Motif “Pok-Pok Coy” di Balik Aplikasi Kencan Online

Oleh: Mohamad Istihori

Sejatinya manusia itu diciptakan Tuhan berpasang-pasangan. Nabi Adam yang oleh Allah ditempatkan di dalam sumber kenikmatan (surga) saja merasa bete jika harus menghabiskan waktunya di surga tanpa ada pasangan hidup.

Apalagi saat di dunia, maka kebutuhan manusia untuk mendapatkan pasangan hidup menjadi sebuah hal yang tak akan bisa dihindarkan. Sayangnya kondisi manusia saat ini tidak seperti manusia yang hidup pada zaman-zaman sebelumnya.

Kita sekarang tidak lagi memiliki banyak waktu untuk berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain. Waktu kita habis terpakai untuk bekerja. Untungnya kemajuan zaman terutama di bidang teknologi informasi mempermudah kita untuk bertemu dengan banyak orang bahkan untuk menjalin hubungan asmara.

Beberapa aplikasi yang dapat membantu kita untuk berkenalan antara lain sebut dengan inisial Tdr, Gwr, Bml, Okd, Bdo, Gnr, Bld, Jkd, Pof, Oas, dan lainnya yang terus bermunculan.

Gambar: freepik.com
Kapersky Lab memaparkan sebuah data mengenai persentase pengguna aplikasi kencan online. Pengguna yang menunjukkan kesungguhan untuk mencari pasangan hidup untuk kemudian ia nikahi hanya pada angka 11 persen.

Sisanya, hanya untuk have fun, 48 persen. Dan, 13 persen pengguna menghabiskan waktunya berselancar di dunia maya melalui berbagai aplikasi di atas berdasarkan semangat untuk mencari kepuasan dalam berhubungan biologis dengan siapapun yang ia temukan berlandaskan prinsip suka sama suka.

Gaya hidup berhubungan seks yang hanya berdasarkan prinsip suka sama suka inilah yang kemudian dapat menjadi faktor dominan dalam penularan virus HIV/AIDS. Hal ini sejalan dengan UNICEF (United Nations Children's Fund/Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa) yang menyatakan bahwa para remaja kerap kali memanfaatkan aplikasi kencan online ini guna menjelajahi teman seksnya. Walhasil para remaja kita dapat melakukan perilaku seks bebas dengan lebih luas.

Selanjutnya, The Zoe Report melaporkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa daya tarik dan hasrat pribadi seseorang tidak dapat diperkirakan dengan data yang kita peroleh via aplikasi kencan online. Hal ini semakin menguatkan bahwa motivasi para user aplikasi kencan online lebih kuat untuk “pok-pok coy” ketimbang mencari cinta sejati yang berdasarkan pada fakta bukan data.

(Jakarta, Kamis, 19 Oktober 2017)

231 Total Views 3 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +