Mengasah Fadhilah

Oleh: Mohamad Istihori

Sesungguhnya Allah telah memberikan fadhilah, keistimewaan, keunggulan, atau keutamaan pada setiap orang dengan spesialisasi, ukuran, kadar, dan dosis yang berbeda-beda.

Begitu juga pada seorang anak. Maka tugas orang tua adalah bagaimana ia setia menemani anaknya belajar untuk terus mengasah fadhilah yang Allah berikan kepada anaknya tersebut.

Amat disayangkan jika masih ada orang tua yang memaksakan kehendaknya kepada anak agar si anak menjadi apa yang diinginkan orang tua tanpa orang tua mau belajar memahami agar anak menjadi dirinya sendiri.

Misalnya kita dokter tidak bisa serta-merta kita paksa anak kita untuk menjadi dokter karena bisa saja anak kita memiliki fadhilah atau kelebihan untuk menjadi polisi atau menjadi ABRI atau profesi lainnya.

Pemahaman bahwa setiap individu memiliki fadhilahnya masing-masing juga menjadi sangat penting agar kita tidak lagi membanding-bandingkan satu orang dengan yang lainnya.

Tidak ada satu orang unggul dari yang lainnya karena setiap orang memiliki potensi yang berbeda di dalam diri mereka sendiri-sendiri. Kalau passion kita adalah menulis tidak bisa serta-merta kita menilai bahwa kita lebih unggul dari orang lain karena barangkali orang lain passion-nya berada di bidang sepak bola misalnya.

Apalagi jika kita adalah orang yang berpuasa. Kehidupan orang yang berpuasa bukanlah terutama mampu unggul atas orang lain atau dapat mengalahkan orang lain.

Fokus utama hidup orang yang berpuasa adalah unggul atas dirinya sendiri. Mampu mengalahkan nafsunya sendiri. Mengalahkan diri sendiri adalah perjuangan manusia yang lebih berat daripada mengalahkan yang di luar dirinya.

Jika setiap manusia fokus pada keunggulan sekaligus kelemahannya masing-masing kemudian bertekad untuk memberikan manfaat bagi kehidupan dari keunggulan yang ia miliki maka betapa indah, tentram, dan damainya hidup ini.

Sebaliknya, jika manusia hanya sibuk mencari kelemahan yang di luar dirinya sehingga tidak lagi memiliki waktu untuk mengasah anugerah fadhilah yang telah Allah berikan maka jangan heran kehidupan kita hanya penuh dengan manusia yang saling menyalahkan, saling mengalahkan, dan lebih tragis lagi akan saling memusnahkan.

(Jakarta, 2 Juni 2017)

936 Total Views 3 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +