Derita Hidup Kaum LGBT

madanionline.org – Semakin modern manusia. Justru keadaan mereka semakin memprihatinkan. Apalagi sekarang semakin ramai berbagai kasus hubungan intim sesama jenis. Lebih parah lagi dengan munculnya hubungan intim antara manusia dengan hewan, boneka, robot, dan apa saja yang ada di sekitar mereka.

Mereka pun membentuk perkumpulan atau komunitas. Dengan perlahan namun pasti mereka minta diakui. Mereka menganggap perilaku yang biasa mereka kerjakan bukanlah merupakan sebuah penyimpangan melainkan hanya sebuah variasi.

Orientasi seksual tersebut mereka anggap normal bahkan merupakan fitrah dari Tuhan, bawaan gentik, serta berbagai macam argumentasi yang mereka buat sebagai pembenaran atas perilaku hidup yang sangat tidak wajar tersebut.

Padahal pada kenyataannya, berbagai kasus LGBT (Lesbi, Gay, Biseks, dan Transgender) tersebut tumbuh dari proses perkembangan psikososial seseorang. Lebih spesifik lagi adalah faktor pendidikan di keluarga dan pengaruh pergaulan sehari-harinya.

Para korban LGBT ini pun pada puncaknya mengalami berbagai gangguan kejiwaan seperti stres, cemas, dan depresi. Mereka pun berduyun-duyun mencari pertolongan. Datang untuk berkonsultasi. Sedangkan teman-teman yang dulu teriak memperjuangkan LGBT malah menjauh pergi.

Faktor orang tua menjadi sangat penting untuk mendidik dan mengarahkan perkembangan anak-anak mereka dengan baik dan benar agar tidak terprovokasi oleh ajakan kaum anti Nabi Luth tersebut.

Orang tua hendaknya memberikan perhatian terhadap perkembangan anak-anak mereka sebagai berikut:
1. Fisik (Biologik): Alat kelamin sesuai dengan kondisi kejiwaannya.
2. Kejiwaan (Psikologik): Secara kejiwaan sesuai dengan jenis kelamin yang ada pada anak (biologik).
3. Sosial (Adaptatif): Mampu menyesuaikan diri dengan tempat di mana ia menginjakkan kaki.
4. Spiritual (Iman dan Takwa): Menjalankan ibadah sesuai dengan kondisi biologik dan psikologik yang ada pada diri.

Kaum LGBT hendaknya segera berobat, bertobat, dan bersahabat. Mereka selayaknya cepat-cepat berkonsultasi kepada seorang psikiater yang memiliki pondasi agama yang kuat.

Dengan demikian diharapkan mereka dapat menemukan jalan keluar dari disorientasi seksual yang sedang mereka hadapi menjadi manusia yang mampu hidup sesuai dengan fitrah Tuhan dan menikah secara wajar.

744 Total Views 3 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +