Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +

Love our website? Signup to our list to keep current on the awesome stuff we’re doing.

Mekanisme Terjadinya Penyalahgunaan Napza

Oleh : Harid Isnaini

Permasalahan penyalahgunaan NAPZA mempunyai dimensi yang sangat luas dan kompleks, baik dari sudut medik, ekonomi, sosial budaya, kriminalitas dan lain sebagainya.

Dari sekian banyak permasalahan yang ditimbulkan sebagai dampak penyalahgunaan NAPZA antara lain: merusak hubungan kekeluargaan, menurunkan kemampuan belajar, ketidakmampuan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, perubahan perilaku menjadi prilaku yang anti sosial, gangguan kesehatan, menurunkan produktivitas kerja secara drastis, mempertinggi jumlah kecelakaan lalu lintas, kriminalitas, dan tindak kekerasan lainnya, (Hawari, 2012)

Adapun mekanisme terjadinya penyalahgunaan NAPZA menurut penelitian Hawari (1990) terjadi oleh interaksi antara faktor-faktor predisposisi (kepribadian, kecemasan, depresi) faktor kontribusi (kondisi keluarga) dan faktor pencetus (pengaruh teman sebaya/kelompok dan zat itu sendiri).

Mekanisme Penyalahgunaan Narkoba (18.1)

Ada tahapan terjadiya gangguan ketergantungan penggunaan zat melewati beberapa tahap dari coba-coba hingga akhirnya ketergantungan. menurut Husin dan Siste (2017) berikut ini adalah tahapan-tahapan penggunaan zat.

(1). Tahapan coba-coba atau eksperimental, di mana seorang remaja/dewasa yang awalnya atas dasar keingintahuan mulai menggunakan NAPZA.

(2). Tahapan situasional atau bersenang-senang, yaitu pola pemakaian zat pada situasi tertentu misalnya pada acara tahun baru, penggunaan karena diajak atau ingin diterima. Penggunaan situasional  ini bisa dibilang tingkat penggunaan zat yang rendah, tingkat keparahannya. biasanya terjadi dalam tatanan sosial di antara teman- teman, dan biasanya melibatkan penggunaan zat psikoaktif dalam jumlah kecil sampai sedang, biasanya juga didorong oleh rasa ingin tahu atau tekanan teman sebaya (teman sepermainan) orang yang menggunakan secara situasional biasanya belum memiliki masalah terkait penggunaan zatnya, kecuali jika penggunaan zat illegal. Contoh umum misalnya anak SLTP yang menggunakan ganja karena penasaran atau diajak teman-temannya pada saat acara tahun baru.

(3). Tahap rekreasional atau instrumental yaitu pemakaian zat bertujuan sebagai cara mengatasi masalah. Penggunaan zat pada tahap ini dirasakan dapat membantu menekan gangguan emosional dan memanipulasi perilakunya. Penggunaan seperti ini sering terjadi ketika seseorang termotivasi mengejar efek yang diinginkan sebaai cara mengatasi (coping) kondisi atau situasi tertentu. sebagai contoh orang yang memiliki sifat sangat pemalu akan merasa bahwa dengan mengkonsumsi ganja membuatnya merasa lebih santai mampu berbicara dengan orang lain, dan merasa lebih gaul.

Dalam contoh lain orang yang mengalami depresi cenderung mencoba mengonsumsi zat untuk merasa lebih hidup dan lebih baik. Contoh lain yang lebih ekstrim, serdadu yang menggunakan ganja, heroin, atau zat lainnya dalam peperangan untuk santai dan terlepas dari stres yang menderanya saat peperangan. Pada tingkat ini orang secara situasioanl dapat menggunakan untuk mencari kesenangan atau bersosialisasi. Seseorang pada tingkat ini dapat saja memiliki masalah atau tidak memiliki masalah terkait penggunaannya.

(4). Tahap habituasi atau kebiasaan, pada tahap ini perilaku untuk mendapatkan zat sulit dikontrol dan sudah menjadi kebiasaan. Beberapa orang biasanya memulai penggunaan zat dari penggunaan rekreasional atau sirkumtansial namun kemudian mulai menggunakan secara terus- menerus.

Ketika penggunaan zat menjadi setiap hari dan terus menerus dari dosis rendah sampai sedang efek yang dirasakan akan meningkat, pada tingkat ini biasanya seseorang termotivaasi untuk menggunakan agar terbebas dari masalah yang dialami, seperti axiaetas atau depresi atau untuk mempertahankan kemampuan yang dikehendaki. Pada tingkat ini seseorang biasanya mulai mengalami masalah terkait penggunaanya (misal terlambat masuk kerja) pada tingkat penggunaan ini sering juga disebut dengan penyalahgunaan.

(5). Tahap ketergantungan atau adiksi, ditandai dengan mulai terjadinya toleransi (mulai meningkatkan jumlah penggunaan untuk mendapatkan efek yang sama), withdrowel (munculnya gejala putus zat jika tidak menggunakan zat), hingga kehilangan kontrol untuk mendapatkan zat tersebut.

Pengunaan ini merupakan penggunaan yang mana dosisi tinggi dan beberapa kali digunakan dalam satu hari bisa terjadi itu diharapkan untuk mecapai efek yang diinginkan, pada tingkat ini zat narkoba menjadi sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan pengguna, walapun tahu itu bermasalah dia akan tetap menggunakan dan disebut dengan adiksi.

Adiksi zat bukan hanya sekedar menggunakan zat dalam gejala bersifat subjektif, yaitu sesuatu yang secara langsung dialami dan tidak dilihat atau diukur oleh orang lain seperti gejala sakit perut, kelelahan atau pening. Gejala untuk adiksi adalah ‘drug craving’ atau sugesti keinginan yang kuat untuk menggunakan.

Berikut ini Bagan Penggunaan Zat dari Coba-Coba sampai Adiski (18.2)

Berikut ini adalah Tahapan Seseorang Menuju Ketergantungan NAPZA yang Dapat Kembali Kambuh (18.3)

Dalam buku ajar psikiatri (2017) pengolongan ketergantungan zat menjadi tiga yaitu ringan, sedang, dan berat. Untuk  kriteria seorang ketergantungan zat termasuk ringan, sedang, atau berat dalam penyalahgunaan zat yaitu apabila:

  1. Ringan 2 -3 gejala
  2. Sedang 4-5 gejala
  3. Berat lebih dari 6

Gejala-gejala tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Penggunaan zat dalam jumlah yang lebih besar atau periode yang lebih lama daripada yang diinginkan.
  2. Keinginan terus-menerus atau upaya gagal untuk mengurangi atau mengontrol penggunaan zat.
  3. Menghabiskan waktu untuk mendapatkan zat, menggunakan zat, atau untuk memulihkan efek dari zat tersebut.
  4. Cravingatau dorongan atau keinginan yang kuat untuk menggunkan zat.
  5. Penggunaan zat berulang mengakibatkan kegagalan untuk memenuhi kewajiban ditempat kerja sekolah atau rumah.
  6. Terus menggunakan zat walaupun memiliki masalah sosial atau interpersonal persisten dan berulang yang disebabkan atau yang diperparah oleh efek dari zat.
  7. Berkurangnya aktivitas sosial, pekerjaan,atau rekreasi karena penggunaan zat.
  8. Penggunaan zat berulang dalam situasi yang membahayakan secara fisik.
  9. Penggunaan zat dilanjutkan meskipun memiliki pengetahuan mengenai masalah fisik atau psikologis yang disebabkan atau diperburuk oleh penggunaan zat.
  10. Toleransi, seperti yang didefinisikan :
    1. Kebutuhan yang nyata dalam meningkatkan jumlah zat untuk mencapai intoksikasi atau efek yang diinginkan.
    2. Efek nyata terus berkurang dengan menggunakan jumlah zat yang sama.
    3. Withdrawel(sakaw).
327 Total Views 9 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +