“Di Mana Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, Kalau LGBT Masih Merajalela?”

(Bagian 2)

Apakah perilaku LGBT dapat diobati?

Oh bisa. Nah, sekarang ada anggapan bahwa LGBT itu karena gen. Nggak bener itu. Ayah-ibunya tidak ada begitu, anaknya kok ada kelainan. Ini bukan gen tapi karena pergaulan. Banyak sarjana-sarjana yang mengatakan, misalnya Albert Bandura (Penemu Teori Belajar Sosial) menyatakan, “Individu memahami sesuatu, tertarik, dan bahkan menunjukkan perilaku tertentu itu diinspirasi, dipengaruhi, dan difasilitasi oleh orang lain, terutama orang-orang yang dianggap penting oleh individu itu.”

Paul Cameron, PhD. juga mengatakan bahwa pengaruh lingkungan di antaranya pendidikan yang pro homoseksual, toleransi sosial, dan hukum terhadap perilaku homoseksual, serta adanya figur yang secara terbuka melakukan homoseksual. Inilah yang menyebabkan mengapa perilaku LGBT dapat menular kepada orang lain.

Banyak sarjana-sarjana lain seperti Prof. Dr. Gray Remafedi dari Universitas Minnesotta AS menyatakan , “Gay disebabkan karena trauma masa kanak-kanak. Trauma itu dalam bentuk kekerasan, pelecehan seksual, dan penelantaran. Oleh karena itu, orang yang mengalami trauma masa lalu amat rentan untuk berperilaku seksual menyimpang, antara lain pernah disodomi sewaktu kecil.

Jadi faktor pada anak-anak. Sekarang kenapa gejalanya makin banyak? Hal ini karena kasus kekerasan seksual pada anak semakin marak. Anak yang mengalami kekerasan LGBT, misalnya disodomi sama orang dewasa lalu merasa ketagihan. Nanti kalau sudah besar, dia begitu lagi sama anak kecil lain. Begitu awal penularannya. Kalau orang dewasa dengan orang dewasa tapi pada awalnya dari situ. Makanya disebut predator.

Kita beberapa tahun yang lalu melakukan kajian ilmiah. Organisasinya juga menghadap sudah Mahkamah Konstitusi (MK). Juga merekomendasi supaya ada tindakan hukum. Tapi pemerintah sekarang acuh tak acuh. Didiamkan saja. Suatu saat para pelaku LGBT semakin berkembang.

Mereka sekarang mulai membuat komunitas sendiri. Komunitas LGBT. Mereka mengadakan berbagai acara sendiri yang terselubung. Mereka juga menjalin hubungan pertemanan dan komunikasi dengan pelaku LGBT dari luar negeri sudah ada. Mereka ada memiliki buku Panduan perihal LGBT. Sayangnya pemerintah kita tidak peduli sama sekali.

Saya pernah menyarankan bahwa LGBT adalah masalah moral dan menjadi tanggung jawab departemen kesehatan, psikiater, serta departemen agama. Tapi nggak satu pun pihak yang acuh tuh. Saya sudah bicara di depan Mahkamah Konstitusi (MK). Nggak ada gaungnya.

Sayang sekali, padahal ini bahaya laten. Bahkan Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu, menyatakan ini suatu proxy war (perang proxy). Artinya, pelan-pelan diubah terlebih dahulu mindset kebudayaannya sampai dapat menerima LGBT. Nanti tinggal meledak saja.

Ini kan di Filipina dan Singapura sudah diberontak. Malah di Rusia yang nggak ada hubungannya dengan agama, itu dilarang. Kalau ada yang berperilaku LGBT dihukum. Kita yang negara Pancasila kok begini. Ini nggak ngerti saya. Ketuhanan Yang Maha Esa di mana? Jadi kesan saya, para pejabat/pemimpin itu nggak ngerti Pancasila.

(Waktu: 2 November 2017. Tempat: Kediaman Prof. Dadang Hawari. Pewawancara: Mohamad Istihori. Kameramen: Arif. Transkrip: Yuno. Editor: Mohamad Istihori)

264 Total Views 3 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +