Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +

Love our website? Signup to our list to keep current on the awesome stuff we’re doing.

Membongkar Rasionalisme Barat yang Memiskinkan

 

Oleh : Julizar Firmansyah, S. Sos., M. Hum.

Samakah bersikap rasionalis dengan rasionalisme? Jawaban tegasnya, menurut hemat penulis, tidaklah sama, apalagi jika diberi embel-embel Barat. Berpikir rasional berarti menggunakan logika, sedangkan rasionalisme berarti meletakkan rasio di atas segalanya. Dan, dalam pengalaman historis intelektual Barat, rasionalisme yang ditumbuhkembangkan adalah yang bercorak rasionalisme tidak bertuhan.

Beda sekali antara berpikir rasional –atau “rasionalisme” yang dikembangkan umat Islam, dengan rasionalisme Barat yang meminggirkan Tuhan dari pusat kehidupan. Oleh aliran deisme, Tuhan dipandang telah selesai tugasnya dengan selesainya penciptaan kosmos. Kontradiksi dengan tesis tersebut, antitesis yang diajukan Islam ialah tauhid-sentris. Semuanya berpusat pada Tuhan. Atau dalam bahasa tasawuf, semua serba Tuhan.

Mungkin atas dasar itulah seorang tokoh pembaruan Islam di Tanah Air menegaskan dalam bukunya bahwa rasionalisasi bukan westernisasi. Dengan kata lain, bersikap rasionalis bukan berarti kebarat-baratan atau membebek pada Barat. Namun, benarkah kalangan intelektual muslim jebolan negeri-negeri Amerika dan Eropa tidak bias Barat?

Rasionalisme yang Memiskinkan

Pilihan teologi modernisasi para pembaru jelas mengambil basis teori sosialnya dari paradigma modernisasi, yaitu teori-teori tentang pembangunan bercorak kapitalisme-liberalisme. Pilihan inilah yang menyebabkan ia berpandangan bahwa umat Islam harus diubah teologinya kalau hendak maju. Jelas, tesis ini pada ranah ilmu sosialnya berpijak pada paradigma teori-teori modernisasi yang menganggap bangsa-bangsa Dunia Ketiga menjadi miskin karena memiliki masalah dalam mental atau kulturnya.

Sebuah asumsi pseudo-intelektual Barat yang benar-benar menghina bangsa-bangsa Dunia Ketiga dengan mengatakan bahwa, dalam bahasa kasarnya, Dunia Ketiga miskin karena budaya malas penduduknya, bukan karena struktur tidak adil yang menyebabkan kemiskinan negara-negara berkembang.

Bagi bangsa-bangsa Barat, kemajuan mereka itu disebabkan rasionalisme tadi; sebuah rasionalisme yang memiskinkan habis-habisan bangsa-bangsa the other –meminjam terminologi postmodern—yaitu penggunaan semaksimal mungkin rasio untuk memajukan diri mereka sendiri dengan menindas yang lain.

Selama rasionalisme tidak bertuhan versi Barat semacam ini tidak dilawan, dibongkar (dekonstruksi), maka kemiskinan akan tetap ada, malah makin jomplang antara Barat dengan kita. Di lembaga-lembaga pendidikan di Tanah Air, yang menjadikan filsafat Barat sebagai jurusan atau sekadar mata kuliah dasar atau pilihan, rasionalisme tidak bertuhan inilah yang dikembangkan. Dengan perkecualian UIN dan berbagai PT Islam yang memang menghidupkan filsafat Islam.

Pernah dalam sebuah perbincangan dengan seorang muda ahli filsafat, ia mengatakan dengan sinis bahwa kalau Anda masih bawa-bawa Tuhan, Anda bukan filsuf melainkan hanya seorang teolog. So what? Apakah teolog lebih rendah maqamnya daripada filsuf? Apalagi filsufnya adalah filsuf yang tercerabut dari akarnya yaitu Islam.

Apakah Murtadha Mutahhari yang ulama sekaligus filsuf itu lebih rendah kapasitas akademis dan integritasnya dari Jaspers, Nietschze, Hegel, dan Karl Marx? Ahli-ahli filsafat pembebek Barat tersebut, betapapun pandainya dalam pengetahuan filsafat secara ensiklopedis, hanyalah ekselen dalam menghafal filsafat Yunani hingga postmodern, tapi tidak punya ghiroh terhadap Islam.

Tulisan ini tidak bermaksud bahwa 100% filsafat Barat sudah seharusnya masuk limbo sejarah, lantaran kita diharuskan untuk mengambil yang baru yang lebih baik dengan tetap memelihara yang lama yang baik. Tapi masalahnya, sarjana-sarjana filsafat yang pernah penulis temui, bangga sekali dengan Barat, nyaris tanpa kritisisme.

Mereka melupakan tradisi pemikiran Islam yang sangat kaya selama masa keemasannya berabad-abad, ketika orang-orang Eropa belum mengenal sabun, malah mandi pun jarang! Barat berhutang budi kepada Islam dalam modernitas mereka; modernitas mana telah mereka selewengkan dari karakteristik modernitas Islam, sebuah kemodernan religius.

Rasionalisme tidak bertuhan telah memiskinkan negara-negara muslim termasuk Indonesia. Kemiskinan menimbulkan penderitaan terhadap mayoritas penduduk yang beragama Islam. Timbullah pengangguran, tingkat kehidupan yang tidak layak, kriminalitas, terbengkalainya pendidikan karena tidak sanggup membayar biayanya, perceraian karena masalah ekonomi, munculnya penyakit atau gangguan kejiwaan, dan sebagainya.

Teologi Transformatif

Antitesis teologi modernisasi adalah teologi transformatif. Dengan istilah lain, teologi untuk kaum tertindas. Tokoh-tokohnya misalnya Moeslim Abdurrahman, Mansour Faqih, Adi Sasono, dan M. Dawam Rahardjo. Singkatnya, pandangan keagamaan kelompok ini memandang bahwa kemiskinan terjadi karena struktur yang tidak adil. Jadi, bukan karena masalah mental yakni malas bekerja. Paradigma teori-teori pembangunan yang mereka anut adalah dependensia seperti yang dikembangkan di Amerika Latin, yang setelah dipadukan dengan teologi, diberi nama teologi pembebasan (theology of liberation).

Aktivitas mereka tidaklah melulu mengonstruksi diskursus/wacana, melainkan lebih pada aktivisme pembebasan. Jadi, wacana diposisikan untuk mendukung gerakan transformasi sosial. Asumsi utama paradigma ketergantungan adalah bahwa kemiskinan atau keterbelakangan disebabkan oleh sistem ekonomi-politik yang tidak adil. Relasi-relasi sosial yang dibangun adalah hubungan eksploitasi habis-habisan antara negara-negara maju dengan negara-negara berkembang. Atau, hubungan tidak adil antara central dengan periphery.

Sikap para aktivis Islam kelompok teologi transformatif adalah dengan rasio mereka mengeksegesis Al-Quran dan As-Sunnah untuk membebaskan umat Islam dan warga nonmuslim, atau dalam skala yang lebih makro yaitu antara “pusat” dengan “pinggiran”, dari penindasan Barat dan mereka yang westernized. Terlihat bedanya antara menggunakan rasio untuk transformasi sosial dengan mengelaborasi rasio sejauh mungkin untuk menindas mustadh’afin.

Rasionalisme dan Sekularisasi

Menurut Seyyed Hossein Nasr dalam bukunya Tasawuf Dulu dan Sekarang, dari titik pandang yang lebih khusus lagi, Islam menyembuhkan salah satu penyakit dunia modern, yakni sekularisasi yang melampaui batas, suatu proses yang tak lain merupakan penjauhan benda-benda dari makna spiritualnya. Di Baratlah untuk pertama kali muncul negara temporal, dengan pemerintahan dan garis kekuasaan yang disebut sekular.

“Pemikiran” mengalami sekularisasi pula dalam bentuk filsafat dan ilmu pengetahuan sekular, kemudian seni dengan semua cabangnya mengikutinya dan akhirnya agama sendiri menyerah kepada kecenderungan yang sama. Proses yang ditimbulkan oleh perlawanan pada masa renaisans ini mula-mula kelihatan seakan-akan sebagai gerakan untuk mencapai kebebasan, tapi kini proses tersebut telah tiba di tepi jurang bahaya yang membuktikan bahwa sesuatu yang dihasilkan oleh masa renaisans hanyalah kebebasan untuk melenyapkan kemungkinan memperoleh kebebasan hakiki yang terbuka bagi manusia, yaitu kemerdekaan ruhani.

Terhadap penyakit sekularisasi yang melampaui batas dan penyakit kebebasan yang negatif ini, yang kini mendekati anarki, Islam menyajikan pandangan hidup yang benar-benar suci dan suatu kebebasan yang dimulai dengan kepatuhan pada Kehendak Ilahi di dalam rangka merambah jalan naik menuju Yang Tak Terbatas. Dalam bahasa umat Islam, tidak ada pemisahan antara yang suci dengan yang duniawi.

Pemikiran sekular atau “rasionalisme tidak bertuhan” telah mendasari berbagai aspek kehidupan, termasuk ekonomi pembangunan. Dengan rasionalisme Barat ini, globalisasi yang kian gencar menggelontor kehidupan sehari-hari di segala penjuru dunia, makin memiskinkan dunia non-Barat, sehingga globalisasi identik dengan “penduniaan kemiskinan”. Wallahu a’lamu bish-showab.

*Penulis adalah alumnus S2 filsafat UI

57 Total Views 3 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +