Keprihatinan Kaum Wanita

pp-1Oleh: Sabam Dindin

"Blue code, blue code di lantai IV R. Melati," suara penging itu cukup jelas terdengar di telinga saya. Hari masih pagi di mana semua orang sedang sibuk dengan pekerjaan masing masing (blue code adalah kode darurat medis).

Tidak lama aku mendapat kabar bahwa teman tercinta kami sudah kembali ke pangkuan Illahi. Serentak kami kaget. Seorang ibu yang bekerja keras selama ini, di mana saat jam istirahat dia gunakan untuk berdagang demi membiayai kehidupan anak-anaknya. Semenjak suaminya meninggal tiga bulan yang lalu, yang lebih mengagetkan lagi ternyata almarhumah  adalah seorang yang positif HIV yang selama ini kita tahu dia hanya menderita TB paru, dari mana dia mendapat virus mematikan itu?

Seorang wanita yang setia pada pasangannya. Seorang muslimah yang taat beribadah dan seorang ibu yang sangat sayang dengan keluarganya . Oh Tuhan ternyata dia tertular dari suaminya  yang pecandu narkoba. Sungguh menyedihkan bagi kami kaum hawa. Berapa banyak kaum hawa yang produktif menderita HIV tanpa dia sadari, bahkan anak-anak tanpa dosa juga terkena HIV.

Sampai kapan  masalah ini teratasi?  Masalah yang timbul karena  keegoisan kaum lelaki yang tidak terbuka dengan kondisi kesehatannya dengan teman hidupnya, para pecandu narkoba yang tidak pernah ikut screening HIV dan pendrita HIV sendiri yang tidak teratur berobat dan minum obat.

Mari kita putus mata rantai ini untuk menyelamatkan kaum hawa dan bayi-bayi yang mereka lahirkan yang merupakan penerus bangsa. Mari kita galang kesadaran masyarakat terutama kaum yang beresiko menderita HIV untuk melakukan screening HIV dan berhenti memakai narkoba serta melakukan seks bebas.

Kita bentuk kelompok  LSM  yang peduli dengan generasi muda untuk memutus masa rantai HIV dengan  memantau  minum obat secara teratur  pada penderita dan menimalkan efek samping dari penyakitnya. Agar para wanita dan anak dapat terselamatkan dari bahaya HIV dan menuju Indonesia Sehat.

Amiin.

1029 Total Views 3 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +