Menepis Emosi Apatis pada Guru dan Murid

(Catatan 1, Presentasi Fun Teaching dari UKie di Studio Madani, Jakarta, 10 Oktober 2017)

madanionline.org – Berita Tindakan Pembinaan (BTP) sudah usai. Segenap staf Madani Mental Health Care pun kembali menjalani tugas mereka masing-masing. Kecuali Usdar, Ujams, dan salah satu staf Mapress (Madani Press).

Agenda setelah BTP hari ini di antaranya adalah presentasi mengenai fun teaching (mengajar yang menyenangkan) dari Ust. Yuki Andi Arfan atau yang akrab disapa UKie di Studio Madani pada Selasa, 10 Oktober 2017.

Konsep diri menjadi materi pembuka yang dipresentasikan UKie pagi ini. UsDar memberikan saran agar ketika UKie memberikan penjelasannya para peserta fun teaching tidak bicara satu sama lain atau tidak memainkan ponsel pintarnya. Intinya para peserta tertarik pada materi yang diberikan.“Jangan sampai menjadi pemateri yang monoton. Setengah jam hanya berisi pembicaraan kita tanpa adanya simulasi yang menggugah minat para peserta untuk fokus dalam menyimak materi yang sedang kita sampaikan,” ujar UsDar.

Beberapa masukan yang diberikan UsDar agar peserta bisa fokus antara lain membuat komitmen kepada seluruh peserta tanpa terkecuali untuk mengumpulkan HP mereka terlebih dahulu sebelum mengikuti fun teaching atau selingi materi dengan humor.Sesekali bentakan juga diperbolehkan untuk sedikit mengejutkan atau mengagetkan peserta, buat peserta penasaran sehingga mereka terus mengejar mengenai apa yang sedang disampaikan.

Semua masukan yang diberikan UsDar semata-mata untuk mengembangkan Madani dan khususnya juga untuk mengembangkan potensi yang dimiliki UKie. Tak lupa UsDar meminta bantuan dan masukan kepada Taufik Permadi (Tagor) untuk memperkaya dan menghidupkan bahan materi yang sudah dibuat UKie.

Sebagai jawaban dari saran UsDar tersebut, UKie akan menambahkan beberapa video pada slide materinya sehingga nampak lebih menarik dan menyita perhatian para peserta. Dalam materinya UKie juga menampilkan beberapa tingkatan emosi. Mulai dari emosi paling rendah yang negatif sampai emosi tertinggi yang positif yang ada pada setiap manusia yang disebut dengan istilah ikhlas.“Kalau perlu mainkan peran. Panggil dua orang guru ke depan. Instruksikan mereka untuk berperan kondisi emosi yang apatis. Satu lagi memerankan kondisi emosi marah, misalnya. Itu membuat suasana menjadi hidup dan peserta ikut terlibat dalam materi yang disampaikan,” ujar UsDar.

UsDar melanjutkan supaya dalam materi mengenai emosi, harus dikaitkan dengan murid dan guru. Misalnya, ada kondisi di mana seorang guru pada satu titik merasa apatis dengan muridnya yang ia anggap mustahil untuk bisa naik kelas karena dianggap terlalu bodoh. Nah, pemateri harus dapat memberikan solusi yang tepat untuk mengatasi sikap apatis yang mungkin ada dalam diri seorang guru atau murid.

(Mohamad Istihori)

357 Total Views 6 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +