Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +

Love our website? Signup to our list to keep current on the awesome stuff we’re doing.

Maqam-Maqam dalam Tasawuf

Oleh : Julizar Firmansyah S.Sos., M.Hum*

Dalam tulisan sebelumnya telah dipaparkan mengenai tasawuf akhlaki Al-Ghazali.

Kali ini tulisan ini akan mengupas fase-fase spiritual atau tingkatan-tingkatan dalam tasawuf yang disebut juga maqam (station). Menurut Drs. H. Ahmad Bangun Nasution, M.A. dan Dra. Hj. Rayani Hanum Siregar, M.H. dalam buku Akhlak Tasawuf: Pengenalan, Pemahaman, dan Pengaplikasiannya (Disertai Biografi dan Tokoh-tokoh Sufi), dalam rangka meraih derajat kesempurnaan, seorang sufi dituntut untuk melampaui tahapan-tahapan spiritual, memiliki suatu konsepsi tentang jalan (tarekat) menuju Allah SWT. Jalan ini dimulai dengan latihan-latihan rohaniah (riyadhah) lalu secara bertahap menempuh berbagai maqam.

Perjalanan menuju Allah SWT merupakan metode pengenalan (makrifat) secara rasa (rohaniah) yang benar terhadap Allah. Manusia tidak akan mengenal dengan baik tentang Tuhannya selama belum melakukan perjalanan spiritual tersebut. Walau ia adalah orang yang beriman secara aqliyah (logis-teoritis), sebab ada perbedaan yang dalam antara beriman secara aqliyah dengan beriman secara rasa (dzauq).

Macam-Macam Maqam
Secara umum, maqam-maqam dalam sufisme adalah tobat, wara, zuhud, fakir, sabar, rida, dan tawakal.

Pertama, tobat. Maqam ini berarti menyadari dosa dan berjanji atau bersungguh-sungguh tidak akan mengulanginya lagi. Hal tersebut tercapai dengan memperoleh maqam attaubatu min taubatihi yaitu bertobat terhadap kesadaran akan keberadaan diri dan kesadaran akan tobat itu sendiri.

Kedua, wara. Dalam maqam ini seorang penempuh jalan spiritual (salik) menjauhi hal-hal yang belum jelas halal atau haramnya (syubhat) serta menjaga harga diri (marwah). Wara terbagi dua yaitu wara lahir dan wara batin. Dalam wara lahir, seorang salik tidak bergerak kecuali untuk beribadah kepada Allah SWT. Sedangkan wara batin ialah tidak masuk ke dalam hati seorang hamba terkecuali Allah SWT.

Ketiga, zuhud yaitu tidak mengutamakan kesenangan duniawi. Dapat disimpulkan bahwa maqam zuhud bertujuan menjauhkan diri dari segala sesuatu yang memalingkannya dari Allah SWT.

Keempat, fakir, dengan alasan bahwa kekayaan bila tidak dilandasi iman berpotensi mendekatkan seorang hamba pada kejahatan dan menyebabkan ia lupa pada Allah SWT. Maka dapat disimpulkan bahwa dalam maqam ini seorang salik mengalihkan pikiran dan harapan yang akan memisahkannya dari Allah. Dengan kata lain, menyucikan hati secara total dari segala sesuatu yang menjauhkannya dari Allah.

Kelima, sabar, yang merupakan satu maqam setelah maqam fakir karena syarat untuk bisa berzikir secara total adalah dengan merasakan fakir terlebih dulu. Dalam kondisi itu seorang hamba akan mengalami berbagai rintangan, sehingga ia perlu melangkah ke maqam sabar. Seorang yang sabar berarti telah berhasil menahan diri dari nafsu dan amarah.

Keenam, rida, yaitu menerima dengan puas apa saja yang diberikan Allah. Orang yang rida mampu menangkap hikmah di balik cobaan dan tidak berprasangka buruk terhadap ketentuan Allah SWT. Menurut Abdul Halim Mahmud, rida mendorong manusia berusaha maksimal mencapai apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Sebelum mencapainya ia harus menerima dan merelakan akibatnya dengan cara apapun yang disukai Allah SWT.

Ketujuh, tawakal yang berarti melakukan segala daya dan upaya. Sufisme menjadikan tawakal sebagai wasilah untuk memalingkan hati dari segala sesuatu selain Allah. Tawakal merupakan keteguhan hati dalam menggantungkan diri hanya kepada Allah serta berhenti memikirkan diri sendiri serta merasa memiliki daya dan kekuatan.

Dari semua ulasan di atas dapat disimpulkan bahwa maqam adalah tingkatan seorang hamba di hadapan Allah dan merupakan kualitas kejiwaan yang bersifat tetap. Maqam bertujuan melihat seberapa besar ibadah seorang hamba di hadapan Allah SWT sehingga manusia tersebut dapat mencapai kesempurnaan dalam beribadah dalam arti luas.

*Penulis adalah alumnus S2 filsafat UI

117 Total Views 6 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +