Penolak Kebenaran dan Peremeh Kemanusiaan

Oleh: Mohamad Istihori

“Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” ~HR. Muslim

Rekaman seorang wanita berbaju hitam dan berkaca mata hitam kini tengah menjadi bahan perbincangan hangat. Bagaimana tidak, wanita yang kemudian diketahui bernama Joice Warouw (JW), 46 tahun melakukan penamparan terhadap salah seorang petugas keamanan bandara di Manado pada Rabu, 5 Juli 2017.

Istri dari Brigadir Jenderal (Brigjen) Polri Sumampouw (yang saat ini mengemban amanahnya di Lemhanas) itu menolak melepaskan jam tangannya saat dilakukan pemeriksaan di XRay.

Dengan sombong dan arogannya ia pun serta-merta mendaratkan tamparannya ke pipi petugas yang sedang menjalani pekerjaannya yang sesuai dengan prosedur tersebut.

Petugas menyatakan akan melaporkan tindakan tidak menyenangkan tersebut ke Polisi #eh JW malah membalasnya dengan melaporkan balik petugas yang ia tampar tersebut.

Apa gerangan yang membuat istri buruh rakyat yang satu ini berani melakukan kekerasan fisik terhadap orang lain. Apa ia merasa ia lebih tinggi gitu karena statusnya kini sebagai istri pejabat (yang aslinya adalah buruh rakyat) dan menganggap remeh petugas bandara tersebut.

 

Gambar: flickr.com
Penolakan dan sikap meremehkan istri buruh rakyat terhadap orang lain ini, sangat sesuai dengan sabda Rosulullah Muhammad SAW yang menerangkan mengenai perilaku sombong, “Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” ~HR. Muslim.

Yang dilakukan JW adalah menolak kebenaran peraturan bandara bahwa setiap calon penumpang pesawat harus menjalani XRay. Kedua, ia sudah melakukan tindakan yang meremehkan petugas bandara dengan menampar wajah petugas tersebut.

Lagi pula jika JW merasa lebih terhormat karena menjadi seorang istri pejabat itu merupakan sebuah kesalahan besar. Pejabat itu sendiri adalah buruh yang digaji oleh majikannya yang bernama rakyat.

Jadi pejabat adalah buruh rakyat. Rakyat adalah majikan pejabat. Harusnya kalau menjadi pejabat itu rendah hati kepada majikannya yang bernama rakyat termasuk kalau jadi istri dari buruh rakyat tersebut.

Atau kalau kita mau memakai pandangan lain bahwa hina, mulia, patut dihormati, atau tidak patut dihormatinya manusia itu hanya berdasarkan seberapa taat dan dekat ia dengan Tuhan. Bukan jadi mulia dan merasa pantas dihormati orang lain hanya karena menjadi pejabat apalagi baru jadi istri pejabat.

(Jakarta, Kamis, 6 Juli 2017)

405 Total Views 3 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +