Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +

Love our website? Signup to our list to keep current on the awesome stuff we’re doing.

LGBT, Arogansi Paman Sam

Oleh : Julizar Firmansyah S.Sos., M.Hum*

Obama ketika menjabat sebagai Presiden AS, tepatnya pada akhir tahun 2015, mendeklarasikan persetujuannya terhadap perkawinan sejenis dalam kelompok LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) di Gedung Putih.

Karena itu pada awal 2016 fenomena LGBT menyeruak ke permukaan. Tak cuma itu, Paman Sam menunggangi PBB untuk menyebarluaskan paham LGBT, utamanya di negara-negara yang masih belum menerima hegemoni AS, seperti Thailand, Cina, Indonesia, dan Filipina.

Perlu diketahui, dana yang digelontorkan tidak main-main. Program Pembangunan PBB (UNDP) untuk tahun 2014-2017 merogoh kocek sebesar 8 juta dolar AS. Imbas deklarasi Obama turut memengaruhi Indonesia. Sejak saat itu LGBT yang semula merupakan fenomena individual menjadi fenomena sosial lantaran komunitasnya berani mendeklarasikan diri serta muncul ke permukaan, sehingga menimbulkan kehebohan masyarakat.

LGBT merupakan bentuk hipokrit AS, yang dengan dalih demokrasi, HAM, dan rasionalisasi gen, telah melegalisasi penyimpangan LGBT. Di Tanah Air, Kedubes AS untuk Indonesia (2016), Robert O Blake, mendesak Pemerintah Indonesia untuk mengambil sikap serupa. LGBT akan menjadi salah satu agenda penting AS untuk merusak ketahanan negara-negara lain, terutama Indonesia.

Bahkan APA (The American Psychiatric Association) melalui bukunya Diagnostic Statistical Manual telah mengeluarkan (tidak memasukkan) LGBT sebagai penyakit jiwa. APA berharap, psikiater di seluruh dunia mengikutinya.

LGBT memiliki dampak destruktif yang luar biasa. Bukan hanya Islam yang mengharamkannya, melainkan pula Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

Absurditas Demokrasi
Kelompok LGBT mengklaim eksistensi mereka didasari dukungan ilmiah serta absah menurut perspektif demokrasi. Padahal demokrasi Barat sendiri memiliki masalah karena berwatak sekular. Sekularisme, yang menjadi pijakan teoretis dari sekularisasi, adalah paham yang membahayakan.

Sekularisme memisahkan antara agama dan ranah sosial, sedangkan dalam Islam keduanya diintegrasikan satu sama lain. Dalam bahasa Prof. H.A.R. Gibb, “Islam is not merely a system of theology, it is a complete civilization.”

Demokrasi sekular ini yang coba diimpor oleh Barat ke seluruh penjuru dunia lewat hegemoni negara adidaya itu. Dengan arogan, Paman Sam memaksakan LGBT diterima negara-negara lain, termasuk negara-negara muslim seperti Indonesia.

Bagi bangsa muslim seperti Indonesia, ajaran yang kontra terhadap LGBT sudah jelas, misalnya yang terdapat pada QS An-Nisa: 1 yakni “Hai sekalian manusia bertawakallah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.”

Demokrasi sekular semacam ini dikritik keras oleh teodemokrasi seperti yang dikedepankan Abul A’la Al-Maududi, ulama Pakistan, pendiri Jama’ah Al-Islami. Teodemokrasi secara sederhana dapat dimaknai sebagai demokrasi yang berketuhanan atau demokrasi religius.

Dalam teodemokrasi, suara mayoritas tidak boleh berlawanan dengan ajaran agama. Demokrasi Pancasila, menurut penulis, masih dapat dikategorikan sebagai teodemokrasi. Itulah sebabnya, dalam Negara Demokrasi Pancasila, LGBT tidak dibenarkan keberadaannya. Demokrasi sekular Barat penuh dengan absurditas, sehingga tidak layak diaktualisasikan di Indonesia.

Bagaimana pandangan Islam tentang cinta? Menurut perspektif filsafat Islam, cinta sejati tidak mungkin tumbuh pada masyarakat yang serba boleh secara seksual dan sekular. Masyarakat seperti itu tidak memiliki syarat-syarat yang diperlukan untuk mengembangkan cinta sejati, bahkan dalam konteks romantis atau puitis sekalipun.

Umumnya pasangan yang menikah pada masyarakat modern tidak memiliki perspektif yang menyeluruh seperti yang dimiliki Islam, sehingga mereka tidak dapat mencapai hubungan cinta yang tulus dan mengikat mereka secara mendalam. Cinta yang hidup pada kaum LGBT jelas, menurut tinjauan ini, bukan cinta sejati dan bertentangan dengan teodemokrasi.

Sesat Pikir Barat
LGBT lahir dari rahim filsafat Barat tentang manusia. Bagaimana pandangan-dunia (weltanschauung/world view) Barat mengenai manusia? Pandangan-dunialah yang membedakan antara satu peradaban dengan peradaban lainnya. Pandangan-dunia Islam, demikian pula pandangan-dunia Pancasila, dalam memandang hubungan antara manusia-Tuhan-alam berbeda kontras dengan Barat yang tidak menempatkan Tuhan dalam relasi tersebut. God is death, kata Nietsczhe.

Semangat anti-Tuhan ala Nietschzean inilah yang hidup di masyarakat Barat dalam segala lapangan kehidupan. Rasionalisme yang diperkenalkan Ibnu Rusyd, atau di Barat dikenal sebagai Averroism, telah dilucuti unsur keilahiannya. Rasionalisme anti-Tuhan, atau minimal meminggirkan Tuhan, yang menjiwai sains modern yang berwujud sebagai saintisme, menjadi ideologi akademis yang merambah ke kehidupan masyarakat Barat secara meluas dalam segala aspeknya, termasuk urusan percintaan.

Filsafat Baratlah yang menyebabkan sains modern telah menciptakan bencana seperti Perang Dunia, genosida, alienasi manusia dalam pekerjaannya, menjadikan pekerja hanya sekadar sekrup dalam industrialisasi, dan sebagainya.

Kehidupan seks di Barat mengikuti apa yang dikatakan Sigmund Freud bahwa “manusia adalah robot yang digerakkan oleh nafsu seksual.” Agaknya komunitas LGBT beranggapan bahwa pilihan mereka adalah rasional dan bertanggung jawab, sebagaimana diajarkan psikologi humanistik bahwa manusia ialah makhluk yang unik: rasional dan bertanggung jawab. LGBT selain itu adalah orang-orang hedonis, pencari kenikmatan dan menghindari penderitaan.

Apakah betul manusia adalah makhluk rasional? Apa yang dimaksud rasional? Bila yang dimaksud ialah kemampuan untuk memecahkan persoalan, bukankah simpanse Kohler juga rasional? Ia bisa mengambil pisang di atas atap kandangnya dengan menumpukkan peti yang berserakan, tepat di bawah pisang.

Pada saat yang sama, bagaimana kita dapat menjelaskan tingkah laku para politisi yang tidak rasional, perilaku membeli barang-barang tanpa berpikir sehat, atau massa yang memilih partai tertentu berdasarkan kaitan emosional?

Manusia ialah makhluk yang bertanggung jawab. Anggapan yang sangat sombong! Bagaimana dengan induk ayam yang melebarkan sayapnya untuk melindungi anak-anaknya yang terancam? Lalu bandingkan dengan para koruptor kelas kakap di kantor-kantor pemerintah.

Di Barat, pemisahan antara iman dan sains telah menghancurkan kehidupan sosial. Konsekuensi logis dari dikotomi itu adalah lahirnya saintisme, yaitu isme bahwa sains adalah satu-satunya yang dapat memecahkan semua problem umat manusia, bukan agama.

Lahir gerakan anti-Kristus di mana-mana seperti pada musik thrash metal, sekalipun ada perkecualian seperti pada sosok Dave Mustaine, seorang lead guitarist dan vokalis band Megadeth. Ia merupakan musisi metal yang cukup religius.

Benarkah sains adalah satu-satunya penyelamat dan pemberi jawaban bagi seluruh problem manusia? Kebebasan yang tiada terhingga dalam gaya hidup dan sebagainya sebagai akibat filsafat liberal, penyalahgunaan NAPZA dan miras, kegersangan spiritual lantaran tercerabutnya agama dan spiritualitas dari kehidupan, PD I dan PD II beserta kekejaman tak terperikan di kamp-kamp konsentrasi.

Mazhab Pemikiran Islam
Sesungguhnya perbedaan terpenting dan fundamental yang membedakan antara manusia dan hewan adalah iman dan sains yang merupakan kriteria kemanusiaannya. Karena iman dan sains merupakan karakteristik kemanusiaan, maka pemisahan keduanya akan menurunkan martabat manusia. Iman tanpa sains mengakibatkan fanatisme, radikalisme, kemunduran, takhayul dan kebodohan.

Sains tanpa iman akan digunakan untuk memuaskan kerakusan, ekspansi imperialisme, ambisi, penindasan, perbudakan, penipuan, dan kecurangan. Islam adalah satu-satunya agama yang mengintegrasikan iman dan sains. Inilah mazhab pemikiran Islam yang merupakan antithesis sesat pikir Barat, terutama Amerika yang menghegemoni dunia lewat globalisasi.

LGBT sejatinya adalah Amerikanisasi seks bebas sesama jenis dan penyimpangan seksual lain seperti biseks dengan risiko tertular HIV/AIDS dan lain-lain. Modernisme Barat, yang dipimpin Paman Sam, telah dan masih didekonstruksi oleh pemikiran Barat seperti posmodernisme. Jika posmodernisme dipahami secara sederhana sebagai gerakan kontra terhadap modernisme, maka gerakan fundamentalisme agama juga termasuk gerakan posmodern.

Gerakan keagamaan semacam inilah yang mampu melawan modernisme Amerika. Paman Sam-lah biang kerok yang mengglobalkan LGBT termasuk ke Indonesia. Sebagai bangsa muslim terbesar di dunia, sudah merupakan kewajiban umat Islam untuk kontra terhadap Amerika, sang pelopor LGBT demi keselamatan anak-anak bangsa. Al-Quran surat At-Taubah ayat 32 dan 33 memberi optimisme bahwa Islam-lah yang akan menang terhadap berbagai cara hidup (way of life) liberal sebagaimana LGBT. Amin Yaa Robbal ‘Alamin.

*Penulis adalah alumnus S2 filsafat UI

117 Total Views 3 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +