Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +

Love our website? Signup to our list to keep current on the awesome stuff we’re doing.

Menyiapkan Husnul Khatimah

Oleh : Julizar Firmansyah, S. Sos., M. Hum.

Karya Imam Ghazali ini adalah buah tangannya yang utama tentang tema universal kematian dan alam sesudah mati, yang lahir dari teolog, filsuf dan sufi terkemuka. Al-Ghazali menyusunnya sebagai bagian akhir dari kitab empat puluh babnya yang tersohor, Ihya Ulumuddin. Dengan uraian filosofi sufistik, Al-Ghazali menyajikan tulisan bermutu tentang urgensi perenungan tentang kematian dan ketidakabadian manusia.

Buku ini terdiri atas delapan bab yaitu keutamaan banyak mengingat maut; menyembuhkan angan-angan berkepanjangan; kedahsyatan saat menjelang maut; saat-saat terakhir Rasulullah SAW dan Khulafa’al-Rasyidun; ucapan menjelang ajal para khalifah, pangeran, dan orang-orang saleh; pemakaman dan ziarah kubur; hakikat kematian dan alam kubur; mimpi tentang orang yang sudah mati.

Ajaran La Rochefoucauld “kematian dan matahari tak dapat ditatap terus-menerus” secara utuh mencerminkan sikap mausia modern terhadap persoalan yang menggugah sekaligus sangat menakutkan ini. Bagi pembaca yang mengacu kepada sekularisme yang lahir di Eropa, yang titik ekstremnya adalah ateisme, membaca buku ini mungkin sekali tidak menyenangkan, atau malah bisa membawa rasa tak nyaman.

Mengingat luasnya peredaran karya Ihya Ulumuddin maka buku mengenai maut ini dapat dilihat sebagai upaya paling berpengaruh dari keyakinan muslim ortodoks dalam menjelaskan problem kematian yang sangat penting ini. Di samping itu, lantaran nilai akademisnya sangat tinggi, daya tarik tulisan Al-Ghazali di era kontemporer telah menembus berbagai perpustakaan universitas-universitas di seluruh dunia.

Unsur keakhiratan buku ini sungguh kental dan bila dipahami secara keliru dapat membawa pembaca pada fatalisme dan meninggalkan dunia. Imam Al-Ghazali dalam prolog mengatakan, “Adalah kewajiban orang yang memandang kematian sebagai kefanaannya, bumi sebagai tempat tidurnya, cacing sebagai karibnya, Munkar dan Nakir teman-temannya, kuburan tempat tinggalnya, dan perut bumi tempat peristirahatannya, kebangkitan perjanjiannya, surga dan neraka sebagai peruntungannya, untuk tidak memikirkan apa pun selain kematian.”

Bagi gerakan puritan Islam, semisal salafi-wahabi, karya Al-Ghazali kerap dikritik lantaran karyanya dituding banyak mengandung hadits lemah dan bahkan ada yang palsu. Tapi bagi sebagian kalangan lain, umpamanya kaum nahdliyin, hadist-hadits tersebut tetap dapat dipakai sebagai landasan ibadah. Sejatinya pandangan yang kedua itu lebih tepat lantaran mengingat maut merupakan hal yang sangat penting –bahkan bila dalilnya adalah hadits lemah sekalipun. Semoga dengan menghayati kandungan buku ini dapat memacu keinginan kita untuk menggapai husnul khatimah. Insya Allah.

Judul : Metode Menjemput Maut: Perspektif Sufistik.
Penulis : Al-Ghazali
Penerbit : Mizan, Bandung
Isi : 304 hlm

69 Total Views 6 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +