfaatkan sebagai cara penilaian untuk melihat apakah konsep-konsep psikologi dapat dipertanggungjawabkan secara moral Islam atau tidak. Lebih dari penilaian normatif, Islam sendiri merupakan sumber pengetahuan yang dengannya kita dapat menilai apakah suatu konsep sesuai dengan pandangan Islam atau tidak. Konsep manusia menurut mazab psikoanalisis, behaviorisme, dan psikologi humanistik adalah arus utama dalam psikologi modern yang layak dikritisi.

Dapat dikatakan, mazhab-mazhab atau aliran-aliran psikologi modern lahir dan berkembang di Barat dengan mode of thought Barat. Karenanya sangat mungkin terjadi bias bila diterapkan pada masyarakat kita dengan kebudayaan dan cara berpikir yang berbeda.

Kritik terhadap Behaviorisme
Mazhab behaviorisme yang disponsori Ivan Pavlov, John B. Watson, dan B.F. Skinner mendasarkan diri pada konsep stimulus-respons. Menurut pandangan mereka, ketika dilahirkan manusia tidak memiliki bakat apa-apa. Manusia berkembang lantaran adanya stimulasi dari lingkungan sekitar. Kalau ada manusia yang baik, itu disebabkan ia lahir dari lingkungan yang baik. Begitu pula sebaliknya. Pandangan semacam ini memberi tempat penting pada lingkungan dan kurang menghargai bakat manusia. Anggapannya, seperti apapun jadinya seseorang, itu disebabkan faktor lingkungannya.

Terhadap aliran behaviorisme, kritik ditujukan pada pengingkaran terhadap potensi alami yang dipunyai seseorang. Padahal, secara empirik, perbedaan individual antara satu orang dengan orang lain begitu banyak terlihat. Di samping itu aliran ini cenderung mereduksi manusia. Malah menurut pandangan ini manusia tak memiliki jiwa, tak memiliki kemauan dan kebebasan untuk menentukan tingkah lakunya sendiri. Manusia bagai benda mati. Kompleksitas manusia dipandang secara sangat sederhana oleh aliran behaviorisme. Semua keunikan dan kompleksitas manusia dipandang seolah-olah cuma sebatas sekrup dalam mesin industri, yang bekerja karena adanya faktor penguat berupa stimulus dan respons.

Kritik lain terhadap mazhab perilaku adalah menganggap manusia sebagai makhluk hedonis yang mempunyai motif tunggal untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan fisik dan lingkungan sosial dengan sikap mementingkan kekinian dan disinian.

Kritik terhadap Psikoanalisis
Sigmund Freud telah mengembangkan mazhab psikoanalisis yang berpandangan manusia adalah makhluk hidup atas bekerjanya dorongan-dorongan (id) dan memandang manusia sangat ditentukan oleh masa lalunya. Id adalah komponen yang alami pada manusia sementara superego (hati nurani) terbentuk karena adanya interaksi individu dengan lingkungan sosial.

Teori Freud yang mengungkapkan bahwa satu-satunya hal yang mendorong kehidupan manusia adalah dorongan id (libido seksualita) adalah teori yang ditantang dengan keras. Dalam libido seksualita, seseorang berusaha mempertahankan eksistensinya karena ingin memenuhi hasrat seksual.

Dalam perspektif psikologi humanistik, teori Freud ini hanya menjelaskan adanya kebutuhan paling mendasar dari manusia, yaitu kebutuhan fisiologis dan tak mampu memberikan penjelasan untuk empat kebutuhan manusia yang lain. Teori Freud akan mengalami kebutuhan seorang muslim untuk menggapai rida Allah SWT.

Konsep psikoanalisis yang terlalu menekankan pengaruh masa lalu (masa kecil) terhadap kehidupan seseorang telah banyak dikritik karena mengandung pesimisme. Seolah-olah jika seseorang mengalami masa lalu yang silam maka ia tidak akan mencapai kehidupan yang normal.

Kritik terhadap Psikologi Humanistik
Disebabkan keraguan mendalam terhadap mazhab behaviorisme dan psikoanalisis, maka para ahli psikologi menganjurkan alternatif berupa mazhab psikologi humanistik. Aliran ini dipelopori Abraham H. Maslow dan Carl Ransom Rogers. Mazhab mereka sangat menghargai keunikan pribadi, penghayatan subjektif, kebebasan, tanggung jawab, dan terutama kemampuan mengaktualisasi diri pada tiap individu.

Yang mengesankan, logoterapi, suatu ragam psikologi humanistik yang ditemukan seorang neuropsikiater Yahudi-Austria, Viktor E. Frankl, diapresiasi seorang intelektual muslim Malik B. Badri sebagai pendekatan psikologis yang optimis dan banyak kesesuaiannya dengan prinsip-prinsip Islam ataupun pandangan masyarakat Timur tentang dunia. Sebagian psikolog muslim menganggap logoterapi dekat dengan maksud ajaran Islam. Dengan kata lain, dapat dianggap mewakili suara Islam.

Seperti dikatakan Djamaludin Ancok dan Fuat Nashori Suroso, secara selintas psikologi humanistik berpandangan bahwa pada dasarnya manusia adalah baik dan potensi manusia adalah tidak terbatas. Pandangan ini tidak mendewakan masalah kuantitatif, mencoba tidak terpenjara oleh dualisme subjek-objek, dan mengakui kesamaan antar-manusia. Tapi kalau ditelaah lebih lanjut, ditemui banyak kejanggalan. Pandangan ini sangat optimistik terhadap upaya pengembangan SDM, sehingga manusia dipandang sebagai penentu tunggal yang mampu melakukan play-God (peran Tuhan).

Untuk sampai pada elaborasi mengenai psikologi islami perlu terlebih dulu disinggung tentang islamisasi pengetahuan (Islamization of Knowledge). Dalam dua dasawarsa terakhir, diskursus mengenai islamisasi pengetahuan sangat mewarnai kebangkitan Islam abad ke-15 H. Makin jauh umat Islam dari ajaran agamanya, yang didukung oleh berkembangnya sekularisme, maka tak pelak lagi muncul dikotomi dalam umat Islam, khususnya dalam ranah pendidikan, yang terbelah menjadi dua yaitu “sistem modern-sekuler” dan “sistem Islam”. Deislamisasi, westernisasi, dan sekulerisasi menyebabkan umat Islam meluncur jatuh ke jurang kehancuran.

Islamisasi Pengetahuan
Peradaban modern sedang dirundung krisis (malaise) yang ditandai kemunculan problem-problem kemanusiaan dan lingkungan yang sangat serius. Inilah krisis peradaban yang mengantarkan manusia dalam ancaman kepunahan, kerusakan lingkungan, atau disharmoni kehidupan.

Karena pilar peradaban adalah ilmu pengetahuan, sejumlah pemikir berusaha melakukan telaah kritis terhadap ilmu pengetahuan. Kalangan ilmuwan muslim merasa berkepentingan merevitalisasi peradaban dengan cara islamisasi ilmu pengetahuan. Adalah Ismail al-Faruqi yang melontarkan gagasan Islamization of Knowledge di Islamabad tahun 1982. Dia mengatakan, pengetahuan modern menyebabkan adanya pertentangan wahyu dan akal dalam diri umat Islam, memisahkan pemikiran dan aksi, serta adanya dualisme kultural dan religius. Oleh sebab itu, diperlukan islamisasi ilmu dan ikhtiar tersebut harus beranjak dari tauhid. Ilmu pengetahuan islami selalu menekankan adanya kesatuan alam semesta, kesatuan kebenaran dan pengetahuan, serta kesatuan hidup.

Para pemikir muslim perlu menelurkan sistem ilmu pengetahuan berbasis Islam. Karena itu kita perlu melakukan islamisasi ilmu atau –menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas—desekularisasi ilmu. Menurut al-Faruqi, islamisasi perlu melewati dua belas langkah:

  1. Penguasaan disiplin ilmu pengetahuan modern.
  2. Survey disiplin ilmu.
  3. Penguasaan khazanah Islam: sebuah antologi.
  4. Penguasaan khazanah ilmiah Islam: sebuah sintesis.
  5. Penentuan relevansi Islam yang khas terhadap disiplin-disiplin ilmu.
  6. Penilaian kritis terhadap ilmu modern.
  7. Penilaian kritis terhadap khazanah Islam.
  8. Survey permasalahan yang dihadapi umat Islam.
  9. Survey permasalahan yang dihadapi umat manusia.
  10. Analisis kreatif dan sintesis.
  11. Penuangan kembali disiplin ilmu modern ke dalam kerangka Islam.
  12. Penyebarluasan ilmu yang telah diislamisasikan.

Di era kiwari ini umat Islam menghadapi kekalahan dalam penguasaan ilmu. Kita akan selalu kalah kalau tidak menggali, mempelajari, dan memanfaatkan ilmu pengetahuan yang berkembang. Untuk itulah ilmu pengetahuan modern perlu dikuasai dan disintesiskan dengan Islam. Keunggulan langkah al-Faruqi adalah mampu menjawab sebagian problem umat Islam. Namun, secara esensial, kita tidak bisa melepaskan diri dari ilmu pengetahuan modern yang notabene sekuler dan memiliki sejumlah kelemahan.

Sekilas Psikologi Islami
Psikologi islami adalah ilmu yang berbicara tentang manusia, terutama masalah kepribadian manusia, yang berisi filsafat, teori, metodologi dan pendekatan problem dengan didasari sumber-sumber formal Islam (ayat kauniyah) dan akal, indra, dan intuisi (ayat kauliyah). Harus disadari, masih banyak perbedaan pandangan mengenai definisi psikologi islami.

Ada dua tipe pendekatan terhadap psikologi islami. Pendekatan pertama, yang dimaksud psikologi islami adalah konsep psikologi modern yang telah mengalami filterisasi serta filsafat manusia dan wawasannya bersumber pada Islam. Atau dengan kata lain, perspektif Islam terhadap psikologi modern dengan membuang konsep-konsep yang tidak sesuai dan bertentangan dengan Islam. Sedangkan dalam pendekatan kedua, psikologi islami adalah ilmu tentang manusia yang kerangka konsepnya benar-benar dibangun dengan semangat Islam dan bersandarkan pada sumber-sumber formal Islam, yakni Al-Quran dan Sunnah Rasul, yang dibangun dengan memenuhi syarat-syarat ilmiah.

Masih menurut Ancok dan Suroso, apabila pengertian kedua yang dipilih, maka tugas kita yang mula-mula adalah merumuskan dulu konsep Islam tentang manusia, lalu membangun konsep-konsep lanjutan mengenai manusia dengan tetap berpegangan pada konsep dasar tadi. Setelah itu, riset-riset ilmiah dengan konsep-konsep tersebut serta coba menghadirkan pendekatan-pendekatan psikologi islami terhadap upaya pengembangan SDM dan penyelesaian problem manusia.

Studi tentang manusia dalam Al-Quran misalnya dapat dilihat pada QS 41: 53, “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri.” Kalau kita menyimak lebih dalam, pembahasan mengenai manusia menempati posisi sentral dalam Al-Quran. Surat pertama yang turun kepada Rasulullah SAW telah berbicara tentang manusia: Khalaqal insaana min ‘alaq. Pembaca sekalian dapat memperhatikan lebih cermat, Nafs yakni satu istilah yang berkaitan dengan manusia, disebut ratusan kali dalam Al-Quran. Belum lagi istilah al-naas, al-basyar, dan al-insaan yang memperlihatkan betapa seriusnya Al-Quran berbicara tentang manusia. Psikologi islami bermaksud menjelaskan manusia dengan memulainya dari rumusan apa kata Tuhan tentang manusia.

Psikologi islami bertugas memprediksi perilaku manusia, mengontrol, dan mengarahkan perilaku itu untuk mencapai rida Allah SWT. Tugas final psikologi islami adalah menyelamatkan manusia secara universal lantaran Islam berkedudukan sebagai ajaran agama yang universal. Lantaran demikian, psikologi islami, menurut hemat penulis yang pandir ini, adalah untuk kesejahteraan semua manusia. Dengan kata lain, tidak eksklusif melainkan inklusif.

Apa itu Manusia?
Permasalahan yang dapat dikemukakan, mungkinkah kita akan berhasil membangun konsep yang dapat memahami dan memperlakukan manusia secara benar? Bagaimana Al-Quran berbicara tentang manusia?

Tiap konsep, teori, dan sistem dalam psikologi pastilah berakar dari filsafat manusia. Hanna Djumhana Bastaman, salah seorang pakar yang memperkenalkan psikologi Islam mengatakan, sekalipun pendekatan itu bersifat empiris-induktif pasti pada taraf tertentu akan sampai pula pada pertanyaan filosofis: apa itu manusia? Filsafat manusia akan menentukan bagaimana penelitian terhadap manusia dilakukan dan bagaimana perlakuan manusia dilangsungkan.

Tugas kita selanjutnya adalah membangun konsep baru yang tidak mengobjektivikasi manusia, melainkan bagaimana memandang dan menempatkan manusia secara benar dalam arti sesungguhnya. Paradigma ilmu pengetahuan yang baru itu mesti didasarkan pada ajaran agama. Filsafat manusia yang baru itu perlu disertai tiga catatan penting.

Catatan pertama, kajian mengenai manusia bukanlah kajian yang berdiri sendiri, tapi digunakan untuk menuju Allah. Catatan kedua, dalam rangka mengenal siapa manusia kita tidak semata-mata menggunakan teks Al-Quran (ayat kauniyah) tapi juga dengan menggunakan, memikirkan, dan merefleksikan kejadian-kejadian di alam semesta (ayat kauliyah) dengan akal pikiran, indera, dan intuisi. Catatan terakhir, kita harus membedakan kebenaran Al-Quran dan kebenaran penafsiran Al-Quran. Secara mutlak Al-Quran adalah benar, tapi tafsir atasnya mungkin saja bias.

Beberapa wawasan islami tentang manusia dalam Al-Quran, menurut Hanna Djumhana Bastaman adalah:

  1. Manusia mempunyai derajatsangat tinggi sebagai khalifah Allah.
  2. Manusia tidak menanggung dosa turunan.
  3. Manusia merupakan kesatuan dari empat dimensi: fisik-biologi, mental-psikis, sosio-kultural, dan spiritual.
  4. Dimensi spiritual memungkinkan manusia mengadakan hubungan dan mengenal Tuhan melalui cara-cara yang diajarkan-Nya.
  5. Manusia memiliki kebebasan berkehendak.
  6. Manusia memiliki akal sebagai kemampuan khusus.
  7. Manusia tak dibiarkan hidup tanpa bimbingan dan petunjuk-Nya.

Tugas utama manusia sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi memerlukan ciri-ciri: mempunyai raga yang sebagus-bagus bentuk, baik secara fitrah, mempunyai ruh, kebebasan berkehendak, mempunyai akal, dan ruh.

Konsep utama dalam psikologi islami adalah fitrah. Dorongan akan fitrah ini merupakan hal yang bersifat alamiah. Simaklah ayat Quran berikut: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi’. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) tak tahu apa-apa tentang hal itu’.” (QS 7: 172).

Konsep fitrah inilah yang membedakan secara diametral konsep psikologi islami dengan psikologi Barat. Konsep Islam, teosentris. Konsep Barat, sekuleris. Jadi, kalau ditanyakan adakah psikologi islami, jawabannya jelas bukan? Allahu a’lam bish-shawab.

*) Penulis adalah mantan dosen filsafat FKM-UI dan kini magang di Yayasan Madani.

72 Total Views 3 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +