Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +

Love our website? Signup to our list to keep current on the awesome stuff we’re doing.

Perjalanan Menuju Keabadian

Oleh : Julizar Firmansyah, S.Sos., M.Hum *)

Misteri tentang ada-tidaknya kehidupan setelah kematian merupakan pertanyaan filosofis yang sangat menarik perhatian para pemikir.

Bagi filsuf sekuler, kehidupan setelah kematian adalah nonsense belaka lantaran tidak dapat dijangkau akal manusia.

Kaum sekuleris ada yang meyakini kehidupan setelah kematian. Hanya saja, mereka memisahkan antara sakral (agama) dan profane. Bagi sekuleris ekstrem, yaitu kaum ateis, alam akhirat itu tidak ada.

Tetapi bagi orang-orang beriman, kehidupan setelah kematian merupakan kenyataan yang diyakini sepenuh hati akan terbukti nanti. Sebagai balasan atas perbuatan baik dan buruk manusia selama hidupnya di dunia.

Penulis buku ini menjelaskan bahwa orang-orang kafir tetap saja mendustakan ayat-ayat Allah dan merasa yakin tidak akan dibangkitkan pada hari kiamat.

Kepada mereka Allah berfirman dalam surat At-Taghabun ayat 10 sebagai berikut: “Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”

Buku ini terdiri atas enam bab yaitu: (1) Kematian karena azab Allah SWT. (2) Amal kebajikan sebagai bekal perjalanan menuju kematian. (3) Alam barzakh, masa antara kematian di alam fana (dunia) dan kehidupan di alam baqa (akhirat).

(4) Dari alam kubur hingga hari kebangkitan. (5) Hancur leburnya dunia fana langit dan bumi: kiamat. (6) Alam baqa (akhirat) kekal abadi: surga dan neraka. Yang menarik, buku ini dilengkapi banyak foto dan lukisan agar pembaca tertarik menelaahnya.

Neraka Adalah Matahari?
Bagaimana para ilmuwan memahami neraka? Mereka berasumsi bahwa neraka adalah matahari. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya neraka itu melontarkan bunga api sebesar dan setinggi istana, seolah-olah ia iringan unta yang kuning.” (QS Al-Mursalat [77]: 32-33).

Ayat ini menjelaskan, alam neraka adalah bola api yang senantiasa aktif melakukan kegiatannya. Kegiatan itu berjalan secara aktif disebabkan bola api itu mengandung atom-atom yang beraktivitas, sehingga proses kimiawi di tubuh neraka itu tetap berfungsi. Batu-batuan besar dilambungkan ke angkasa akibat ledakan-ledakan dahsyat yang terjadi di tubuh mereka sendiri.

Teleskop raksasa yang meneropong matahari telah membuktikan adanya semburan lidah-lidah api yang terlihat mencuat ke angkasa sejauh kurang lebih 1.000.000 mil setiap saat.

Lidah-lidah api itu pada prinsipnya adalah batu-batuan raksasa di tubuh matahari yang dilambungkan ke angkasa. Semburan-semburan lidah api itu menyebabkan cahaya yang mengilau di seputar matahari sebagai bola api.

Beberapa istilah dalam Al-Quran yang menyebutkan “matahari” atau neraka sebagai bola api (an-nar) yang bersifat “menyala dan membakar” (al-jahim dan al-sya’ir) yang merupakan fungsi dari aktivitas atom yang berproses secara kimiawi, sehingga menimbulkan rasa “sengatan panas” yang diistilahkan dengan “saqar”.

Saqar (sengatan panas) itu di dalam pembuktian fisika dikenal dengan sinar “ultraviolet”, sengatan tersebut sangat berbahaya bagi manusia di bumi. Untunglah Allah melindungi manusia dari sengatan ultraviolet matahari dengan menciptakan Ionosphere yang dikatakan penulis sebagai “laksana atap penangkis panas di angkasa bumi.”

Posisi Ionosphere inilah yang ditegaskan Allah SWT: “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap.” (QS Al-Baqarah [2]: 22).

Dan pada ayat lain, “Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya.” (QS Al-Anbiya [21]: 32).

Dua ayat ini menunjukkan “langit itu sebagai atap yang terpelihara”, maksudnya adalah Ionosphere sebagai pelindung dari radiasi ultraviolet.

Allah SWT berfirman, “Aku akan memasukannya ke dalam (neraka) saqar. Tahukah kamu apa neraka saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. Neraka saqar adalah pembakar kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga)” (QS Al-Muddassir [74]: 26-30).

Yang dimaksud “tidak meninggalkan dan tidak membiarkan” ialah apa yang dilemparkan ke dalam neraka itu diazabnya sampai binasa kemudian dikembalikannya sebagai semula untuk diazab kembali.

Mengenai Sembilan belas tingkat energi atom sesuai penemuan ahli fisika atom, penulis mempertanyakan, “…apakah yang dimaksudkan sama dengan Sembilan belas (malaikat penjaga) dalam ayat di atas?”

Tidak dapat diragukan lagi bahwa matahari itu adalah neraka yang dijanjikan dalam Al-Quran di mana surga tidak lain adalah antar-planet (langit) dan bumi kita di solar sistem ini.

Hal ini sesuai firman Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 133, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu, dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”

Penghuni surga sendiri pun ketika berada di dalam surga telah mengetahui dengan sejujurnya bahwa surga yang mereka tempati itu tidak lain adalah planet bumi ini.

Allah SWT berfirman, “Dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami. Dan Dia telah mewariskan bumi kepada kami, kami bertempat di surga di mana saja kami kehendaki, maka itulah sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal.” (QS Az-Zumar [39]: 74).

Dengan demikian, kalau matahari itu adalah neraka, sedangkan surga itu adalah antar-planet yang mengorbit di sekitar matahari, maka dapat dipastikan bahwa alam baru itu tidak lain adalah tatanan solar sistem baru juga seperti solar sistem kita di dunia ini.

Allah berfirman, “(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah Maha Esa lagi Maha Perkasa.” (QS Ibrahim [14]: 48).

Pintu Tobat
Apapun hipotesis ilmuwan seperti di atas, yang diperlukan seorang muslim adalah selalu memperbarui tobatnya, lantaran tidak ada seorang pun yang tidak berdosa kecuali Rasulullah SAW yang maksum. Tobat artinya mohon ampun kepada Allah SWT atas kesalahan dan dosa yang pernah dilakukan serta berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Allah SWT berfirman, “Kecuali orang-orang yang tobat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama Allah) dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang beriman pahala yang besar.” (QS An-NIsa [4]: 146).

Selain pemaparan saintifik tentang matahari sebagai neraka tadi, buku ini menggambarkan hal-hal yang menakutkan tentang neraka serta hal-hal yang menimbulkan harapan, yaitu surga. Ini untuk mendorong manusia menjauhi dosa dan memperbanyak amal ibadah agar Sang Ilahi Robbi meridainya.

Judul : Kehidupan Sesudah Kebangkitan dari Kematian
Penulis : Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari, Psikiater
Penerbit : Mental Health Center Hawari & Associates, Jakarta, 2017
Isi : v + 188 hlm

*) Penulis adalah mantan dosen filsafat FKM-UI dan kini magang di Yayasan Madani

165 Total Views 6 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +