Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +

Love our website? Signup to our list to keep current on the awesome stuff we’re doing.

Man Ana? Siapa Saya?

Oleh : Arrizal Firdaus

Sangat mudah kita mengatakan, “Siapa saya?”

Gampang kita mengatakan, “Siapa saya?”

Akan tetapi sulit untuk memahami, “Siapa saya?”

Orang lain tidak seutuh dan sepenuhnya mengenal diri saya akan tetapi yang memahami yang mengenal diri saya sendiri yaitu saya, ketika kita bertanya kepada keluarga kita, saudara kita, teman kita, dan orang lain mengenai siapa saya? Terkadang orang itu menjawab dengan menertawakan kita, ada yang menjawab dengan candaan, dan ada pula yang menjawab dengan serius.

Kalau kita resapi arti dari “siapa saya” secara mendalam makna dan tujuannya dan itu banyak orang yang tidak mengerti dan tidak paham maksud pertanyaan “siapa saya”. Marilah kita pahami kita perdalam mengenai pertanyaan, “Siapa saya?”

Saya dilahirkan dari air yang hina dan Allah menciptakan nenek moyang kita yaitu Nabi Adam dan Siti Hawa turun-temurun dan sampai pada tahun 1992 M saya dilahirkan ke dunia ini. Empat bulan Allah meniupkan ruh kepada saya kemudian 9 bulan saya dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan suci kemudian orang tua saya merawat saya dengan kasih dan sayang kemudian menjaga dan merawat saya dari kecil hingga sebesar ini, sampai saat ini saya masih menyulitkan orang tua dan keluarga saya.

Siapa saya?

Tujuan hidup saya apa?

Akan kembali ke mana ketika saya mati?

Marilah kita memahami dan mengkonsep diri kita untuk mengetahui siapa saya yang sebenarnya. Sebut saja nama saya Mantovani. Saya tinggal di daerah Jakarta. Keluarga saya termasuk keluarga yang agamis. Pendidikan sekolah saya dari TK sampai SMA di lingkungan agamis. Orang tua saya, ayah sebagai guru dan ibu saya pekerja swasta. Saya mempunyai saudara kandung 4 dan saya anak ke-3 dari 5 bersaudara dan di tahun inilah tahun terberat yang saya alami.

Tahun 2014 merupakan tahun yang berat. Saya mulai mengonsumsi NAZA di tahun 2014. Berawal dari coba-coba hingga menjadi pecandu terjadi di tahun 2014 dan di tahun ini ayah mengetahui saya sebagai pemakai NAZA karena melihat prilaku saya yang menggampangkan. Saya suka bolos, suka mengambil uang orang tua, dan ketika orang tua menasehati hanya manggut-manggut saja tetapi tidak menyadari apa yang dibicarakan orang tua. Saya tertangkap polisi dan disitulah saya melihat ayah menangis di depan mata saya sendiri.

Rasa kesal dan sedih bercampur aduk. Ayah yang seorang penceramah dan juga seorang guru yang selalu menyampaikan kebaikan kepada murid-muridnya ternyata saya yang menghancurkan prinsip dan harga diri ayah.

Untuk pemulihan gangguan penyalahgunaan zat (GPZ) saya dimasukan ke Madani Mental Health Care yang berada di Jakarta Timur, Kebon Nanas, Kuburan Cina. Madani merupakan salah satu tempat rehabilitasi bagi pecandu NAZA yang diawali konsultasi dengan Prof. Dr. H. Dadang Hawari, Psikiater.

Setelah konsul saya direkomendasikan untuk rawat inap di Madani Mental Health Care. Di Madani saya menjalani rehab yang metodenya yaitu BPSS (Biologik, Psikologik, Sosial, dan Spritual) dan di sinilah saya digembleng. Dikuatkan mental saya dan perilaku saya mulai dari ibadahnya, melakukan perbuatan positif di lingkungan positif, kesadaran akan bagian dari penyakit saya, dan lain-lain.

Setelah selesai dari Madani, apa yang saya dapat di Madani saya aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dan saya mengikuti cara ayah supaya saya bisa seperti ayah agar saya bisa berhenti NAZA di antaranya puasa, sholat lima waktu, sholat sunnah malam, di lingkungan yang baik, tidak komunikasi, dan interaksi sama pemakai NAZA kembali. Alhamdulillah saya bisa berhenti menggunakan NAZA dan salah satu yang saya ingat di Madani itu ada janji santri Madani yang isinya:

“Saya menyadari:

  1. Bahwa saya bermasalah
  2. Bahwa saya tidak sempurna
  3. Bahwa saya tidak ada tempat untuk bernaung
  4. Saya meyakini bahwa setiap masalah pasti ada solusinya bahwa selalu ada harapan untuk memperbaiki diri
  5. DiMadani, kami bersama untuk memulai langkah perubahan
  6. Saya menyadari dan meyakini bahwa bersama Allah adalah jalan kebahagianku.

Adapun untuk mengetahui “siapa saya”. Tentunya konsep diri positif akan memperlihatkan kepribadian yang baik. Ada beberapa hal yang perlu diketahui untuk membentuk konsep diri positif yaitu (https://steemit.com):

  1. Citra Tubuh (Gambaran Diri)

Pasti setiap manusia merasa ada yang kurang dalam dirinya mulai dari berat badan, wajah yang ditumbuhi banyak jerawat, warna kulit yang terlalu gelap, atau apalah yang membuat merasa dirimu tidak nyaman. Dan, ini yang harus kita sikapi dengan realistis dalam menjalani kehidupan. Apa yang sudah ditetapkan harus dijalani dan kita harus berani dan bahagia.

  1. Peran Diri

Sikap dan perilaku yang diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat disebut sebagai peran diri. Contohnya, orang tua berperan untuk menafkahi anak-anaknya, bukan hanya ayah tetapi juga ibu karena peran orang tua ditetapkan semenjak anak mereka lahir. Sedangkan peran yang diterima adalah peran yang dipilih oleh individu itu sendiri. Misalnya, ia memilih jadi guru maka perannya menjadi guru.

  1. Identitas diri

Mengenal identitas diri bukan hanya mengenal jenis kelamin, tapi mengenal diri sebagai manusia yang utuh dan berbeda dengan orang lain. Oleh karenanya untuk mengenal diri kita, perlu mengetahui identitas diri kita sebenarnya.

  1. Ideal Diri

Bila ideal diri yang kamu bentuk sesuai kemampuan yang kamu miliki maka ini akan mewujudkan cita-cita dan harapan pribadimu.

  1. Harga Diri

Bila kita telah mengetahui empat hal di atas maka tentunya harga diri kita semakin meningkat.

Adapun dari segi spiritual agar kita memahami “siapa saya”. Maka sebelum mengenal diri dengan baik manusia harus memahami dan mengetahui dari apakah ia dibentuk dan apa saja yang ada pada dirinya dasar manusia diciptakan oleh Allah SWT. Dengan dua jenis jasad dan ruh.

  1. Fisik

Manusia melakukan aktivitasnya di dunia dengan fisiknya dan rupanya. Allah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya bentuk dan lebih baik dibandingkan dengan makhluk lainnya sebagaimana disebutkan dalam ayat, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At Tin : 4)

  1. Ruhani atau Jiwa

Manusia tidak disebut manusia jika ia tidak memiliki jiwa. Dengan demikian jiwa seorang manusia sesuatu yang diciptakan Allah untuk mendiami raga dan jiwa. Raga dan jiwalah yang mengendalikan akal, hati, dan nafsu seseorang.

Adapun cara mengenali diri sendiri atau siapa saya dan mengetahui tujuan hidupnya maka bisa dilakukan dengan cara:

  1. Mengamati diri sendiri

Seorang manusia hendaknya memperhatikan dirinya sendiri dan mengetahui untuk apa ia diciptakan. Dengan mengamati dirinya sendiri maka seorang manusia bisa merasakan bahwa dalam dirinya ada jiwa yang bernaung dan tubuh adalah tempat di mana jiwa itu tinggal.

  1. Mengetahui hakikat penciptaan

Manusia diciptakan dengan satu tujuan dan hakikat tujuan penciptaan manusia untuk beribadah dan merindukan pertemuan dengan Allah dan disebutkan dalam firman Allah, “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku.” (QS Adz Dzariyah : 56).

  1. Bersyukur kepada Allah SWT

Dengan mensyukuri nikmat Allah SWT seorang manusia dapat mengenali dirinya dengan baik dan mengenal Allah SWT. Seseorang yang mensyukuri nikmat Allah tentunya akan senantiasa menyadari bahwa dirinya tidak ada apa-apanya di hadapan Allah SWT.

Dalam ayat Al Qur’an disebutkan, Dan ingatlah juga, tatkala Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim: 7)

  1. Mengetahui peran dan kedudukannya

Allah SWT menciptakan manusia dan menjadikan kholifah di muka bumi ini. Dengan demikian, manusia yang mengenal dirinya senantiasa mengingat peran dan kedudukannya di muka bumi sebagai kholifah dan pemimpin setidaknya bagi dirinya sendiri, dengan mengingat perannya sebagai kholifah maka ia bisa memperlakukan orang lain dan alam sekitarnya dengan baik dan menjaga sesuatu sesuai hakikatnya sebagaimana disebutkan dalam Al Baqoroh ayat 30.

Dengan kita mengambil konsep ini maka kita akan mengenal diri kita sebagaimana hadits Rosulullah SAW, “Barang siapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya dan barang siapa yang mengenal Tuhannya maka binasalah (fana) dirinya.”

Selamat hari milad Madani. Bulan ini telah memenuhi 20 tahun kehidupan Madani. Semoga dengan berumur 20 tahun ini Madani semakin sukses dan jaya.

#Artikel Lomba Karya Tulis Milad Madani XX 2019.

222 Total Views 6 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +