Kejujuran Adalah Kecerdasan Tertinggi

(Catatan 13, Madani Adventure, Gunung Papandayan, Garut, 22-24 Agustus 2017)

madanionline.org – UGyn melanjutkan penjelasannya, “Pada awalnya kita tahu bahwa narkoba itu salah dan dilarang tapi karena lingkungan terus menerus memberikan informasi yang sebaliknya maka lama kelamaan kita jadi terbawa pengaruh negatif lingkungan tersebut.

Keterbawaan seseorang terhadap pengaruh negatif dari lingkungan sekitarnya adalah karena ia kurang fokus dan konsentrasi sehingga sangat mudah terombang-ambing oleh kehidupan.”

“Apa itu fokus? Apa itu konsentrasi?” tanya UGyn.

Salah seorang peserta merespon, “Fokus dan konsentrasi itu adalah ketika akal, hati, dan nafsu kita berada dalam posisi yang setara.”

40 UGyn sedang memberikan renungan malam
(Foto 40: UGyn sedang memberikan renungan malam)

Semua jenis narkoba menyerang otak manusia. Hal inilah yang membuat pecandu narkoba menjadi sulit untuk fokus dan konsentrasi. Terkadang ada yang kita mau omongkan di otak, tapi sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.

UGyn kemudian memberikan sebuah simulasi mengenai sebuah kertas kosong atau yang masih bersih belum ditulis sehuruf pun. Kertas tersebut merupakan sebuah perumpamaan otak manusia.

Sedikit demi sedikit kertas otak tersebut rusak (lecek) seiring dengan masuknya narkoba. Makin banyak dosis yang masuk maka semakin rusak otak kita. Perlahan-lahan dan sedikit-sedikit kita menjalani terapi rehabilitasi untuk memulihkan diri.

Sebagaimana kertas yang sudah lusuh, usang, dan lecek seperti di atas, maka berapapun lamanya jangka waktu yang digunakan tidak akan mampu mengembalikan kondisi otak sebagaimana mestinya seperti kertas yang walalupun sudah diusahakan supaya normal lagi akan tetap saja meninggalkan bekas rusak.

Inilah yang menyebabkan mengapa kita sering tidak fokus dan konsentrasi. Inilah juga yang membuat mengapa para pecandu narkoba harus menjalani terapi psikofarmaka. Kita juga harus bersabar menjalani berbagai terapi dan mengikuti berbagai konsultasi.

Termasuk proses pemulihan juga adalah menjalani salat lima waktu dan mengikuti Madani Adventure kali ini. UGyn lalu bertanya, “Apa yang kalian rasakan sewaktu naik gunung lalu turun kembali? Kepikiran make gele nggak?”

“Sempet,” jawab salah satu peserta.

Banyak memang pihak yang naik gunung bukannya menambah kedekatan dirinya dengan Tuhan eh ini malah semakin jauh karena malah dipakai sebagai kesempatan melakukan maksiat seperti make gele itu tadi.

“Saya apresiasi kejujuran yang tadi ngejawab ‘sempet’ karena kejujuran adalah kecerdasan tertinggi.” Tambah UGyn.

(Mohamad Istihori)

129 Total Views 3 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +