Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +

Love our website? Signup to our list to keep current on the awesome stuff we’re doing.

Menjaga Idealisme Para Lebah Kehidupan

Oleh : Samsuludin, MA.Si.

Setengah dari perjalanan Madani adalah perjalanan hidupku.

Bagi saya mengenal Madani adalah sebuah perjalanan penuh makna. Pada saat masih di Madrasah Ibtidaiyah saya menemukan buku kecil tentang panduan terapi dan rehabilitasi NAZA. Tapi yang saya ingat bukan sosok penulisnya atau isi bukunya tapi sebuah kata-kata ditulisan tangan untuk pemilik buku itu, mungkin dari pacarnya.

Kira-kira tulisannya seperti ini, “Sayang, kamu tidak akan bisa menyayangi aku, Sebelum kamu dapat menyayangi dirikamu sendiri”. Seiring berjalannya waktu ternyata buku itu menjadi referensi utama untuk memenuhi tugas pada mata kuliah konseling mikro di Jurusan Bimbingan Konseling Islam.

Dari sanahlah  saya mulai mengagumi sosok Prof. Dr. dr. H Dadang Hawari, Psikiater  seorang dokter, ilmuwan juga sebagai seorang da`i yang sering tampil di media menanggapi berbagai masalah mental dan perilaku masyarakat modern, khususnya para artis. Akhirnya, kekaguman itu mengantarkan pada sebuah pertemuan dalam kunjungan studi bersama Ibu Prof. Dr. Zakiyah Darajat ke tempat praktek beliau dan dilanjutkan berkunjung ke Madani.

Pada tahun 2009, setelah lulus kuliah saya ikut  membantu menjadi Tim Auditor Eksternal di Kementerian KUKM, di sanalah saya mengenal kehidupan pekerjaan birokrasi penuh intrik dan entertain demi lolos dari jeratan hukum dan membahagiakan atasan. Kegalauan atas pekerjaan itulah menghantarkan saya bergabung di Madani sebagai seorang konselor. Pada saat itu hanya satu pemikiran, aktivitas seperti di Madani yang bisa dikerjakan sambil mencari peluang untuk melanjutkan kuliah dan Alhamdulillah harapan itu terwujud pada masa kerja di tahun ke dua. Bahkan tidak hanya itu kemudahan menikah hingga ibadah umrohpun atas wasilahnya Madani.

Kesan menarik pada hari pertama saat wawacara, Pak Jami selaku Kabid Internal saat itu menyampaikan, Jangan pernah berniat bekerja di Madani untuk cari uang”. Bahkan niat untuk bekerjapun dinilai tidak tepat, Ust. Fuad mendoktin kami bahwa apa yang kita lakukan di Madani diniatkan untuk bersilaturahim. Sebuah kalimat yang tidak mudah dipahami kecuali dengan nilai-nilai pengabdian dan pelayanan dengan hati.

Hal yang menarik lagi dari Madani bahwa semua konselor yang saya kenal hampir semuanya pemuda-pemuda bahagia, penuh dengan kekeluargaan tidak ada jarak antara pimpinan dan bawahan bahkan membedakan antara santri dan ustadpun sekilas sulit untuk dibedakan. Nilai-niali idealisme ini yang terus ditanamkan hingga menjadi kepribadian yang saya sadari bukan hal yang mudah.

Idealisme Para Mujahid Madani terus diuji, perlahan tapi pasti semua pemuda pejuang Madani terus berkembang sebagaimana fitrahnya, mulai menikah, memiliki anak pertama kedua dan ketiga dengan berbagi aktivitas pengabdian masyarakat di lingkungannya masing-masing.

Setelah selesai berdamai dengan diri, ayah, dan ibunya. SDM Madani harus berdamai dengan istri, anak, dan masyarakat di sekitarnya. Sebuah pertanyaan, “Sampai kapan idealisme itu tetap terjaga?” Jawabannya hanya Allah yang mampu menjaga kami semua.

Kini tidak terasa silaturahim saya sudah 10 tahun dan Madani sudah berdiri 20 tahun lamanya. Tantangan menjaga idealisme bukanlah hal yang mudah, butuh kesungguhan dan membutuhkan manajemen dari dan kelembagaan. Fungsi manajemen dalam sebuah organisasi setidaknya ada tiga yang harus dipastikan tercapai.

Pertama, tercapainya tujuan pribadi dan organisasi. Hal ini penting menjadi fokus ke depan bagaimana lembaga Madani tidak hanya mampu mencapai prestasi kelembagaan juga dapat menghantarkan tujuan individu-individu Madani dapat berkembang dan meraih kesejahteraan sesuai dengan kapasitasnya. Fungsi manajemen kedua untuk menjaga keseimbangan antara tujuan-tujuan, sasaran yang saling bertentangan dari pihak yang memiliki kepentingan dalam organisasi sehingga tercipta pola hubungan yang harmoni. Ketiga, memastikan proses dalam mencapai tujuan berlangsung dengan efektif dan efisien.

Ketiga fungsi manajemen di atas hanya akan dapat tercapai jika kompetensi SDM Madani terus ditingkatkan kualitasnya. Setidaknya ada empat kompetensi yang harus dimiliki oleh SDM Madani. Pertama, kompetensi personal yang berkaitan dengan integritas, visi kehidupan, dan niat yang kuat menjadikan Madani sebagai sarana ibadah dan mengembangkan diri. Kedua kompetensi pelayanan. Bahwa SDM Madani memahami struktur organisasi, tahapan pembinaan, SOP, dan memiliki budaya kerja yang baik.

Ketiga, kompetensi sosial bahwa SDM Madani memiliki nilai kepedulian, toleransi, memahami budaya, pola komunikasi, dan mampu beradaptasi dengan berbagai lingkungan yang berbeda. Keempat, kompetensi profesional bahwa SDM Madani memiliki keilmuan yang memadai baik dari pendidikan formal dan pendidikan sertifikasi pelatihan sehingga mampu merencanakan, melaksanakan, dan mempertanggungjawabkan segala bentuk tindakan sesuai dengan kompetensi dan kode etik profesi.

Selamat Ulang Tahun Madani
Aku bukan apa-apa, bukan siapa-siapa
Kami hanya sekelompok lebah
Yang ingin hidup dari cara-cara yang baik
Dan, bermanfaat bagi orang lain

#Artikel Lomba Karya Tulis Milad Madani XX 2019.

202 Total Views 3 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +