Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +

Love our website? Signup to our list to keep current on the awesome stuff we’re doing.

Mencari Titik Balik Kesadaran Para Pecandu Narkoba

UJams, “Assalamu`alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh.”

Pak Budi, “Wa `alakumus salam.

UJams, “Sehat Pak Budi?”

Pak Budi, “Alhamdulillah!

UJams, “Saat ini saya sedang bersama Pak Budi (Direktur Direktorat Napza Kementerian Sosial. Alhamdulillah, hari ini infromasinya akan dicetak buku `Titik Balik Kesadaran, Potret Korban Penyalahgunaan Napza Pasca Rehabilitasi Sosial`. Apa sebetulnya yang akan diangkat dalam hal ini sebetulnya dari Direktorat Napza ini?”

Pak Budi, “Yang kita angkat bahwa apapun bentuknya dalam kehidupan manusia termasuk para korban dan pecandu narkoba itu belum titik, masih koma. Dalam artinya, mereka manusia bisa akan menjadi manusia yang lebih bagus.

Jadi kalau kita melihat sejarah perjuangan manusia kita selalu ingat bagaimana sahabat Kanjeng Rosul, Sayyidina Umar bin Khottob berada dalam sejarah lembaran hitam tetapi begitu mengalami titik balik mampu menjadi manusia yang mulia.

Begitu juga para korban dan para pecandu Napza, jangan putus asa dan kecil hati. Mereka juga memiliki potensi untuk mengalami titik balik dan muncul kembali kesadarannya sehingga memiliki keberanian untuk menjadi manusia yang lebih mulia.”

UJams, “Sebetulnya kategori sukses buat mereka korban yang sudah direhabilitasi itu ada batasannya nggak? Apakah pulih saja atau berdaya di masyarakatnya atau bagaimana?”

Pak Budi, “Jadi gini iya. Ukurannya sebenarnya bisa kita ukur dalam hal ini bahwa dalam proses rehabilitasi kita kembalikan lagi para korban dan pecandu dengan kapabilitas dan potensi yang ada di dalam dirinya.

Kita berfokus pada intervensi bagaimana interaksinya dengan lingkungan sosialnya sehingga titik baliknya bagaimana dia bisa bertanggung jawab sosial terhadap dirinya dan masyarakat.

Meningkatnya peranan kemampuan para korban dan pecandu narkoba untuk melaksanakan tugas-tugas hariannya secara bertanggung jawab. Ia juga mampu mematuhi peran yang sedang ia emban. Sebagai contoh, kemampuan dia menampilkan saya di sini sebagai seorang direktur tapi saya juga mampu menampilkan peranan di rumah sebagai seorang ayah.

Ia juga sudah kembali memiliki kemampuan materil. Misalnya saya memiliki peran sebagai seorang suami untuk mencari nafkah dan juga memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.

Minimal kemampuan dia bertanggung jawab sosial dan material kalau ada kegiatan-kegiatan kemasyarakatan dia bisa diterima. Berprilakunya dia bisa juga membuat nyaman.

Masyarakat bisa terima dan kapabilitas dirinya juga meningkat dalam lingkungan keluarga dan masyarakat untuk menjadi pribadi yang normal dan sehat jasmani serta rohani.”

UJams, “Dalam buku tersebut mengangkat beberapa mantan korban dan pecandu narkoba yang ada di beberapa IPWL yang ada di Indonesia. Berapa jumlah para korban dan pecandu narkoba dari IPWL yang ada dalam buku tersebut?”

Pak Budi, “Untuk saat ini yang bermitra dengan Kementerian Sosial dan yang punya Kemensos ada empat balai. Yang punya masyarakat, untuk saat ini ada sekitar 164 IPWL seluruh Indonesia.”

UJams, “Semua hampir sudah adakah di semua provinsi di Indonesia?”

Pak Budi, “Gorontalo yang belum. Insya Allah tahun depan yang lainya bisa menyusul, saya usahakan yang tadinya kosong bisa ada ikut berjalan di seluruh Indonesia.”

UJams, “Dilihat dari data penelitian, ada sekitar 4 juta para korban dan pecandu narkoba, apakah mereka sudah menjalani rehabilitasi semua dan pemerintah serta masyakarat sudah ikut serta semua atau memang masih banyak perlu rehabilitasi lainnya?”

Pak Budi, “Kalau kita lihat dari data dan situasi yang ada, apalagi saat ini narkoba yang masuk ratusan ton. Database untuk saat ini, berita dari BNN dengan refaransi 1,77 sekitar 4 juta, saya pikir baru sedikit yang masuk rehabilitasi.

Kalau kita lihat dengan ‘Fenomena Gunung Es’ bahwa mereka hanya di permukaannya. Kita capek-capek merehab kalau barangnya tetap ada melihatnya akan gampang.

Maka perjuangan teman-teman IPWL di lapangan yang memberikan dukungan rehabilitasi atau after care terhadap para korban dan pecandu narkoba sangat luar biasa sekali sehingga untuk rehabilitasi ini masih sangat diperlukan sekali dan untuk saat ini Kemensos hanya dikasih target 15.430 per 2018.

Insya Allah, tahun depan kita masuk program nasional lagi dan kita meningkat menjadi 19.000. Ini yang dari Kementerian. Saya juga berharap dari teman-teman masyarakat dari Promkes bisa lebih banyak. Kalau kita kalkulasi 4 juta misalnya kalkulasi setahun hanya 65.000, kita perlu berapa tahun? ”

UJams, “Masih sangat panjang.”

Pak Budi, “Kita butuh 100 tahun. Makanya kemitraan menjadi penting. Titik balik kesadaran para junkies (para korban dan pecandu narkoba) menjadi hal yang sangat penting untuk menjadi rule model.

Di satu sisi, kalau kita bagi masyakat itu masih ada yang peduli karena tugas, peduli karena ia atau salah satu anggota keluarganya mengalami adiksi narkoba, dan ada masyarakat yang cuek aja. Merasa yang narkoba adalah bukan urusan dia.

Maka dengan terbitnya buku ini diharapkan dengan adanya teman-teman yang berhasil mengalami titik balik sehingga ia menjadi orang-orang yang luar biasa bisa menjadi contoh.

Oh ternyata persoalan narkoba ini persoalan negara. Kita harus bersama-sama menanganinya. Mantan korban dan pecandu narkoba juga bisa menjadi orang yang hebat sehingga bagi mereka yang diproses direhab sekarang bisa menambah semangat untuk mencontoh. Juga memberi inspirasi bagi masyarakat yang tidak peduli. Ternyata ada persoalan yang kita harus terlibat juga.”

UJams, “Yang terakhir, Pak. Di 2019 ini, saya melihat dulu IPWL belum terlalu banyak. Tapi sekarang jumlahnya terus bertambah. Di 2019 apalagi yang direncanakan oleh Bapak?”

Pak Budi, “2019 kita tetap fokus terhadap rehabilitasi sosial tapi dengan adanya program nasional (PromNas) dengan rencana aksi nasional dengan Inpres No. 6 tahun 2018 tentang P4GN bahwa penanganan narkoba atau Napza harus utuh, holistik, terintegrasi, dan melibatkan semua komponen anak bangsa. Baik dari aspek hulu seperti pencegahan, pemberantasan, dan deteksi dini sampai pada aspek hilir seperti rehabilitas dan after care.

Jadi kita harapkan kegiatan ini akan lebih mampu membawa Indonesia untuk bisa lebih maju dalam penanganan masalah narkoba. Baik itu aspek pencegahan, rehabilitasi maupun pasca rehabilitasi (after care). kita berharap titik balik kesadaran pelungnya menjadi lebih banyak.”

UJams, “Mudah-mudahan semua rencana tersebut dapat berjalan dengan lancar dan mampu memberikan inspirasi bagi banyak orang. Aaamiiin…”

*Transkrip Wawancara Titik Balik Kesadaran, Ust. Jami (UJams) bersama dengan Pak Budi. Ditranskrip oleh Mohamad Istihori pada Ahad, 27 Januari 2019.

496 Total Views 3 Views Today

One thought on “Mencari Titik Balik Kesadaran Para Pecandu Narkoba

  • 28/01/2019 at 11:23 am
    Permalink

    Menarik… Mendapat informasi tentang jumlah rehabilitasi dan sukses buat para korban

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +