Menghadirkan Wajah Ibu di Malam yang Syahdu

(Catatan 16, Madani Adventure, Gunung Papandayan, Garut, 22-24 Agustus 2017)

madanionline.org – UGyn kini mengajak para peserta untuk meletakan tangan di dada masing-masing. Para peserta kemudian menarik nafas perlahan dan mengeluarkannya sambil menyebut, “Allah”.

Setelah mengulanginya sebanyak tiga kali, UGyn bertanya, “Ada yang bergetar? Oke sekarang letakkan tangan kita di leher.” Dengan metode dan ucapan yang sama seperti di atas.

Pengulangannya juga sebanyak tiga kali dan setelah itu tangan diletakkan di telinga dan tidak ditekan. Pengulangan-pengulangan tersebut sengaja dilakukan untuk mengaktifkan kembali otak spiritual yang mungkin sudah lama nonaktif dan beku akibat pemakaian narkoba serta berbagai kenakalan yang pernah dilakukan.

“Teman-teman sekalian tidak ada dosa yang tidak diampuni oleh Tuhan,” ujar UGyn. Ia kemudian berkisah mengenai seorang pembunuh yang hendak bertobat. Ia sudah membunuh sekitar 100 orang.

43 UGyn
(Foto 43: UGyn)

Seorang alim memberi tahu kalau dia mau bertobat, ia harus pergi ke kampung sebelah. Di tengah perjalanan pembunuh tersebut meninggal dunia. Allah pun mengampuni semua dosanya karena ia sudah menunjukkan keinginan kuat untuk bertobat dari dosa berupa kebiasaan membunuh yang semasa hidup kerap ia lakukan.

USam (Ust. Samsul) lalu melantunkan sebuah ayat yang menerangkan bahwa setiap jiwa akan merasakan mati. “Kullu nafsin dzaiqotul mauut…” Di akhir ayat berbunyi, “Dan tidaklah dunia ini hanya tempat untuk bermain-main dan bersendau gurau”.

“Apa yang akan terjadi kalau seseorang menahan nafas selama 10 menit?” tanya UGyn.

“Mati” ujar seorang peserta.

“Masih merasa hebatkah kita, sedang menahan nafas selama 10 menit saja kita bisa mati?”

Dalam kesempatan ini UGyn meminta kepada seluruh peserta untuk menghadirkan sosok yang paling hebat dan yang paling berjasa dalam kehidupan kita masing-masing. “Hadirkan wajahnya. Sebutkan nama lengkapnya,” pinta UGyn.

Alunan instrumen musik menambah kesyahduan malam ini. Di puncak Gunung Papandayan dengan ditemani kegelapan malam, kami semua tetap menjaga kedekatan diri dengan Sang Maha Pencipta Alam Semesta.

Tak lupa juga kami panjatkan doa untuk ibu kami masing-masing yang saat ini berada di rumah. Menunggu kami kembali pulang dari pendakian. Kami berdoa untuk kesejahteraan dan keselamatan sosok manusia yang paling hebat, kuat, dan yang paling berjasa dalam kehidupan kami.

(Mohamad Istihori)

321 Total Views 3 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +