Tantangan Melukai Diri Sampai Bunuh Diri dalam Blue Whale Challange dan Bahayanya Bagi Penderita Depresi

Tantangan Melukai Diri Sampai Bunuh Diri dalam Blue Whale Challange dan Bahayanya Bagi Penderita Depresi

Saat ini terdapat sebuah permainan yang tengah marak di tengah kita. Permainan tersebut bernama Blue Whale Challange. Jika kita artikan secara bebas Blue Whale Challange berarti “Tantangan Paus Biru”.

Beberapa pendapat menyatakan penamaan tantangan ini berasal dari kebiasaan beberapa ekor paus biru yang dengan sengaja membuat diri mereka sendiri terdampar sampai pinggir pantai sehingga mereka tewas.

Dalam permainan ini setiap peserta diberikan 50 tantangan. Mereka diberi waktu untuk menyelesaikan tantangan tersebut selama 50 hari.

Dari tantangan pertama, kedua, dan seterusnya peserta ditantang untuk berani melukai diri mereka sendiri sampai pada tantangan terakhir yaitu peserta ditantang untuk bunuh diri.

Selengkapnya…

Seorang Ayah Tega Membunuh Anaknya Sendiri lalu Ia Bunuh Diri

Seorang Ayah Tega Membunuh Anaknya Sendiri lalu Ia Bunuh Diri

(Catatan Kasus Seorang Ayah Membunuh Anak Kandungnya Sendiri lalu Bunuh Diri di Thailand)

Seorang pria berinisial WW asal Thailand tega menghabisi nyawa anak perempuannya yang baru berusia sekitar 11 tahun. Lebih miris lagi detik-detik peristiwa tersebut ia siarkan langsung lewat media sosial.

Usai melakukan pembunuhan terhadap darah dagingnya, ia pun melakukan aksi bunuh diri. Dalam penyelidikan diketahui bahwa motif peristiwa pembunuhan dan bunuh diri WW tersebut dilatarbelakangi oleh sakit hati terhadap istri yang ia anggap sudah tidak sayang dan cinta dia lagi.

“Dan, janganlah kamu membunuh dirimu sendiri, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.”
~QS. an Nisa: 29

Permasalahan berlanjut ketika sampai saat ini belum tercipta alat untuk mendeteksi peluang seseorang untuk melakukan bunuh diri. Hanya kepekaan dan kepedulian antarsesama manusia yang dapat membantu mencegah bertambahnya kasus bunuh diri.

Selengkapnya…

Lurah Dites Urine, Positif Morfin

Lurah Dites Urine, Positif Morfin

Sungguh miris jika kita memiliki seorang kepala administrasi di tempat kita tinggal, ternyata adalah seorang pecandu narkoba. Cukup saja kita sebut dia seorang kepala adminstrasi, bukan seorang pemimpin. Karena seorang pemimpin adalah orang yang kita ikuti atas dasar teladan yang telah ia contohkan dalam kehidupan nyata. Bukan sekedar kata-kata hampa.

Kepala administrasi pecandu narkoba itu benar-benar terjadi di negara kita. Tepatnya di daerah Cilegon. Dari hasil tes urine yang dilakukan terhadap 72 lurah dan seklur se-Cilegon, ternyata ada tiga orang yang positif morfin.

Tidak menutup kemungkinan para ujung tombak pemerintahan di daerah yang lain juga telah kecanduan narkoba jenis morfin atau jenis narkoba yang lain. Bukan hanya terbukti sebagai pecandu, ada juga seorang luara didaerah Pankep yang diduga oleh polisi sebagai pengedar narkoba

Bagaimana kita mengharapkan mereka dapat menjadi pelayan masyarakat di daerah masing-masing jika mereka masih hidup di dalam episode alam penagihan. Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari, Psikiater menjelaskan berbagai dampak buruk akibat kecanduan narkoba jenis morfin.

Selengkapnya…

Mau Kurus? Olahraga, Bukan Pake Narkoba!

Mau Kurus? Olahraga, Bukan Pake Narkoba!

Sabu-sabu adalah salah satu jenis narkoba jenis amphetamine (psikotropika golongan I) yang metode memakainya adalah dihirup dengan menggunakan alat khusus yang dikenal dengan istilah “bong”.

Banyak istilah yang digunakan untuk menyamarkan sabu-sabu seperti menyebut sabu-sabu dengan istilah coconut, crystal, gold river, ss mecin, atau ubas.

Benarkah sabu-sabu membuat kita kurus? Menurut dr. Aisyah Dahlan narkoba (sabu-sabu), tidak benar pengguna narkoba identik dengan badan yang kurus, lebih tepat adalah mereka mengalami penurunan berat badan.

Memang efek memakai sabu-sabu akan menimbulkan gejala psikologik berupa agitasi psikomotor. Hal inilah yang membuat pecandu narkoba jenis sabu-sabu berperilaku hiperaktif, tidak dapat diam, dan selalu ingin bergerak. Jika tubuh pecandu sabu-sabu diumpamakan seperti sebuah mesin, maka akan mengalami “aus” karena diporsir sedemikian rupa untuk dipekerjakan terus-menerus.

Selengkapnya…

Pengaruh Sabu terhadap Pembunuhan Satu Keluarga di Medan

Pengaruh Sabu terhadap Pembunuhan Satu Keluarga di Medan

Bahaya kecanduan narkoba terus mengancam kehidupan manusia. Kali ini hal tersebut menimpa sebuah keluarga di Medan pada Ahad, 9 April 2017. Otak pelaku merupakan seorang pecandu narkoba jenis sabu-sabu.

Korbannya tak tanggung-tanggung. Bukan satu atau dua orang yang menjadi korban tewas. AL (35 tahun) bersama RN dan AS membunuh lima orang sekaligus yaitu RY (40 tahun), RN (38 tahun), SFH (15 tahun), GL (11), dan MRN (60 tahun).

Ternyata pembunuhan satu keluarga yang dilakukan AL, bukanlah pelanggaran hukum pertama. AL, RS, dan IR terlibat dalam pembunuhan terhadap korban SHW pada Juli 2015. Mayat SHW yang merupakan warga Deliserdang itu dibuang oleh para pelaku bersama motornya ke sebuah saluran air.

AL melakukan semua kejahatan kemanusiaan tersebut karena berada di bawah pengaruh sabu-sabu. Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari, Psikiater menjelaskan dampak buruk dari sabu-sabu antara lain gejala psikologik berupa harga diri meningkat (grandiosity).

Selengkapnya…

Depresi Akibat Judi

Depresi Akibat Judi

(Catatan Kasus Penyanderaan Ibu dan Anak di Angkot)

Kita pasti merinding ketika mendengar kabar sebuah penyanderaan seorang ibu dan anaknya. Peristiwa tersebut dilakukan H pada Ahad, 9 April 2017 di atas angkutan kota (angkot) T.25 jurusan Rawamangun – Pulogadung di Jatinegara, Jakarta Timur.

Beruntung ada Aiptu Sunaryanto (anggota Satlantas Polres Metro Jakarta Timur) yang bermodalkan bacaan sholawat sehingga dipinjamkan Tuhan sebuah kesempatan untuk melumpuhkan H dan menyelamatkan kedua korban penyanderaan tersebut.

Kita tak dapat membayangkan apabila hal tersebut terjadi pada istri/suami dan anak kita. Seribu kecemasan pasti menghantui diri kita. Pihak Kepolisian menjelaskan bahwa motivasi pelaku adalah untuk merampas harta korban yang kemudian akan digunakan sebagai modal untuk judi.

Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari, Psikiater dalam karyanya berjudul “Lima Penyakit Mental Masyarakat (Molimo), Edisi Kedua” halaman 79 menuliskan, “Dari segi ilmu kedokteran/kesehatan jiwa judi termasuk salah satu bentuk gangguan mental dan perilaku. Pejudi dihinggapi penyakit obsesi-kompulsi.”

Selengkapnya…

Tewas Setelah Pesta Miras

Tewas Setelah Pesta Miras

Segenap warga dan pemerintah Australia tengah berduka. Sekaligus pusing tujuh keliling. Sebuah LSM bernama Royal Life Saving Society (RLSS) memaparkan sebuah data tahun 2006-2016 tentang jumlah korban meninggal sekitar 2.000 pria Australia dengan kadar alkohol/miras (minuman keras) dalam tubuhnya akibat mengalami kecelakaan di air.

Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari menjelaskan bahwa narkoba jenis alkohol/miras juga dapat menimbulkan berbagai macam gangguan perilaku dan mental seperti kabur dari rumah, menjalani seks bebas.

Menjual barang, mencuri, dan bertindak kriminal, malas, suka mengancam, melakukan kekerasan, suka berkelahi, meninggalkan ibadah, pandai berbohong, suka bolos sekolah, kuliah, atau kerja.

Prestasi menurun drastis, merusak berbagai perabotan rumah tangga, melawan orang tua, serta kerap mengalami kecelakaan termasuk tenggelam sampai meninggal dunia sebagaimana yang dialami beberapa warga Australia tersebut.

Selengkapnya…

Ganja untuk Pengobatan Merupakan Sebuah Penyesatan

Ganja untuk Pengobatan Merupakan Sebuah Penyesatan

Berawal dari beredarnya kabar tentang FAS dari Kabupaten Sanggau, Kalbar yang berusaha membantu mengobati istrinya yang mengidam penyakit gangguan pada sumsum tulang belakang (syringomyelia) dengan ganja.

Sebuah media nasional bahkan memberitakan hal tersebut sampai beberapa seri. Tindakan pengobatan apapun sebenarnya diperbolehkan asalkan tidak melanggar hukum yang berlaku.

BNN sendiri menjelaskan bahwa pemakaian ganja dengan alasan apapun tidaklah bisa dibenarkan. Apalagi sebagai bangsa yang terlanjur telah meyakini bahwa nilai “Ketuhanan Yang Maha Esa” adalah nilai pertama di atas empat nilai lainnya.

Sebagai bangsa yang semoga masih percaya sama Tuhan, kita semua pastinya meyakini bahwa manusia dengan metode pengobatan yang bagaimana pun kedudukannya tetaplah hanya berusaha mengobati sakit.

Selengkapnya…

AK dan Terjualnya Keperawanan Anak Gadis Kita

AK dan Terjualnya Keperawanan Anak Gadis Kita

Sebuah keputusan yang sangat kontroversial dilakukan oleh seorang gadis. Meski kedua orang tuanya telah melarang, AK (18 tahun) dari Rumania keukeuh melelang kesuciannya lewat internet.

Keputusan AK pun disambut oleh seorang pengusaha dari Hongkong dengan harga 2 juta poundsterling atau sekitar Rp. 33 miliar. Mereka berdua akhirnya melakukan “cinta terlarang” tersebut di sebuah hotel.

AK sendiri menolak mentah-mentah disebut sebagai seorang pelacur. AK beralasan daripada keperawanannya diberikan begitu saja pada orang yang kemudian akan meninggalkannya lebih baik sekalian saja dia jual keperawanannya itu untuk membiayai kuliahnya kelak.

AK sudah tidak peduli lagi terhadap pelanggaran norma dan etika yang sudah ia lakukan. “Ah, bagaimana kita tahu bahwa AK melanggar norma dan etika. Kan, norma dan etika yang berlaku di Rumania berbeda dengan norma dan etika yang berlaku di Indonesia.”

Meski ada perbedaan norma dan etika, namun tetap saja ada norma dan etika yang berlaku secara universal. Jika, keputusan AK tidak dianggap melanggar norma dan etika di sana, lalu mengapa kedua orang tuanya melarang?

Selengkapnya…

Terapi Pemulihan Terpadu untuk Korban Tanah Longsor di Ponorogo

Terapi Pemulihan Terpadu untuk Korban Tanah Longsor di Ponorogo

Peristiwa tanah longsor yang terjadi pada Sabtu, 1 April 2017 di Desa Banaran, Kecamatan Pulungan, Ponorogo tentu membuat kita berduka. Puluhan saudara kita yang meninggal dunia akibat tertimpa tanah longsor membuat bangsa Indonesia tidak memiliki kemampuan untuk menahan keluarnya air mata.

Korban meninggal membuat kita bersedih. Tapi hendaknya kita juga tetap memiliki kekuatan untuk membantu korban longor yang masih hidup. Terutama anak-anak yang kehilangan orang tuanya.

Anak-anak yang masih berada dalam kondisi yang labil, akan sangat rentan kesehatan jiwanya saat tertimpa kesedihan yang mendalam apalagi sampai berlarut-larut. Kita harus mengantisipasi sedini mungkin berbagai kemungkinan seperti cemas, depresi, gangguan jiwa, atau bahkan bunuh diri agar jumlah korban meninggal dunia tidak bertambah.

Bencana merupakan sebuah peristiwa yang datang tiba-tiba. Tidak setiap individu memiliki kuda-kuda rohani yang kuat untuk menghadapi kehilangan yang mendadak akibat bencana. Akan banyak sekali anak-anak yang tidak memiliki kesiapan mental saat ditinggal untuk selamanya oleh kedua orang tua mereka.

Selengkapnya…

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +