Obat untuk Kebutuhan Bukan Ketergantungan

(Ngopi -Ngobrol Bareng Prof. Dadang Hawari- Tentang Farmakoterapi)

madanionline.org – Komponen obat Prof. Dadang Hawari sangat mudah dipahami, tapi kenapa banyak dokter yang tidak mengikuti jejak Anda?

Obat untuk narkoba tidak ada juknis yang baku, maka setiap dokter hanya berdasarkan keilmuan dasar saja, tanpa melakukan penelitian dan pengalaman. Akhirnya, para dokter berjalan sendiri tanpa memiliki keberanian.

Kenapa ada obat antipsikotik hingga tiga macam dalam satu resep?

Setiap obat memiliki kelebihan dan kekurangan. Selama ini, banyak dokter hanya mengikuti  aturan dari pabrik.  Tidak melakukan penelitian dan improvisasi.

Apakah dokter umum dapat memberikan resep obat seperti Prof.?

Sangat bisa, tapi kebanyakan mereka tidak berani dan tidak mengerti  karena takut efek samping (tidak punya pengalaman).

Apakah dokter spesialis syaraf bisa memberikan penanganan terhadap narkoba?

Sangat bisa dan sebaiknya bekerja sama antarpsikiater, ahli syaraf, dan bedah syaraf.

Bagaimana melihat bahwa seseorang itu sudah sembuh dari gangguan jiwa yang ia alami?

Lihat fungsi kehidupannya. Baik ia sebagai makhluk individu di rumah atau sebagai makhluk sosial  di masyarakat. Apakah sudah baik atau belum!

Kenapa kalau berhenti mengonsumsi obat dari Prof. Dadang para pasien menjadi seperti mengalami "sakau"?

Bedakan mana ketergantungan dan mana kebutuhan. Kalau ketergantungan pasti efeknya negatif. Obat berfungsi  sebagai vitamin. Seperti halnya pada penyakit diabetes, jantung, atau penyakit lainnya. Jadi, itu kebutuhan seperti halnya kamu makan nasi.

Kapan bisa berhenti minum obat?

Sampai evaluasi aspek BPSS (Biologis-Psikologis-Sosial-Spiritual) pasien bagus dan berfungsi dengan normal.

Sampai dosis minimal seperti apa yang biasa Prof. berikan?

Untuk gangguan mental perilaku sangat tergantung kondisi individu dan stressor psikososialnya. Dari tiga kali sehari, dua kali sehari, satu kali sehari , hingga dia minum obat hanya jika dia merasa membutuhkannya. Bisa dua hari sekali atau tiga hari sekali. Tergantung kondisinya. Prinsipnya pasien harus paham dan mengerti  untuk manajemen dirinya dengan baik dan benar.

(Ust. Samsul, 22 Maret 2017)

657 Total Views 3 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +