Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +

Love our website? Signup to our list to keep current on the awesome stuff we’re doing.

Kematian Pandangan-Dunia Materialisme

Oleh : Julizar Firmansyah, S.Sos., M.Hum. *)

Tan Malaka dalam perjuangannya di kancah pergolakan politik menentang penjajah, berdasarkan filsafat materialisme.

Filsafat ini menganggap alam, benda, dan realitas nyata objektif sekeliling sebagai yang ada, yang pokok, dan yang pertama. Materialisme adalah pemikiran fundamental Tan Malaka yang melandasi pergerakannya dengan melihat suasana politik Indonesia.

Karya Tan Malaka, Madilog (materialisme-dialektika-logika) merupakan istilah baru dalam cara berpikir, dengan menghubungkan ilmu bukti serta mengembangkannya dengan jalan dan metode yang sesuai dengan akar dan urat kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan dunia. Teori-teori Tan Malaka inilah yang sangat digemari Soekarno dan tokoh-tokoh pergerakan nasional lainnya. Buku ini menurunkan delapan belas bab tentang Soekarno dan empat bab mengenai Tan Malaka.

Nama Soekarno terinspirasi dari sebuah cerita pewayangan. Dalam kisah tersebut terdapat tokoh bernama Adipati Karno. Dari tokoh itulah nama Koesno Sosrodihardjo pun diganti menjadi Soekarno.

Sejak kecil hingga remaja, ia hidup pada masa penjajahan Belanda. Soekarno sangat berkeinginan sejak remaja untuk segera membebaskan rakyat Indonesia dari para sekutu maupun penjajah. Keinginannya makin bergelora lantaran melihat penderitaan rakyat yang tertindas oleh kolonialisme Belanda. Bahkan rakyat djadikan budak oleh penjajah termasuk Belanda. Ia menyadari keinginannya itu sama sekali tidak gampang. Sayangnya dalam buku ini sisi pemikiran filosofis Bung Karno kurang ditampakkan. Bab-bab yang ada lebih merupakan bab-bab tentang peristiwa yang melibatkan Bung Karno sebagai tokoh utama.

Pada bagian tulisan mengenai Tan Malaka, keadaannya tampak berbeda dengan penulisan tentang Soekarno. Kedua penulis mengatakan, “Sebelum menguraikan tentang pemikiran Tan Malaka, mungkin ada baiknya mengenali terlebih dahulu pandangan Tan Malaka terkait filsafat, karena dari sana akan diketahui proses berpikir dari Tan Malaka sendiri.”

Secara garis besar Tan Malaka meyakini bahwa filsafat tidak lain adalah sebagai pendobrak nalar mistik atau takhayul yang masih berkembang di Negara Timur, terutama wilayah Asia. Bagi Tan Malaka, aufklarung atau era enlightment (pencerahan) hanya terjadi di Eropa. Terbukti dari cara berpikir mistis dan tidak rasional yang hidup pada masyarakat timur. Pemikiran rasional berkembang sangat lambat. Cara berpikir masyarakat timur, yang masih didominasi mistik, telah menyebabkan melemahnya perlawanan revolusioner bangsa Indonesia terhadap penjajah.

Dapat ditarik kesimpulan, filsafat Tan Malaka dapat dirumuskan tidak jauh berbeda dengan apa yang dimaksud oleh Lenin. Metodologi berpikir dan praktik yang sederhananya dapat digambarkan sebagai: tanpa teori revolusioner tidak akan ada aksi revolusioner.

Apa arti revolusi menurut Tan Malaka? Revolusi baginya bukanlah sesuatu yang lahir serta merta begitu saja ada, melainkan diperoleh melalui pergaulan masyarakat, atau dalam istilah lain yang lebih dinamis adalah: revolusi dapat dikatakan sebagai akibat tertentu dan tak terhindarkan akibat pertentangan kelas yang kian hari kian tajam. Secara singkat, makin besar jurang antara kelas yang memerintah dengan kelas yang diperintah, makin besar kemungkinan revolusi.

Pandangan tipikal Marxian seperti itu sudah sangat kuno. Kelas pemodal di negara-negara maju sudah beradaptasi, kelas pekerja ditingkatkan kemakmurannya sehingga tidak berpikir lagi tentang revolusi. Begitu pula ramalan Marx bahwa revolusi akan terjadi di Negara-negara kapitalis pusat dengan industri yang telah maju, ternyata tidak terbukti. Revolusi malah terjadi di Rusia yang waktu itu merupakan negara agraris. Pembaca bisa membandingkan gagasan dalam buku ini dengan buku Franz Magnis-Suseno, Pemikiran Karl Marx.

Pemikiran kiri Soekarno berbeda dengan pemikiran era kiwari dari pemikir muslim kontemporer Hassan Hanafi dari Mesir. Karyanya adalah al-Yassar al-Islami (Kiri Islam). Kiri yang dimaksudnya sama sekali tidak ada kaitan dengan marxisme, melainkan digali dari dua sumber formal Islam, Al-Quran dan Sunnah Rasul.

Soekarno memang melahirkan marxisme yang disesuaikan dengan kondisi Indonesia yang dinamainya marhaenisme, dan menolak marxisme seperti yang berlaku di Barat. Tapi tetap saja filsafat yang diacunya dicurigai sebagian kalangan Islam, tidak bertolak dari pandangan-dunia Islam, sekalipun Bung Karno juga pernah menulis buku tentang pemikiran Islam yang lebih bercorak rasional.

Fenomena pengaruh marxisme sebagai alat analisis sosial juga terlihat dari pemikiran intelektual Islam di Indonesia, M. Dawam Rahardjo. Dawam bersama Adi Sasono dan kawan-kawam setia menggunakan teori-teori dependensia (ketergantungan) untuk membongkar kemiskinan struktural. Mereka adalah orang-orang religius. Bahkan Dawam aktif menulis masalah-masalah keislaman baik dalam buku-bukunya maupun artikel-artikel di beberapa jurnal bergengsi seperti Jurnal Prisma dan Ulumul Quran. Pun demikian dengan Adi Sasono yang pernah menduduki posisi penting di ICMI.

Tan Malaka berpendapat, “Dalam perjuangan untuk keadilan dan politik, manusia tidak membutuhkan atau mencari-cari Tuhan lagi, atau ayat-ayat kitab agama, tetapi langsung menuju sebab-musabab nyata yang merusak atau memperbaiki kehidupan. Di seputar ini sajalah pikiran orang berkutat dan ia dinamakan cita-cita pemerintahan negeri.”

Kutipan Tan Malaka itu makin basi, tanpa mengecilkan nama besar pemikir klasik Indonesia itu –ini bisa sedikit dimaklumi mengingat ia menulis karya-karyanya di zaman yang telah lampau– bila kita melihat prediksi yang kini menjadi kenyataan yakni abad ke-21 adalah kebangkitan agama. Bahkan revolusi abad ke-20 tahun 1979 di Iran merupakan revolusi keagamaan yang membuat kaum kiri sekuler iri. Belum lagi di abad sekarang, kebangkitan agama (khususnya Islam) di berbagai belahan dunia makin memperlihatkan pandangan-dunia materialism dialektis sudah out of date.

Judul : Soekarno & Tan Malaka: Negarawan Sejati yang Pernah Diasingkan
Penulis : Adji Nugroho & Novi Fuji
Penerbit : Yogyakarta: Roemah Soekarno
Tahun terbit : 2020
Isi : vi + 418 hlm

*) Penulis adalah mantan dosen filsafat FKM-UI dan kini magang di Yayasan Madani.

75 Total Views 3 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +