Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +

Love our website? Signup to our list to keep current on the awesome stuff we’re doing.

Menyongsong Senyum 2021 (Upgrade Pikiran Positif)

Oleh : Harid Isnaini

Dalam perjalanan Cijeruk – Cipinang pagi ini tiba-tiba saya teringat pada sebuah kisah yang sempat saya dengar ketika awal-awal gabung di Madani sekitar tahun 2010 lalu.

Yaitu kisah tentang kisah seorang anak yang mempunyai penyakit “tertentu” yang salah satunya yang harus dihindari supaya tidak kambuh penyakit tersebut adalah sang anak dilarang makan makanan yang mengandung garam.

Satu hari ibu dari anak tersebut merasa bingung harus mengasih tahu dengan bagaimana lagi supaya anaknya menuriti ucapannya, yaitu tidak memakan makanan yang mengadung garam sebab Sang Ibu sudah bosan mengingatkan atau melarangnya namun anak itu masih melakukannya sehingga tingkat kekambuhannya masih sangat sering.

Hingga pada satu hari akhirnya Sang Ibu mengajak anaknya untuk kosultasi dengan konselor, harapannya Sang Konselor nanti menasihati anaknya supaya tidak makan makanan yang mengandung garam.

Sesampainya di tempat praktik konselor ketika proses konsultasi Sang Ibu terlebih dahulu bercerita kepada konselornya tentang anaknya dan tentunya tentang larangan makanan buat anaknya karena berkaitan penyakitnya, setelah Sang Ibu bercerita Sang Konselor langsung memanggil anaknya dan Sang Konselor tidak banyak bertanya hanya berkata, “Nak nanti jangan makan makanan yang mengandung garam iya”.

Setelah perkataan itu, Sang Konselor mengakhiri konsulnya dan mempersilahkan Sang Ibu dan anaknya pulang, Sang Ibu yang berharap banyak akan keluar nasihat-nasihat dari konselor kepada anaknya dengan sedikit bingung dan kecewa karena hanya perkataan seperti itu yang dikatakan konselor tersebut kepada anaknya.

Seminggu sudah berlalu dan selama seminggu itu ternyata Sang Anak tidak pernah memakan makanan yang mengandung garam sehingga kondisinya juga sangat baik dan tidak ada kekambuhan untuk penyakitnya, melihat hal tersebut Sang Ibu mejadi bingung dan takjub, “Kok bisa setelah konsul dengan konselor itu anak tersebut bisa senurut seperti itu?” Akhirnya untuk menghilangkan rasa penasarannya Sang Ibu kembali ke konselor tersebut tanpa mengajak anaknya.

Sesampainya di tempat praktik konselor dan bertemu dengan konselor Sang Ibu langsung bertanya kepada konselornya tentang apa yang dilakukan konselor sehingga Sang Anak begitu nurut. Sebab yang dilihat ibunya waktu konsul Sang Konselor hanya sebuah ucapan dan itu ucapan biasa yang sering ibunya lakukan.

Mendengar pertanyaan itu, ia menjawab, “Ibu waktu saya bilang kepada anak ibu jangan makan makanan yang mengandung garam, sejak saat itu saya melakukan hal yang sama seperti yang saya ucapkan yaitu tidak memakan makanan yang mengandung garam sampai saat ini.”

#

Ketika mendengar cerita tersebut saya mencoba singkirkan tentang nyata atau tidaknya cerita ini, juga tentang rasional atau tidaknya tapi saya mencoba melihat pesan yang ingin disampaikan dalam cerita itu, di antaranya bagaimana kekuatan sebuah ucapan begitu besar ketika diiringi dengan tindakan yang mengucapkan.

“Mungkin” santri saya belum baca doa ketika bangun tidur karena saya mengingatkan mereka untuk baca doa bangun tidur namun saya tidak melakukan.

“Mungkin” santri saya jarang olah raga ketika waktu kosong padahal saya sudah ingatkan untuk sering berolahraga namun saya sendiri tidak dan mungkin-mungkin yang lainnya.

Tetap tersenyum dan senantiasa upgrade pikiran positif kita.

#

(Tol Jagorawi)

111 Total Views 3 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +