Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +

Love our website? Signup to our list to keep current on the awesome stuff we’re doing.

Jadi Suami-Istri Tidak Hanya Sampai Mati

(Pesan Pernikahan untuk Taufik dan Nisah pada Sabtu, 19 Oktober 2019)

Oleh : Mohamad Istihori

Agenda akhir pekan saya bersama keluarga kali ini adalah menghadiri pernikahan Taufik-Nisah. Ada beberapa pilihan untuk berangkat ke lokasi. Pertama, dari rumah ke Madani. Lalu, dari Madani baru berangkat bersama-sama rombongan mempelai laki-laki. Kedua, sempat terbesit dalam pikiran saya ingin berangkat kondangan naik Trans Jakarta. Dan, ketiga sebagaimana biasa, naik motor.

Setelah beberapa lama berpikir akhirnya saya mengambil keputusan untuk berangkat kondangan naik motor. Sayangnya saya melupakan alternatif keempat, berangkat kondangan bareng Bro Yudho. Hal tersebut baru terpikirkan setelah saya bertemu dan berbincang dengan Bro Yudho di lokasi pernikahan Taufik-Nisah.

Begitu sampai di lokasi saya parkirkan motor saya di halaman sebuah musholla yang letaknya tidak terlalu jauh dari lokasi kediaman Mbak Nisah. Resepsi penerimaan rombongan mempelai pria dilakukan dengan memiliki Budaya Betawi yang sangat kental.

Dimulai dari mengarak rombongan mempelai pria dengan rebana, berbalas pantun Betawi, palang pintu, dan berbagai prosesi penerimaan lainnya yang berjalan dengan segar, lucu, namun tetap memiliki bobot pesan untuk kedua calon pengantin khas Budaya Betawi.

Para undangan nampak beberapa kali berdiri dan mengabadikan sesi “pertarungan” kedua pendekar palang pintu dengan ponsel pintar mereka masing-masing. Hal ini berbanding terbalik dengan anak ketiga saya (Muhammad Itqon Romadhon) yang langsung menangis ketakutan melihat adegan “perkelahian” tersebut.

Kuliner jajanan Khas Betawi juga ikut “menyambut” para undangan. Kami disuguhi lopis, cendil, ketan item, getuk, dan yang tak pernah absen dalam setiap jajanan pada sebuah pesta pernikahan yaitu bakso.

Usai proses penerimaan rombongan mempelai pria, mereka dipandu menuju meja pelaminan oleh pembawa acara kali ini yaitu Ust. Jami atau yang akrab disapa UJams.

Acara ijab dan qobul segera dimulai sesaat setelah Pak Penghulu dari Perwakilan Kantor Urusan Agama (KUA) setempat. Dan, alhamdulillah Mas Taufik dengan tegas dan lancar mampu melewati prosesi ijab dan qobul tersebut.

Mas Taufik pun langsung menjemput Mbak Nisah untuk diajak duduk bersama-sama di atas pelaminan. Berbagai acara satu per satu berjalan sesuai dengan arahan dari UJams sebagai MC.

Ada prosesi acara sungkeman, ucapan selamat dari kerabat dan sahabat kedua mempelai, doa bersama, dan menyalami keduanya yang kemudian diakhiri dengan foto bersama kedua pengantin.

Pada sesi acara pesan untuk kedua pasangan suami-istri yang baru ini Pak Kiai tidak mendoakan Taufik-Nisah menjadi pasangan sampai tua. Beliau juga tidak memanjatkan harapan supaya kedua mempelai menjelma menjadi sepasang suami-istri sampai mati. Karena ada orang jadi pasangan suami-isti sampai tua tapi cerai.

“Ada pasangan suami-istri yang hanya menjadi pasangan suami-istri hanya di dunia saja. Hal ini bukan hanya dialami oleh manusia biasa. Nabi Nuh dengan istrinya hanya menjadi pasangan suami-istri di dunia. Mereka berdua tidak menjadi suami-istri sampai akhirat.

Jadi suami-istri sampai surga. Kalau hanya sampai tua atau sampai mati nanti di surga suami atau istri kita siapa dong. Atau, jangan-jangan pasangan hidup kita beda wilayah. Kita di surga, pasangan di neraka. Atau, bisa jadi sebaliknya, kita di neraka, pasangan di surga.

Wallahu`alam…

165 Total Views 12 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +