Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +

Love our website? Signup to our list to keep current on the awesome stuff we’re doing.

Dampak Seks Bebas

Oleh : Julizar Firmansyah, S. Sos., M. Hum. *)

Dalam masyarakat modern, pemisahan agama dari kehidupan sosial (sekularisme) ikut berperan dalam bagaimana orang memandang urusan seks.

Dalam masyarakat religius, seks adalah sesuatu yang bernilai sakral.

Pada masyarakat modern sekuler, agama telah menjadi urusan pribadi, tidak menjadi parameter dalam menilai hubungan antar-manusia. Seks dianggap sebagai kebutuhan badani belaka, seperti halnya kebutuhan akan makanan.

Pola hidup seks bebas tidak sejalan dengan asas-asas kesehatan jiwa. Apalagi kalau ditinjau dari perspektif moral-etika agama. Mereka yang menganut paham hidup bebas tanpa ikatan hukum, moral, etika, apalagi agama dan atau hidup bersama tanpa nikah mempunyai risiko lebih tinggi untuk mengalami gangguan jiwa daripada mereka yang hidup dalam pernikahan.

Fakta yang banyak muncul adalah internalisasi norma, milai, dan pendisiplinan yang lemah dan kurang atau tidak konsisten. Hambatan dalam internalisasi norma dan nilai justru menjadi “buta” terhadap mana yang boleh dan tidak, mana yang baik dan mana yang buruk.

Hambatan internalisasi norma dan nilai tentu saja datang dari lingkungan. Lingkungan keluarga dan masyarakat amat besar pengaruhnya bagi proses internalisasi tersebut.

Pujian dan hukuman dalam keluarga yang tidak konsisten dan konsekuen atau yang seringkali buruk, akan mengarah dan mendidik kepada internalisasi norma dan nilai yang buruk pula. Demikian pula halnya dengan pelaksanaan hukuman yang terjadi dalam masyarakat yang tidak baik, dapat merupakan pendidikan yang buruk pula.

Internalisasi norma dan nilai datang dari dalam rumah atau dari luar rumah. Karena itu pengaruh orang tua dan masyarakat cukup kuat dalam internalisasi itu, karena didalamnya terjadi proses identifikasi diri. Oleh karena itu kritik yang sering dilontarkan oleh remaja kepada orang tua adalah “keteladanan jauh lebih baik daripada seribu nasihat.”

Dan mereka tidak mau disalahkan begitu saja sebab mereka juga mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan sebagai produk masyarakat, di mana orang tua dan pemuka masyarakat secara sadar atau tidak turut menciptakannya.

Cukup jelas bahwa baik perilaku hubungan seks di luar nikah, pelacuran, pornografi, pornoaksi, maupun NAZA dengan segala dampaknya, yang dirugikan adalah kaum perempuan. Khususnya pada pelacuran dan pornografi serta pornoaksi yang trejadi adalah eksploitasi seksual komersial atas kaum perempuan. Dari aspek ini bentuk pelacuran, pornografi, dan pornoaksi meruapakan pelanggaran dan pelecehan terhadap HAM.

Allah SWT berfirman, “Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih” (QS Hud [11]: 90).

Rasulullah SAW bersabda, “Penyesalan adalah suatu tobat” (HR Abu Dawud dan Al-Hakim).

Judul : Dampak Seks Bebas terhadap Kesehatan Jiwa
Penulis : Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari, Psikiater
Penerbit : Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 2009
Isi : xiii + 201 hlm

*) Penulis adalah mantan dosen filsafat FKM-UI dan kini magang di Yayasan Madani Mental Health Care

914 Total Views 3 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +