Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +

Love our website? Signup to our list to keep current on the awesome stuff we’re doing.

Madani Terus Berevolusi

(Reportase Milad Madani XX 2019)

madanionline(dot)org – Senin, 11 November 2019 merupakan sebuah hari yang sangat spesial bagi Yayasan Madani Mental Health Care (MMHC). Madani kini sudah genap berusia 20 tahun. Dalam rangkaian peringatan Milad Madani XX 2019 kali ini diadakan di Pendopo Madani dengan dihadiri seluruh staf, santri, alumni ustadz, alumni santri, dan para undangan lainnya.

Penampilan bermusik para santri Madani ikut menyambut perayaan Milad Madani tersebut. Pak De Agus sebagai Penasihat Madani memberikan semangat kepada Madani untuk terus memupuk setiap perbuatan baik. Sekecil apapun itu. “Berbuat baik meski sedikit untuk masyarakat. Semoga Madani selalu eksis dalam melayani masyarakat,” ujar Pak De Agus.

Pembina Yayasan Madani Mental Health Care, Ust. Darmawan, SAg. memberikan cerita nostalgia mengenai sejarah Madani. Termasuk sejarah beberapa ustadz Madani yang sebelum masuk Madani dalam keadaan kurus, kering, dan gondrong kini setelah beberapa lama mengabdi di Madani penampilannya sudah berubah 180 derajat, “Kini ustadz tersebut sudah gemuk, subur, dan rambutnya rapih,” ujar UsDar disambut gelak tawa para hadirin.

Ketua Yayasan Madani Mental Health Care, Ust. Ginanjar memberikan sebuah pertanyaan, “Apa menu makanan di Madani yang kalau makanan tersebut disebut maka Anda akan langsung teringat pada Madani?” Para hadirin memberikan jawaban beragam, ada yang menjawab jengkol, sayur asem, dan beragam menu khas Madani lainnya.

Di sisi lain UGyn memberikan kesempatan kepada ustadz dan staf alumni untuk bercerita mengenai hal yang paling menarik yang mereka dapatkan selama berjuang di Madani. Ust. Rinto, Ust. Awe, dan Kang Udin dipersilahkan maju ke depan untuk menyampaikan hal tersebut.

SANSS (Sekumpulan Anak Nakal yang Sudah Sadar) Band kembali hadir untuk mencairkan dan meregangkan otot setelah sesi sambutan. SANSS Band merupakan band yang berisi para santri Madani yang memiliki hobi bermain musik. Pada penampilannya ini mereka membawakan sebuah lagu karya mereka sendiri berjudul, “NAZA, Narkoba Alkohol dan Zat Adiktif lainnya.”

“Karena NAZA bikin gila selamanya…” demikian petikan lagu SANSS Band.

Milad Madani XX 2019 juga dimeriahkan dengan permainan Kahoot yang dipandu oleh UGyn. Beragam pertanyaan diajukan. Umumnya pertanyaan yang muncul adalah mengenai Madani, Prof. Dadang Hawari, dan tak lupa sesekali muncul pertanyaan sekitar Keluarga Besar H. Radi.

Pembina Yayasan Madani Mental Health Care, UsDar memberikan sertifikat tanah Madani. Sertifikat tersebut diberikan kepada UGyn, UJams, USam, Mbak Santi, dan beberapa konselor Madani lain yang dinilai layak menerima sertifikat oleh Para Deputi Madani.

Ada juga momen tukar kado dalam Milad kali ini. Kado yang dikumpulkan harus bernilai minimal Rp. 50.000,-. Sebuah lagu mengiringi prosesi pertukaran kado tersebut. Saat lagu berlangsung para peserta saling oper-operan kado sesuai dengan arahan dari Ust. Harid dan UGyn.

Pada kesempatan ini, Ust. Lukman sebagai salah satu alumni ustadz Madani diberi waktu untuk menyampaikan sambutan.

Ust. Lukman mengatakan, “UsDar adalah motivator saya. Waktu itu kami bukan mengalami krisis keuangan. Bukan juga krisis santri. Yang kami alami dahulu adalah krisis kepercayaan.

”Perjalanan sebuah kesuksesan selalu diiringi dengan ujian. Ujian adalah jalan bagi kita untuk berpikir sehat bukan malah menjadi berpikir sakit.”

Jika Anda kerja di Madani untuk mengejar gaji itu salah. Karena rezeki termasuk gaji itu sudah ada yang mengatur. Tugas kita di Madani adalah terus mengabdi untuk negeri,” demikian “struman-struman” dari Ust. Lukman yang sekarang menetap di Pondok Ranggon setelah sekian lama berjuang di daerah Banyuwangi.

Satu per satu sahabat dekat UsDar juga turut memberikan sambutan dan membagikan pengalaman hidup mereka bersama Madani yang mereka harap mampu diambil hikmah dan pelajarannya bersama.

Ada Ust. Zaenal yang selain sahabat beliau juga alumni konselor Madani. Ada Mpok Oyah yang merupakan sahabat lama UsDar. Mpok Oyah bersahabat dengan UsDar sudah sekitar 30 tahun. Mereka bersahabat semenjak masa SMA.

Mpok Oyah berpesan, “Dalam merintis sebuah perjuangan dibutuhkan keuletan dan kesabaran. Jalanin aja apa yang memang harus kita kerjakan. Nanti rezeki itu bakalan menyusul.”

Mpok Oyah juga membagikan pengalaman masa lalunya saat menjadi seorang pengusaha roti yang sukses sampai pada akhirnya (dan sampai hari ini) ia menjadi seorang OG (Office Girl).

Mpok Oyah meneruskan pesannya, “Supaya rezeki menjadi berkah, kita harus terima dan ikhlas atas apapun rezeki yang Allah berikan dalam kehidupan. Hari ini saya menjadi OG, tapi di saat yang lain salah satu anak saya berhasil menjadi pengusaha sukses. Ia mendirikan Madu Pramuka yang terkenal itu. Namun, ia tidak menggenggamnya. Ia melepas dan membiarkan usaha yang ia rintis itu berkembang.

Jangan sekali-kali kita menjadi orang yang sombong. Kesombongan pada seseorang itulah yang pada akhirnya pada suatu hari nanti akan membuat ia terjungkal, terjatuh, atau nyungsep.

Teman-teman mungkin saja biasa disebut ustadz. Tapi mohon maaf itu hanya secara keilmuan saja. Apakah kemudian kita semua sudah mampu menjalankan ajaran agama yang sudah kita ketahui ke dalam kehidupan dan perilaku kita sehari-hari?”

Di penghujung sambutan Mpok Oyah menyampaikan, “Mencari tahu siapa teman itu bukan saat kita senang namun saat kita sedang mengalami kesusahan.”

Sambutan berikutnya disampaikan Mpok Mimih yang dijuluki Ustadzah dari Pulo Gadung. Mpok Mimih bukanlah orang yang pilih-pilih dalam berteman. Ia juga menyampaikan bahwa baru mau bicara jika ia sudah berhasil melakukannya sendiri.

“Saya tidak pernah memiliki niat sedikitpun dalam menjalin sebuah hubungan pertemanan supaya meraih manfaat dari teman-teman saya tersebut,” ujar Mpok Mimih lirih.

Sampailah agenda Milad Madani XX 2019 ini pada pengumuman Lomba Tulis Milad XX Madani 2019 yang melahirkan tiga pemenang. Pertama, Ust. Harid meraih hadiah Rp. 1.000.000,-. Kedua, Ust. Yuki mendapatkan hadiah Rp. 750.000,-. Dan, ketiga Ust. Gyn memeroleh hadiah Rp. 500.000,-

Mohamad Istihori sebagai Dewan Juri lomba tersebut menyampaikan pendapatnya yang berjudul, “Teruslah Berkarya, Wahai Para Juara.” Berikut kutipan lengkapnya :

Teruslah Berkarya, Wahai Para Juara

(Prakata Pengumuman Lomba Karya Tulis Milad Madani XX 2019)

Oleh : Mohamad Istihori

Assalamu`alaikum wr. wb.

Yang kami hormati, 1. Pembina Yayasan Madani Mental Health Care, Ust. Darmawan, Sag. 2. Para Deputi Madani. 3. Para Ustadz/Konselor Madani. 4. Para Alumni Ustadz dan Alumni Santri. 5. Para Hadirin yang namanya tidak bisa kami sebutkan satu per satu namun sama sekali tidak mengurangi rasa hormat kami. 6. Tak lupa hormat kami kepada para penulis Lomba Karya Tulis Milad Madani XX 2019.

MaPress (Madani Press) sebagai sebuah lembaga yang salah satu tujuannya adalah meningkatkan semangat menulis seluruh komponen yang ada di Madani sangat berterima kasih kepada Yayasan Madani Mental Health Care (MMHC) yang senantiasa memberikan dukungan materil maupun nonmaterial demi terwujudnya tujuan tersebut.

Yang pertama, menulis pada mulanya adalah masalah rasa. Kepada orang yang belum merasakan kita tidak bisa bicara banyak. kepada orang yang sudah sama-sama pernah merasakan hal tersebut nggak usah banyak diomongin. Cukup dikasih klu sedikit maka kita sudah sama-sama tahu rasanya.

kalau saya misalnya, menjelaskan rasa manggis kepada orang Turki, saya akan mengalami kesulitan. Dia bertanya, “Manisnya kayak gula?”

“Nggak.”

“”Kayak apel?”

“Nggak juga.”

Begitu saya jejelin manggis itu ke mulutnya, barulah ia tahu bagaimana rasa manggis yang sebenarnya. Nah, Lomba Karya Tulis Milad Madani XX 2019 ini adalah bagaimana MaPress ngejejelin rasa menulis ke seluruh teman-teman Madani supaya teman-teman mengetahui rasa menulis yang sebenarnya.

Setelah itu baru yang kedua, setelah semua rasa yang ada kita tuangkan ke dalam sebuah tulisan, dalam hal ini rasa tentang Sejarah Madani yang menjadi tema utama Lomba Karya Tulis Milad Madani XX 2019, baru kita cek EYD-nya. Jadilah kita selain penulis juga berperan sebagai editor dari tulisan kita sendiri.

Ketiga, kita kritisi. Sudah lengkap belum data pendukung atau referensinya. Kalau yang namanya karya tulis berarti referensi primernya adalah buku atau jurnal ilmiah. Kalau data atau referensi dari internet mohon maaf itu referensi skunder bukan primer.

Keempat. Yang terakhir. Kita cek ukuran huruf (font size), jenis huruf (font style), ukuran kertas, spasi antar paragrap, dan lain sebagainya yang menjadi syarat dan ketentuan dari lomba menulis yang kita hendak ikuti.

Terima kasih untuk yang sudah bersedia menyediakan waktunya untuk mengirimkan tulisan pada Lomba Karya Tulis Milad Madani XX 2019 kali ini.

Terima kasih juga buat yang belum sempat mengirimkan tulisan. Saya yakin yang belum ngirim bukan terutama karena nggak mau ngirim hanya saja karena masih memiliki kesibukan mengabdi kepada Madani, keluarga, atau masyarakat sekitar sehingga insya Allah pada kesempatan lain kami harap akan lebih banyak lagi tulisan yang bisa masuk ke MaPress.

Terakhir, ucapan selamat kami untuk para juara. Juara I, II, dan III. Tetaplah menulis wahai para juara. Teruslah berkarya sehingga setiap orang bisa mengenal dan mencintai Madani yang salah satu sebabnya adalah setelah mereka membaca tulisan kita tentang Madani.

Salam Lurus-Meyakinkan.

#

Demikian reportase Milad Madani XX 2019 dari saya. Semoga kita bisa berjumpa lagi dalam Milad Madani tahun depan. Aamiin. (istihori)

189 Total Views 6 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +