Gue ODHA (Orang dengan HIV/AIDS)

ca586966-4b60-410b-868a-5f4333599e2aOleh: Indra Wira Setya Duvyren

Ketika gue divonis terkena virus HIV pemahaman gue tentang hal tersebut masihlah sangat rendah. Gue nggak tahu apa HIV/AIDS itu. Gue diajak oleh sahabat gue untuk bergabung pada sebuah organisasi lembaga swadaya masyarakat (LSM) dengan tujuan sebagai kelompok dukungan sebaya. Hal ini menjadi penguat penerimaan dan pemahaman gue tentang HIV/AIDS.

Motivasi gue timbul kembali. Semangat gue membara lagi. Hidup gue menjadi bernuansa kembali meski gue HIV+ dan harus mengkonsumsi obat anti retroviral virus (ARV) sepanjang hidup.

Gue tetap tersenyum dan terus melangkah dengan sebuah pengharapan hidup gue. Istri gue ketika itu semakin sayang. Anak gue juga selalu mengingatkan untuk senantiasa minum obat berkala per 12 jam dalam setiap harinya.

Gue sadar dan sempat terpikir sampai kapan gue harus mengkonsumsi obat virus itu. Dan, apakah gue bisa sembuh? Ya Allah di saat gue mengadu kepada Allah. Seiring doa dalam shalat, pikiran gue semakin lama semakin mampu untuk mengabaikan semua itu.

Gue nggak memikirkan lagi apa yang harus gue konsumsi itu. Yang jelas gue harus sehat dan tetap semangat. Tiba-tiba gue merasa terstigma dalam lingkungan masyarakat sekitar. Gue dibilang, "Nih orang HIV, bisa menularkan kepada masyarakat sekitar, sebaiknya dikarantina aja deh atau tinggal di hutan biar tidak berinteraksi dengan masyarakat lain dan mengganggu kententrataman masyarkat sekitar.”

Gue terdiam. Gue tersandar di ujung ruangan balai masyarakat. Tanpa sadàr air mata gue menetes. Tanpa sadar napas gue terengah. Gue tidak tahu apa yang harus gue lakukan untuk hidup gue yang terinfeksi virus HIV. Gue ingin teriak. Gue ingin mati saja. Semua orang mencibir. Semua orang menyudutkan. Gue hanya terdiam, terdiam, tanpa suara.

Akhirnya, masalah gue terdengar oleh seorang staf advokasi tempat gue bergabung. Yaitu Kelompok Dukungan Galaherang Support di wilayah Kalimantan Barat. Mereka mendatangi kampung gue. Mereka meminta seluruh warga berkumpul dan mendengarkan apa yang teman gue mau sampaikan.

Mereka memberikan pencerahan mengenai HIV/AIDS, pengertiannya, cara penularannya, dan cara pencegahannya. Pencerahan itu juga membuat gue semakin semangat. Apalagi ketika sahabatku di Galaherang Support itu menyampaikan bahwa apabila seorang pengidap HIV/AIDS dikucilkan dan terbuang dari hak hidupnya maka si pelaku akan dikenakan pasal pencemaran nama baik dan tidak menghargai norma kemanusiaan sesuai UUD 1945 dan juga Pancasila. Karena ODHA berhak hidup sehat dan mendapatkan kesempatan hidup yang sama seperti orang yang lainnya.

Stigma tidak akan menyelesaikan masalah sosial ini. Stigma malah akan memperburuk hak hidup ODHA. Tegas sahabat gue itu. Al Hamdulilah dengan sebuah penegasan apa HIV/AIDS dan bagaimana cara penularannya kepada orang lain, yang tadinya mereka dengan konyolnya mau mengusir gue dari kampung tempat gue tinggal, lambat laun masyarakat sekitar bisa menerima keberadaan gue dan tentunya dengan status HIV+ gue.

Terima kasih ya Allah. Semuanya adalah ketetapan-Mu. Terima kasih ya Allah gue sekarang masih tetap bertahan hingga belasan tahun dan berdamai bersama virus HIV+ gue. Gue ucapakan terima kasih kepada semua pihak yang akhirnya membantu gue sampai detik ini gue bernafas dan terus berkarya.

Meski gue HIV+ gue tetap menjadi bagian dari rakyat negeri ini. Indonesia cinta damai tanpa stigma bagi HIV+. Jauhi virusnya, bukan orangnya.

Itulah sepenggal cerita dan kisah perjuangan gue dalam memperjuangkan hak hidup seorang ODHA untuk bisa diterima kembali dalam lingkungan masyarakatnya. Hidup normal, punya keturunan, dan produktif dalam karya.

HIV bukan akhir segalanya. ODHA juga berhak hidup dan layak mendapatkan kemerdekaan yang hakiki dalam kehidupannya.

1923 Total Views 6 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +