Pentingnya Keterbukaan dan Kejujuran dalam Keluarga

By: @EAE18

132 view

Banyak orang merasa mampu hidup sendiri. Padahal dalam kesendirian, kalbumu selalu menangis. ketakjujuran menjadi penghalang jejakmu.

Sadarkah, hidupmu penuh dengan kecemasan? Semua itu bermuara pada caramu membaca gejala hidup. Merunduklah pada waktu. Bersandarlah pada kalbu.

Kejujuran tak akan mengurangi hartamu, tak akan mengurangi popularitasmu. kejujuran akan menambah kedamaian hidupmu. Berhentilah berdusta.

Apa yang kau cari saudaraku, jika makrifat kehidupan sudah masuk dalam jasadmu? Bukankah makrifat hidup itu brkelindan dengan makrifat kehidupan.

Pagi ini, aku selipkan sekeping doa untukmu, agar harimu terjaga rindu yang tak bertepi dan tak berujung.

Kamu selalu berhenti pada shelter, pemberhentian sementara. Kau tak pernah menemukan terminal, pemberhentian terakhir.

Membaca laku hidupmu dari jauh, seperti membaca gumpalan kecemasan yang tak pernah berhenti.

Sudahlah, tak usah mendongeng soal hidup, jika lajur hidupmu penuh dengan kepingan luka. sayang sekali, kau tak pernah sadar.

Dustamu abadi karena seluruh hidupmu dibaluti topeng yang bopeng. Terlalu banyak asesori. Terlalu banyak embel-embel.

Patahan-patahan hidupmu, itu buah ketaksabaranmu dalam meniti hidup. Sampai kapan pun jika tak berubah, patahan itu akan jadi teman hidupmu.

Kenapa kita selalu bercermin. Di kamar bercermin, pas mau naik mobil bercermin, pas di mall juga bercermin. Sejatinya kita disuruh bercermin pada diri.

Lakon hidupmu penuh dengan skenario dan kau tak mampu memainkan skenario dengan baik. Karena di setiap adegan, kau tak pernah total berperan.

Kau ingin selalu tampil memikat di pasar twitter agar orang selalu membaca wajahmu dengan indah. Tapi benarkah itu jati dirimu? Bercerminlah.

Kau mungkin tak sadar, penggalan hidupmu yang patah, karena lakumu yang tak pernah ramah. Tak pernah ramah pada diri sendiri.

Hidup itu hanya berkutat menghitung jejak waktu. Semakin kau hitung makin berkurang angka hidupmu.

Kehadiran seseorang tak perlu raga wadag tapi kehadiran kalbu akan memandumu jalan hidupmu.

Pagi ini, ingin aku titip rindu pada burung yang bertengger di pagar rumahku. Rindu yang tak berujung. Rindu yang kian membunuh lukaku.

Jum`at tak selalu keramat tapi Jum`at selalu memberi hikmat bagi orang yang memahami makna nikmat.

Biarlah pagi ini berjalan bersama rindu yang tertunda. Rindu yang kian membuncah. Apakah rindu itu juga bertengger dalam sukmamu?

Tak akan ku diamkan kenangan ini berlalu begitu saja. Ingin aku pahat kembali kenanganmu bersama angin dan hujan pagi hari.

Sadarkah, hidupmu penuh dengan kecemasan? Semua itu bermuara pada caramu membaca gejala hidup. Merunduklah pada waktu. Bersandarlah pada kalbu.

Bagaimana engkau rindu pada Tuhanmu, jika engkau tak pernah merawat jejak rohanimu.

Belajarlah menjadi ‘penipu’ yang jujur.

Ketika ada perempuan yang suka saya atau cowo suka istriku, di ruang keluarga, kami diskusi. Anak-anak pun ikut berpendapat.

Inilah keterbukaan di ruang tertutup. Sejatinya keterbukaan itu ada di ruang tertutup. hmm. Dialog akan menemukan titik temu.

Jika pada masalah-masalah krusial, kita tak mampu berdialog, dipastikan akan ada barikade yang menghunus dalam keluarga.

Bahkan beberapa kali, orang yang menyukai kami, kami ajak ke rumah untuk dialog, perihal komitmen menyukai dan memilki.

Disuka atau menyukai itu tak paralel dengan memiliki. kita blh disukai org tapi tak berart hrs dimiliki. Komitmen keluarga.

Orang menyukai kita tak selamanya berpijak pada soal lahir, fisik. Bisa juga soal pemikiran, tutur kata, dan perilaku kita.

Sangat manusiawi kita mengagumi orang lain di luar keluarga. tapi kekaguman itu tolak ukurnya jelas. Bukan hawa nafsu.

Jadi saya selalu terbuka, misalnya ketika di Twitter atau FB ada yang suka. Ini arena untuk menjaga harmoni.

Beberapa kali, saya tawarkan dialog dengan istri bahkan anak-anak pun membaca kicauan di Twitter dan FB. Ini agar tak terjadi prasangka.

Orang sering berkata harus ada ruang private antara suami-istri. Ruang ini memungkinkan ada perselingkuhan karena ada yang disembunyikan.

Selingkuh itu muaranya pada ketakjujuran. Saya sudah alami maka saya bicara soal ini. Tapi hidup itu harus berani belajar dari kesalahan.

Pada titik lain, jika kita mau kirim ke oran tua masing-masing, sebaiknya diskusikan agar tak terjadi saling curiga.

Banyak di antara kita main petak umpet. Kirim ke orang tua tanpa diketahui kedua belah pihak. Ini bisa jadi pemicu konflik.

Komitmen menikah itu tak hanya mencintai orang yang kita nikahi tapi juga keluarga masing-masing. Jangan mau anaknya, orang tuanya dicuekin.

Pada hal-hal kecil ini jika kita tak mampu merawat, saya sarankan jangan gemar menguar soal keluarga. Hal-hal kecil harus dimulai dari sini.

Maka saya tak kagum blas sama orang yang poligami meski tetap kita hormati hak pribadi. Tapi acapkali bersumber pada saluran yang mampet.

Saluran yang mampet itu akibat ada selokan yang kotor dan tak pernah dibersihkan. Selokan dialog keluarga. Sirami dengan air bersih.

Untuk apa kita bicara ayat-ayat Quran, jika substansi hidup soal berkata jujur tak dirawat. Jangan ciptakan generasi pendusta.

Jangan sekali-kali nyuruh anak-anak bapak tak di rumah jika ada tamu yang tak kita kehendaki. Ini metode pendidikan yang keliru blas.

Anak yang ada di rumah itu hasil ‘kenakalan yang halal’ maka berilah pendidikan yang halal. Pendidikan budi pekerti.

Memang agak susah jika kita belum punya anak memahami pola seperti ini. Tapi minimal bekal buat hidup berkeluarga.

Beberapa kali, atas izin Allah, saya menyelematkan keluarga yang sudah stadium empat untuk cerai dan rata-rata tokoh nasional.

Metode saya melakukan dialog terbuka dengan suami-istri yang hendak bercerai. Dan, ini dibutuhkan kontrol yang luar biasa.

Dari dialog dengan para seleb dan para tokoh itu, rata-rata pangkal konflik karena hilangnya ketakjujuran.

Para seleb dengan tanpa beban bisa tidur dengan suami/stri orang. Dan, ketika bocor ke keluarga, konflik pun tak terelakan.

Kaum cerdik pandai tak ubahnya para seleb. Bisa dengan bebas tanpa beban berselingkuh atas nama kesamaan ide/pemikiran.

Maka saya pernah protes keras ke Bang Karni Ilyas ketika ada ustaz yang tetap dipake meski dia mnghalalkan istri orang untuk dinikahi.

Para pendakwah yang tertutup kalbunya inilah, masuk dalam kategori kafir secara bahasa. Belajarlah bahasa jika tak paham.

Dan, saya pun tak respect dengan para pendakwah yang gemar memainkan kata-kata untuk kepentingan hawa nafsu dan perut. Ini banyak contoh.

Keluarga adalah pilar bangunan masyarakat terkecil. Jika dalam keluarga saja anda mengajari ketakjujuran, bagaimana ketika di luar.

Banyak pendakwah yang gemar memukul istri dan anak-anaknya, sementara di podium dia bicara soal kelurga sakinah. Saya punya bukti.

Anda akan geleng-geleng kepala jika tahu seleb, aktivis, intelektual dan pendakwah gemar menzalimi kluarga, sementara mereka tampak prima.

Berkatalah jujur terhadap diri sendiri, pada keluarga sebelum berkata jujur ke orang lain. Jangan membual. Hormati kata-kata.

1,198 total views, 2 views today