Membangun MaPress yang Cover Both Sides

(Catatan Rapat Koordinasi Mapress, Sabtu, 18 Maret 2017)

madanionline.org – Hujan turun sangat deras sore ini. Di luar udara begitu dingin. Tapi tidak dengan udara dan atmosfir di dalam Studio Madani. Ada rapat koordinasi Madani Press (Mapress) di Studio Madani.

Meski hanya dihadiri oleh Tim Inti Mapress yang berjumlah tiga orang, namun beragam ide dan pemikiran mampu menghangatkan suasana yang ada. Mapress harus melangkah ke depan dengan berkaca dari apa yang sudah dikerjakan dan apa yang saat ini sedang dilakukan.

 

Tahun ini, Mapress berusaha re-branding dari sebuah media yang terasa kaku dan kurang frendly bernama Berita Madani bermetamorfosis menjadi Sahabat Madani.

Semua dilakukan agar segala konten (baik itu reportase, artikel, atau quote) yang Mapress suguhkan kepada sidang pembaca dapat tepat sasaran dan mengena.

Perlahan namun pasti Mapress melakukan hijrah dari “periode makkiah” menuju “periode madaniah”. Dari metode yang khusus menjelma menjadi metode yang umum, yang dapat merangkul semua warna, segala kecenderungan, dan seluruh golongan.

Ini merupakan sebuah proses yang tidak mudah bagi Mapress. Apalagi dalam setiap konten tulisan, Mapress terus belajar untuk “menguliti” sebuah peristiwa yang terjadi di tengah-tengah masyarakat kita saat ini secara mendasar, mendalam, dan “menarik kembali peristiwa tersebut jauh ke belakang”.

Sebisa mungkin sumbernya berasal dari berbagai kalangan. Baik dari ulama, orang biasa, tukang becak, santri Madani, atau apapun dan siapapun yang Mapress temui dalam kehidupan ini.

Tentu saja ada pihak yang menerima dan ada juga segelintir orang yang menolak berita dari Mapress. Apalagi jika kebenaran yang disampaikan menyangkut orang berkuasa atau berpengaruh.

Mereka sebenarnya dalam hatinya mengakui kebenaran yang telah sampai, namun karena menyangkut gengsi kekuasaan, ketakutan kehilangan pengikut, atau berkurangnya harta yang sudah dimiliki, maka mereka menolak kebenaran tersebut.

Terhadap hal seperti ini bukanlah menjadi sebuah alasan bagi Mapress untuk terus berjuang melalui tulisan dan pergelutan pemikiran. Tugas kita hanya menyampaikan. Iya cuma sebatas nyampein doang. Perkara ditolak atau diterima sepenuhnya kami serahkan pada Allah SWT. Hanya Allah yang memiliki hak prerogatif untuk memberikan hidayah atau adzab pada kita.

Semua itu justru menjadi motivasi tersendiri bagi Mapress untuk berbenah diri, mempertajam metode penulisan, dan menyajikan berita secara cover both sides.

Media Dajjal, Media Cover One Side
Media saat ini semakin jarang memegang teguh prinsip penulisan berita yang cover both sides. Sebuah rumusan penulisan berita yang berimbang. Tidak berat sebelah. Menghadirkan berita secara utuh dan menyeluruh.

Media kini hanya menyajikan berita yang cover one side. Hanya menampilkan kebaikan A dan selalu memberitakan keburukan B. Mirip seperti Dajjal yang hanya berkata, “Dhukh, Dhukh, Dhukh”. Tidak mampu menyampaikan kata tersebut secara utuh menjadi “Dukhon”.

Media sekarang semakin tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya. Tidak ada yang salah dengan hawa nafsu. Yang menjadi berbahaya adalah ketika nafsu yang telah Allah anugerahkan kepada setiap manusia itu menjadi liar karena ketidaksanggupan kita untuk menetralisirnya.

Proses Menulis Tidak Kenal Finis
Padahal Allah terus-menerus menebar rahmat-Nya berupa inspirasi kepada manusia. Hanya manusia terlalu malas untuk menangkap limpahan inspirasi-Nya itu.

Inspirasi yang terus bertumpuk itu harus kita ejawantahkan atau wujudkan, misalnya melalui tulisan. Semakin kita tidak mampu menemukan media untuk menyalurkan inspirasi, semakin terganggu pikiran kita.

Orang yang rajin menyalurkan pemikirannya akan selalu “koma”. Kita tidak pernah akan mencapai “titik”. Tulisan selalu berujung pada kesimpulan sementara dan tidak pasti.

Karya tulis akan selalu bersambung. Tulisan akan senantiasa berepisode-episode dan berjilid-jilid. Meskipun air laut kita jadikan tinta dan semua pohon yang ada di dunia dijadikan pena, perjuangan menumpahkan pemikiran tidak pernah akan mencapai garis finis.

Begitu juga semua dialog yang muncul saat rapat koordinasi Mapress kali ini. Ia tidak akan dapat dirangkum sebagai “titik”. Masih banyak sebenarnya cuat-cuatan pemikiran yang muncul. Itu hanya sebagian saja. Tapi semoga saja Anda dapat menikmatinya.

Salam lurus-meyakinkan.

(Mohamad Istihori)

672 Total Views 6 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +