Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +

Love our website? Signup to our list to keep current on the awesome stuff we’re doing.

Manusia: Titik Temu Logoterapi dan Agama

Oleh: Julizar Firmansyah

Menurut H.D. Bastaman, kata “logos” dalam bahasa Yunani berarti makna (meaning) dan juga ruhani (spirituality), sedangkan “terapi” adalah penyembuhan atau pengobatan.

Logoterapi secara umum dapat digambarkan sebagai corak psikologi/psikiatri yang mengakui adanya dimensi keruhanian pada manusia di samping dimensi ragawi dan kejiwaan, serta beranggapan bahwa makna hidup (the meaning of life) dan hasrat untuk hidup bermakna (the will to meaning) merupakan motivasi utama manusia guna meraih taraf kehidupan bermakna (the meaningful life) yang didambakannya.

Sekalipun pada awalnya logoterapi merupakan metode psikoterapi praktis, tetapi kemudian meluas dan mengembangkan filsafat manusia, teori kepribadian, teori psikopatologi, dan metode pengembangan pribadi menuju kualitas hidup bermakna. Saat ini logoterapi merupakan salah satu pilar psikologi dan psikiatri modern yang diamalkan dalam dunia medis, pendidikan, teologi, filsafat, manajemen, rehabilitasi sosial, keluarga, dan kegiatan pelatihan pengembangan diri. Dalam tulisan ini akan dibahas mengenai filsafat logoterapi.

Di kalangan para filsuf, pandangan logoterapi mengenai manusia disebut filsafat logoterapi atau logophilosophy. Logoterapi sebagai filsafat manusia dalam beberapa hal banyak kesamaan dan kesejalanan dengan pandangan-pandangan filsafat lain yang juga menjelaskan tentang manusia. Pengaruh paling besar berasal dari fenomenologi dan eksistensialisme. Viktor Frankl, penemu logoterapi, banyak mendapat pengaruh Max Scheller mengenai dimensi spiritual, makna hidup, dan pengalaman langsung atas hal-hal yang terjadi dalam kehidupan seseorang. Pengaruh lain datang dari eksistensialis Friedrich Nietzsche, yang ucapannya dijadikan dasar pentingnya kesadaran seseorang terhadap makna dan tujuan hidupnya.

Citra Manusia Menurut Logoterapi
Pertama, manusia merupakan kesatuan utuh dimensi-dimensi ragawi, kejiwaan, dan spiritual. Tanpa perpaduan semua dimensi itu secara utuh, manusia tak dapat disebut “manusia”. Dimensi spiritual mengatasi dan mencakup dimensi kejiwaan dan dimensi ragawi. Daya pikir dan rasa lebih luas dan lebih mendalam ketimbang kekuatan raga, tetapi daya ruhani jauh lebih tinggi dari pemikiran, perasaan, dan raga. Jangkauan raga serba terbatas, jangkauan pikiran jauh lebih luas, tetapi jangkauan ruhani hampir tak terbatas.

Kedua, Viktor Frankl mengajarkan, manusia memiliki dimensi spiritual di samping dimensi-dimensi ragawi dan kejiwaan (termasuk sosial budaya) yang satu sama lain terintegrasi dan tak terpisahkan. Frankl melihat dimensi spiritual demikian penting dan beranggapan eksistensi manusia ditandai tiga hal, yaitu keruhanian, kebebasan, dan tanggung jawab.

Dimensi spiritual ini adalah sumber kebajikan, keluhuran, dan kemuliaan manusia. Berbagai kualitas insani ini khas manusia yang terpatri (inherent) dan terberi (given) pada eksistensinya serta tak boleh direduksikan pada taraf sub-human (insting) dan non-human (hewan).

Ketiga, dengan adanya dimensi noetic (padanan istilah spiritualitas menurut Viktor Frankl), manusia mampu mengambil jarak terhadap dirinya serta mampu meninjau dan menilai dirinya, misalnya mengenali keunggulan dan kelemahan sendiri serta merencanakan apa yang kemudian akan dilakukannya. Artinya ia mampu sekaligus berfungsi sebagai subjek (yang meninjau dan menilai) dan objek (yang ditinjau dan dinilai).

Dari Being ke Meaning
Manusia memiliki kemampuan transendensi-diri yang memungkinkan manusia mampu “alih dimensi” dari the actual self ke the ideal self, atau dari being ke meaning. Manusia mampu keluar dan membebaskan diri dari kondisi raga, jiwa, dan lingkungan untuk berkomitmen dengan nilai-nilai dan makna hidup yang layak diraih, pribadi lain yang dikasihi, tugas dan misi hidup yang harus diselesaikan atau pengabdian yang harus dipenuhi.

Mengenai nilai-nilai dan makna hidup, logoterapi menunjukkan makna hidup dan hidup yang bermakna dapat dicapai melalui karya bermanfaat dan kebajikan kepada orang lain, meyakini dan menghayati keindahan, kearifan dan cinta kasih, serta mengambil sikap tepat atas penderitaan yang tak dapat dihindarkan lagi.

Dalam logoterapi dikenal tema-tema makna hidup, makna kematian, makna penderitaan, makna kerja, dan makna cinta. Menemukan makna hidup dan menetapkan tujuan hidup merupakan upaya untuk mengembangkan hidup yang bermakna. Hasrat untuk hidup bermakna merupakan motivasi utama setiap orang yang selalu mendambakan hidup bermakna dan bahagia.

Kebebasan memberi keleluasaan pada manusia untuk memiliki impian dan tujuan hidup serta menentukan cara-cara meraihnya. Kebebasan ini menjadikan manusia mampu menentukan “nasib” sehingga dijuluki the self determining being yakni makhluk yang mampu memilih dan menentukan hal-hal terbaik bagi dirinya. Kebebasan ini bukan kebebasan mutlak, melainkan kebebasan dalam keterbatasannya sebagai makhluk yang serba terbatas. Kebebasan ini harus disertai tanggung jawab. Kebebasan berkehendak, hasrat untuk hidup bermakna, dan makna hidup merupakan landasan filsafat logoterapi.

Titik Temu Logoterapi dan Agama
Kualitas-kualitas insani adalah berbagai kemampuan, potensi, sifat-sifat, dan kondisi yang hanya ada pada manusia. Telaah atas kualitas-kualitas insani menyebabkan logoterapi mendapat julukan height psychology atau psikologi luhur. Kualitas-kualitas ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk istimewa yang sangat potensial dengan berbagai daya dan kemampuan ragawi, kejiwaan, dan ruhani yang luar biasa disertai kemampuan merealisasikannya untuk mengembangkan pribadi dan meraih kondisi hidup yang lebih berkualitas.

Spiritualitas, makna paripurna, transendensi diri, dan rasa keagamaan yang menjadi bahan kajian logoterapi, sudah lama menjadi kajian teologi. Agama yang pada intinya menelaah bagaimana manusia dapat meraih kasih dan rahmat Tuhan melalui agama tentu memerhatikan karakteristik eksistensi manusia dan hakikat kemanusiaan. Sebaliknya logoterapi dengan telaahnya mengenai eksistensi manusia dan kualitas-kualitas insani “mau tak mau” harus berbicara pula tentang teologi, karena titik temu antara agama (teologi) dan psikologi (logoterapi) adalah manusia. Berbeda dengan Frankl, Bastaman –sebagai “siswa” Frankl– melintas batas antara logoterapi dengan teologi, yang “jembatan”-nya sudah dibangun Frankl namun ia memilih untuk tidak melintasinya. Suatu hal yang dapat kita pahami lantaran Frankl adalah ilmuwan sekuler sedangkan Bastaman adalah tokoh psikologi islami.

Psikologi islami yang menempatkan ruh sebagai inti dari dimensi ragawi, kejiwaan, dan noetic tidak apriori meniadakan pandangan-pandangan psikologi yang sudah ada, tetapi berusaha mencakup dan menyesuaikannya dengan wawasan islami mengenai manusia. Selain itu, dengan diakuinya dimensi ruh yang bersifat gaib, psikologi islami mengukuhkan hubungan antara psikologi dengan agama seperti ditunjukkan logoterapi.

***

66 Total Views 3 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +