Doa Khusnul Khotimah untuk Sebuah Senyum yang Indah

(Catatan 17, Madani Adventure, Gunung Papandayan, Garut, 22-24 Agustus 2017)

madanionline.org – UGyn mengajak kepada semua peserta untuk menyambungkan akal, hati, dan nafsu untuk mengevaluasi ke dalam diri masing-masing.

“Bayangkan seberapa banyak dosa yang telah kita lakukan selama hidup ini. Bandingkan dengan kebaikan kita. Lebih banyak mana antara dosa dengan kebaikan yang telah kita lakukan? Apa jadinya kalau dosa kita lebih banyak dan tiba-tiba maut menjemput tanpa kita tobat lebih dulu?”

“Bayangkan juga jika kita pulang nanti di depan rumah ada bendera kuning dan ternyata orang terhebat dan yang paling berjasa dalam hidup kita yaitu ibu kita sudah terbujur kaku di sana.

Sedang kita belum sempat meminta maaf kepada beliau atas segala kesalahan yang pernah kita lakukan kepada ibu kita. Sosok yang sangat kita cintai itu sudah terbungkus kain kafan. Kita lari ke kamarnya yang ada  tinggal baju-baju beliau saja.

Kita dulu pernah belagu, mabuk, petantang-petenteng, dan segala macem tetapi begitu diambil satu saja Allah ambil. Begitu pulang ibu kita sudah tiada. Kita ini sungguh adalah makhluk yang tidak memiliki daya dan upaya. Hanya Allah yang memiliki itu semua.

44 Berdoa adalah sebuah kasih sayang yang terindah

(Foto 44: Berdoa adalah sebuah kasih sayang yang terindah)

Oleh karena itu, mari malam ini kita kirim doa yang terindah dan terikhlas untuk ibunda kita yang saat ini masih ada di rumah.”

UGyn pun memanjatkan doa, “Ya Allah ampunilah segala kesalahan dan kekhilafan ibunda kami. Jadikanlah setiap darah dan keringat yang mengalir darinya menjadi aliran sungai yang membawanya ke dalam surga-Mu kelak.

Jika tiba waktunya ibunda kami Engkau ambil, ambillah beliau dalam keadaan yang paling baik. Dalam keadaan husnul khotimah. Dalam keadaan ridho kepada kami sebagai anak-anaknya.

Ibu, maafkan tatap dan sorotan tajam mata kami kerap kali melukaimu. Tangan halus ibu kini telah keriput. Tangan itu lebih banyak mengelus dada karena kecewa kepada kita daripada bangga.

Ya Allah terangkanlah alam kubur ibunda kami. Bayangkan kini sudah tidak ada lagi tangan halus dan lembut yang mengusap kepala kita. Sudah tiada lagi senyum yang indah dan menyejukkan hati itu.”

(Mohamad Istihori)

435 Total Views 3 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +