Membalik Rumusan Tuhan, Terhimpit dalam Kehidupan

Oleh: Mohamad Istihori

Manusia semakin terhimpit oleh keinginannya untuk memenuhi keinginan sehari-hari. Andai saja kita hidup dalam prinsip “wa laa tansa nashiibaka minad dunya” (Dan, jangan kamu lupa bagianmu di dunia) maka akan lapanglah kehidupan kita di dunia ini.

Yang pertama harus dikejar manusia adalah “wab taghii fimaa atakallah daaral akhiroh” (Dan, carilah apa yang datang dari Allah dari negeri akhirat). Prinsip Tuhan ini kemudian malah dibalik oleh kita menjadi “Cari apa yang datang dari Allah di dunia dan jangan lupa bagianmu di akhirat”.

Bahkan orang tua zaman sekarang juga ikut membalik rumusan Tuhan tersebut dengan ucapan nasihat yang mereka berikan kepada anak-anak mereka, “Nak, belajar yang rajin. Kerja yang rajin. Tapi jangan lupa sholat iya!”

Kita menjadikan dunia hal yang primer dan menjadikan akhirat perkara yang skunder. Padahal dunia adalah lapisan terluar dari akhirat. Hal inilah yang kemudian menjadikan jiwa kita menjadi mudah mengalami gangguan.

Di Sukabumi, berdasarkan pada pendataan ada 80 warganya yang terserang gangguan jiwa dengan grafik mengalami peningkatan pertahun. Demikian keterangan dari Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sukabumi Lulis Delawati.

Lulis menjelaskan bahwa gangguan jiwa terbagi menjadi tiga level. Baik itu level ringan, sedang, dan berat. Ia melanjutkan bahwa faktor utama peningkatan angka penderita gangguan jiwa antara lain karena tuntutan hidup, himpitan ekonomi, dan profesi.

Pendapat lain, dari World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa satu dari tujuh pekerja mengalami gangguan jiwa di tempat mereka bekerja. Bekerja saja sudah berisiko mengalami gangguan jiwa, bagaimana yang pengangguran.

Dalam kasus gangguan jiwa di Indonesia, berdasarkan catatan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bahwa 14 juta warga Indonesia menderita gangguan emosional dan 400 jiwa menderita gangguan jiwa tingkat tinggi (psikotik).

Tingginya angka gangguan emosional dan gangguan jiwa di Indonesia ini bisa kita tanggulangi dengan penanganan yang terpadu biologis, psikologis, sosial, dan spiritual. Keempat unsur inilah yang diharapkan dapat membantu para penderita gangguan jiwa tersebut untuk pulih secara utuh dan menyeluruh.

(Jakarta, 16 Oktober 2017)

228 Total Views 3 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +