Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +

Love our website? Signup to our list to keep current on the awesome stuff we’re doing.

Menjadi Masyarakat Muslim Autentik

Oleh : Julizar Firmansyah, S.Sos., M.Hum *)

Pada level individu, menjadi autentik berarti menjadi diri sendiri, tidak meniru orang lain tetapi mengikuti kata hati.

Pada level masyarakat, autentisitas menyiratkan kebutuhan suatu komunitas untuk menetapkan agenda yang tidak disetir oleh kelompok lain, melainkan yang dibangun berdasarkan keunikan dan warisan budaya sendiri.

Ketika modernitas menghapuskan keunikan dan menggantikannya dengan keseragaman, pertanyaan tentang autentisitas pun mengemuka secara kuat. Pencarian autentisitas di Dunia Islam pertama kali tumbuh ketika tangan kolonialisme mulai mencengkeram wilayah komunitas muslim pada pertengahan abad ke-18.

Pencarian akan keautentikan kian mengemuka akibat meluasnya kegagalan modernisasi serta kritik terhadap developmentalisme dan liberalisme. Modernisme sebagai produk era Renaisans Eropa yang mengedepankan rasionalisme telah gagal lantaran hendak menguniversalkan cara berpikir dan bertindak masyarakat Barat ke seluruh dunia termasuk terhadap Dunia Islam. Di sisi lain, Islam sebagai agama universal, memiliki peradaban sendiri yang berbeda secara diametral dengan peradaban Barat sekuler.

Memang peradaban Barat telah belajar pada filsuf muslim, Ibnu Rusyd atau di Barat dikenal sebagai Averro, sehingga mereka menjadi maju seperti sekarang. Namun, sekularisme Barat tidaklah diambil dari Ibnu Rusyd lantaran ia juga seorang ahli syariat –terbukti dengan kitab yang ditulisnya, Bidayatul Mujtahid—dan karenanya jelas menolak pemisahan antara yang sakral dan yang profan, antara agama dengan dunia, antara iman dan rasionalitas.

Sekularisme itu dijadikan way of life dikarenakan pengalaman historis Barat di mana institusi gereja –dengan inkuisisinya yang kejam— membungkam kebebasan ilmiah para saintis. Ilmuwan-ilmuwan Barat dihukum karena bertentangan dengan pendapat gereja.

Timbul trauma di kalangan para pemikir dan saintis Barat terhadap agama, sehingga ketika gereja tidak lagi berkuasa, pemegang otoritas kekuasaan baru memisahkan antara gereja dan dunia (filsafat, politik, ilmu sosial, Negara, dan sebagainya). Ini jelas bertolak belakang dengan pengalaman Islam di mana kebebasan berijtihad dijamin malah dianjurkan bila menemui kasus-kasus yang memerlukan pemikiran kreatif berdasarkan teks-teks Islam.

Filsuf yang memelopori konsep keautentikan awal, Muhammad Iqbal yang dipandang sebagai bapak intelektual Pakistan modern, berusaha menemukan keautentikan Timur tentang diri dan masyarakatnya yang berbeda dengan kekuatan kultur Barat yang menekan.

Buku ini memusatkan perhatiannya pada pemikiran Muhammad Iqbal, Sayyid Quthb, Ali Syariati, dan Mohammed Arkoun. Mereka mengkaji para pemikir Barat untuk bergerak melampaui cara berpikir Barat yang dominan.

Mereka menggambarkan dunia yang sarat dengan pembaratan. Mereka semua keberatan dengan gambaran dunia yang dualistik: Barat yang modern dan dinamis dan Timur yang sarat dengan tradisi keagamaan yang mandek –gambaran karikatural khas orientalis (paling tidak menurut Edward Said) dan khas modernis, tetapi gambaran ini tidak membantu bagi pencarian autentisitas.

Pertanyaan mengenai keautentikan muncul di dunia di mana modernisasi telah menjadi begitu umum, sehingga pilihan antara Barat dan Timur, tradisional dan modern, menjadi tidak relevan. Komentar penulis buku ini yang merupakan professor ilmu politik di Colorado College, “Persoalannya adalah bagaimana menjadi modern dengan cara yang dapat saya katakan sebagai “bagi saya sendiri”. Inilah pertanyaan yang menggema baik di Barat maupun di Timur.

“Robert D. Lee telah menyajikan analisis yang tajam tentang cara pemikir muslim modern menghindari dikotomi modernitas dan tradisionalitas…. Dia sangat menguasai bidang yang dituliskannya,” kata James Piscatori dari Pusat Kajian Islam Oxford.

Sedangkan John O. Voll dari Pusat Pemahaman Muslim-Kristen, Universitas Georgetown menulis, “Buku ini merupakan penyajian yang segar dan bebas polemik tentang perkembangan penting dalam pemikiran Islam modern. Buku ini berhasil menghindari jebakan debat politik tanpa mengabaikan pembahasan tentang isu-isu kunci dan kontroversial.”

Buku ini sangat menarik dan berkualitas bagi para pengamat politik, pemikir keagamaan, pembuat kebijakan pembangunan, mahasiswa, dan masyarakat umum.

Judul : Mencari Islam Autentik: Dari Nalar Puitis Iqbal Hingga Nalar Kritis Arkoun
Penulis : Robert D. Lee
Penerbit : Mizan, Bandung
Isi : 279 hlm

*) Penulis adalah mantan dosen filsafat FKM-UI dan kini magang di Yayasan Madani

726 Total Views 15 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +