Mencegah Suami Bawa HIV/AIDS ke Rumah

Pemerintah Aceh melalui Dinas Kesehatan akan memperbanyak klinik tes HIV/AIDS, sehingga semua rumah sakit dan Puskesmas di Aceh mampu mendeteksi virus mematikan tersebut. Itulah antara lain terobosan baru pemerintah daerah ini guna membendung serangan penyakit mematikan itu yang kian agresif di Aceh.

Harian ini dua hari lalu melaporkan tentang kian banyaknya ibu rumah tangga usia produktif di Aceh mengidap HIV/AIDS. Yang sangat memprihatinkan, sebagian besar ibu rumah tangga pengidap HIV/AIDS itu, virus penyakit yang menghilangkan kekebalan tubuh dimaksud ditularkan suami mereka.

“Makanya, kita akan memperbanyak VCT atau klinik ‘Tes dan Konseling Secara Sukarela’, sehingga nanti setiap Puskesmas di Aceh mampu mendeteksi penyakit tersebut,” kata seorang pejabat Dinas Kesehatan Aceh.

VCT (Voluntary Counseling Testing) adalah tes HIV yang dilakukan secara sukarela, karena pada prinsipnya tes HIV tidak boleh dilakukan dengan paksaan atau tanpa sepengetahuan orang yang bersangkutan.


 

Selama ini, Aceh sudah mempunyai belasan VCT. Namun, jumlah ini belum cukup untuk menangani berbagai permasalahan yang dihadapi pengidap HIV/AIDS. Penambahannya akan dilakukan bertahap sesuai dengan kemampuan pendanaan pemerintah. “Jika puskesmas sudah mampu mendeteksi virus HIV, maka orang-orang yang punya pekerjaan berisiko akan lebih mudah melakukan tes HIV.”
 

Ada beberapa kalangan yang dianjurkan untuk melakukan VCT seperti orang yang melakukan hubungan seks berisiko dengan PSK atau gigolo, termasuk dengan orang yang belum pernah diketahui status VCT-nya. Selain itu, kalangan seks menyimpang juga sangat berisiko.
 

Kalangan lain yang dianjurkan tes darah adalah orang yang pernah menerima transfusi darah, pengguna narkoba dengan sistem suntik, dan orang yang mengalami infeksi seksual menular yang berulang.

Kembali ke pokok persoalan, yakni tentang suami yang bawa “pulang” HIV/AIDS ke rumah. Jika sebelumnya kita banyak bicara HIV/AIDS di kalangan remaja yang bergaul bebas, maka kali ini kita harus bicara tentang moral orang tua atau dewasa. Suami-suami “nakal” yang suka “jajan” di luar ini memang sangat mengeraikan. HIV/AIDS yang tertular padanya dari luar, sudah tentu akan ditularkan lagi kepada istri serta keturunannya, kelak.
 

Lalu, kenyataan tentang banyaknya kasus-kasus HIV/AIDS di Aceh juga mencerminkan kepada kita bahwa kampanye-kampanye yang selama ini dilakukan belum secara efektif bisa menahan laju perkembangan penyakit mematikan itu.
 

Makanya, sebagai umat muslim yang bermukim di wilayah bersyariah Islam ini, kita sangat percaya bahwa akar masalah berkembangnya penyakit HIV/Aids adalah prilaku yang menyimpang dari ketentuan Allah Swt. Yakni seks bebas atau seks menyimpang dan candu narkoba. Islam sangat mengharamkan seks menyimpang dan penggunaan narkoba. Sebagai muslim, pencegahan yang paling efektif adalah menjauhi semua perbuatan terlarang.
 

Dan, negara atau pemerintah tentu harus menutup rapat-rapat kesempatan atau peluang siapapun untuk berbuat menyimpang. Jangan hanya gubuk di tepi pantai yang diberangus, tapi di kamar-kamar hotel banyak orang berpesta narkoba dan kemudian tentu saja pesta seks seenaknya. Masya Allah, inilah tugas pemerintah.

Sumber: tribunnews.com

652 Total Views 2 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +