Madani Salurkan Daging Kurban dari Jakarta hingga Desa Sipak

madanionline.org – Pada perayaan Idul Adha (Hari Raya Kurban) 1438 H/2017 M, Panti Rehabilitasi Narkoba, Madani Mental Health Care telah menyalurkan daging kurban sebanyak sekitar 800 paket daging kurban bagi penerima di Jakarta dan Desa Sipak.

Para mudhoi (pekurban) berasal dari keluarga Usdar, Remaja Masjid Pondok Indah, dan tiga alumni Madani. Setiap tahun Madani selalu konsisten dan profesional dalam mendistribusikan seluruh hewan kurban kepada setiap pihak yang membutuhkan.

Ust. Yuki terpilih sebagai Ketua Panita perayaan Idul Adha kali ini. Meski dirasakan sulit dan mendapatkan banyak kendala, dengan kerja sama seluruh panitia acara penyembelihan hingga penyerahan daging kurban dapat berjalan dengan lancar.

Foto 1 Ketua Panitia Kurban, UKie
Foto 1: Ketua Panitia Kurban, UKie

Penyembelihan dan penyerahan hewan kurban di Jakarta diadakan pada Jum’at, 1 September 2017. Panitia menerima satu ekor kerbau dan enam ekor kambing. Seluruh daging kurban tersebut diserahkan kepada sekitar 400 orang yang berhak menerimanya (mustahik).

Foto 2 Kurban Madani di Jakarta
Foto 2: Kurban Madani di Jakarta

Madani juga menggelar penyembelihan dan penyerahan hewan kurban di Desa Sipak, Jasing, Bogor pada Sabtu, 2 September 2017. Daging kurban dibagikan kepada yatim, janda, lansia, dan dhuafa yang berjumlah 400 orang dengan satu kerbau dan enam domba. Satu domba untuk guru Paud as Syifa. Sumbangsih dari keluarga Usdar, Remaja Masjid Pondok Indah, dan tiga alumni Madani.

Foto 3 Kurban Madani di Desa Sipak, Jasinga, Bogor
Foto 3: Kurban Madani di Desa Sipak, Jasinga, Bogor

Penyebaran kedua di Desa Sipak, Jasinga, Bogor ini sengaja dilakukan oleh Madani agar daging kurban dapat didistribusikan merata sampai menjangkau pelosok desa dan perkampungan. Bukan hanya dirasakan oleh penduduk Jakarta yang berada di sekitar Madani.

Masih banyak kasus ketidakmerataan penyebaran daging kurban yang hanya menumpuk di wilayah perkotaan. Pada kenyataannya memang masih banyak penduduk di pelosok atau wilayah terpencil yang masih memiliki berbagai keterbatasan sehingga harus mengurungkan niat berkurbannya. (mohamad istihori)

369 Total Views 9 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +