Narkoba telah Mengkudeta Otak Anak-Anak Kita

(Catatan Ketigabelas Family Support Group Bersama Bunda Melanie Hermanto di Studio Madani, 8 April 2017)

madanionline.org – Di FSG kami juga punya kelompok plus. Yang anak-anaknya sudah positif HIV. Kita kenalkan dulu HIV itu apa. Para pecandu narkoba ini biasanya terkena virus HIV pada waktu mereka saling tukar jarum suntik.

Kami melakukan FSG setiap seminggu dua kali di LP Cipinang. Di sana kami mengadakan konseling dan tes HIV/AIDS dari pagi sampai sore. Tiga minggu kemudian kami kembali lagi dengan membacakan hasil tes tersebut. Ternyata 80 % mereka terkena HIV.

Di Madani diajarkan berbagai nilai kehidupan. Persoalannya ketika mereka kembali ke rumah, mereka tidak mendapatkan nilai-nilai kehidupan tersebut. Nilai kehidupan yang dimaksud adalah tata cara, aturan, sikap bicara, dan yang lainnya.

Di Madani mereka terbiasa makan bersama dengan teman-temannya yang lain seperti satu keluarga. Di rumah mereka malah makan sendirian. Nilai kehidupan pada pecandu narkoba yang masih ada di dalam alam penagihan itu hilang karena otak mereka telah dikudeta oleh narkoba.

Bayangkan pesawat yang kita tumpangi dibajak. Maka seisi pesawat akan terbawa oleh si pembajak. Begitu juga, ketika narkoba telah membajak anak kita. Maka seluruh anggota keluarga kita pun hakikatnya telah terbajak oleh narkoba tersebut.

Di Madani semua unsur bagi pemulihan anak kita disediakan. Ada psikiater, ada psikolog, ada konseling, ada kakak-kakaknya yang senantiasa mendampingi, ada ustadznya, bahkan bagi yang beragama selain Islam diantar beribadah ke tempat peribadatan mereka masing-masing.
Di FSG kita benahi keluarga. Ada terapi, konseling, berbagi cerita, berbagi pengetahuan tentang bagaimana menghadapi anak, dan lain sebagainya.

Peserta FSG Madani, “Pertemuan ini merupakan pertemuan yang sangat memberikan pencerahan kepada para orang tua yang anaknya menjadi korban kecanduan narkoba. Yang saya inginkan adalah bahwa anak-anak kita yang sudah saling kenal di sini, setiap orang tua punya pikiran dan kekhawatiran jangan-jangan lulus dari Madani malah kerja sama yang negatif.

Tapi bagi saya yang tidak kalah penting lagi adalah kesiapan orang tua untuk menghadapi sebaik dan setepat mungkin sekembalinya anak-anak mereka dari Madani. Saya memang mengakui kerapuhan dan kekurangan saya sebagai orang tua untuk menjaga anak saya karena narkoba ini sangat lihai, pandai, dan sangat menggiurkan untuk memberikan keuntungan materi yang sangat besar.

Maka hendaknya orang tua, lingkungan pendidikan, lingkungan pekerjaan, dan lingkungan di sekitar, kita setting supaya bisa menjadi penyesai masalah bukan penambah masalah. Itu bukan PR ringan. Berat banget!

Yang kedua bahwa dalam pertemuan kita itu bekalilah kami, orang tua melalui Madani yang sudah lihai dan piawai ini agar orang tua menjadi pencetus yang positif bagi pemulihan anak bukan pencetus negatif.

Karena memang dari awal itu keluargalah pencetus-pencetus anak kita sehingga ia memilih sesuatu yang salah. Jadi pembinaan keluarga ini jangan hanya ketika sudah merasakan ikut terlibat. Narkoba ini sudah menjadi sesuatu yang sangat mengancam bagi seluruh keluarga. Baik yang anaknya sudah menjadi pecandu juga bagi anaknya yang tidak menjadi pecandu narkoba.

190 tempat rehab menurut saya itu masih kurang karena jumlah korban kecanduan miras dan narkoba seperti gunung es. Yang tidak tampak justru lebih besar daripada yang nampak di permukaan. Siap-siaplah dari sekarang untuk menghadapi semua.”

Bunda Melani, “Yang saya garis bawahi bahwa yang menjadi pencetus anak bagi narkoba merupakan sebuah langkah bagus. Itu tandanya Anda sudah mendetoks diri Anda sendiri.

Memang kepedulian kita pada lingkungan biasanya terjadi setelah kita mengalami sendiri. Kalau belum mengalaminya sendiri biasanya kita cenderung tidak peduli. Itu memang sudah budaya. Sudah kebiasaan kita semua.

Yang lebih berat lagi adalah karena juga ada stigma yang dibuat oleh media dan masyarakat yang menganggap bahwa orang kalau sudah memakai narkoba maka habislah ia. Ia tidak lagi dianggap siapa-siapa.

Mereka pintar-pintar kok! Saya bisa buktikan. Tapi saya tidak bisa melawan, saya tidak bisa membuktikan pada saat saya harus mengantar mereka untuk mencari kerja dengan orang atau perusahaan di luar.

Makanya after care kami ada yang bergerak di bidang usaha. Seperti yang juga dilakukan oleh Madani. Ada kantin. Ada Katibam (Kafe Tikungan Bambu). Karena mereka sangat susah untuk mencari pekerjaan di luar sana akibat stigma tersebut.

Kami di Kali Bata jualan somay. Kita juga punya usaha cleaning service. Kita berdayakan mereka semua. Sekarang saya latih mereka sebagai cleaning service. Saya tawarkan kepada perusahaan besar malah tidak diterima dengan alasan karena mereka mantan pecandu narkoba.”

(Mohamad Istihori, 13 April 2017)

363 Total Views 3 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +