Mengislamkan Momentum Pergantian Tahun

Oleh: Mohamad Istihori

Saya merasa sangat prihatin melihat keadaan dan kondisi umat Islam saat ini. Mereka sangat sibuk mengurus pagar hukum boleh-tidak boleh, halal-haram (fiqih) dan melupakan untuk merawat luasnya kebun, ladang, atau sawah kebudayaan dan peradaban yang mereka miliki.

Beberapa hari menjelang pergantian tahun baru masehi, bertebaranlah berbagai informasi copas (copy-paste) di beberapa grup WA saya tentang ancaman Islam mengenai siapa saja dari umat Islam yang menyerupai agama lain.

Bagi saya, hadits larangan menyerupai agama lain itu masing sangat multitafsir. Kebanyakan kita malah menafsirkan secara dhohir hadits belaka. Masih sangat minim pihak yang menafsirkan hadits tersebut secara batiniah.

Ulama kita dulu memiliki kecerdasan yang sangat luar biasa untuk mengislamkan berbagai atribut agama lain. Maka jangan heran jika kita melihat arsitektur masjid yang menyerupai tempat ibadah agama lain. Sarung yang kita pakai tiap hari untuk sholat juga atribut agama lain. Apalagi baju koko yang juga kita pakai untuk beribadah, jelas-jelas merupakan atribut si Engko.

Ulama sekarang boro-boro memiliki kemantapan ilmu untuk mengislamkan agama lain, mengislamkan atribut agama lain saja sudah kehabisan akal. Lagi-lagi dengan dalil hadits yang melarang menyerupai agama lain secara fisik.

Sebenarnya atribut apapun. Tempat dan ruang dengan gaya arsitektur yang bagaimana pun. Bahkan sebuah peristiwa dan kejadian bersifat netral. Semua tinggal bagaimana kreasi budaya dan kemantapan kita untuk mengislamkan semua yang hadir dalam kehidupan kita.

Sebuah peristiwa kematian di agama lain pun bisa diislamkan. Maksud saya pada kebiasaan agama lain, mereka menemani keluarga yang sedang berduka karena ditinggal oleh salah satu anggota keluarga mereka yang meninggal dunia dengan bermalam sambil bermain judi.

Dengan pendekatan yang humanis, kebiasaan bermalam menemani keluarga yang meninggal diubah secara perlahan tapi pasti dengan membaca ayat suci al Quran, yasinan, tahlilan, dan berbagai kreativitas ibadah mu`amalah (sosial) oleh ulama kita dulu. Lalu, tiba-tiba saja kini ada sebagian pihak yang membid`ah-bidh`ahkan kreativitas ibadah mu`amalah berupa yasinan dan tahlilan itu.

Lalu kini banyak juga pihak yang mengharamkan berbagai atribut perayaan tahun baru dan bahkan merayakan tahun baru diharamkan. Itu sebenarnya, bagi saya hanya kita belum memiliki metode budaya untuk mengislam momentum pergantian tahun.

Detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun semuanya adalah netral. Mau diisi dengan acara dan kegiatan yang bagaimana itu semua bergantung dari manusianya. Mau diisi dengan sesuatu yang suci bisa, mau diwarnai dengan yang kotor juga bisa-bisa saja.

Selamat tinggal 2016. Selamat datang 2017. Tahun demi tahun terus berganti. Semoga umat Islam segera menemukan formula budaya untuk mengislamkan apa saja yang Allah hadirkan dalam kehidupan ini. Sehingga dengan demikian Islam benar-benar mampu menjadi rahmat bagi seluruh alam. Amin.

Foto

90 Total Views 1 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +