Bunuh Diri karena Patah Hati

Oleh: Mohamad Istihori

Sungguh menderita orang yang mengalami patah hati. Jiwanya menderita. Makan tidak enak. Minum tak mau. Hidup serasa berada di dalam neraka. Tidak ada sedikit pun kebahagiaan dalam dada.

Inilah yang membuat patah hati seringkali menjadi faktor utama seseorang melakukan tindakan bunuh diri. Patah hati merupakan salah satu gejala gangguan jiwa berupa depresi.

Gejala depresi lain yang mudah untuk diidentifikasi antara lain perasaan murung, sedih, merasa tak berguna lagi, perasaan bersalah, berdosa, kekecewaan yang mendalam, putus asa, sampai pada akhirnya nekat untuk bunuh diri.

Sebuah peristiwa bunuh diri yang diduga karena patah hati dialami oleh Arslan Valeev. Pawang ular asal St. Petersburg, Rusia itu bahkan menyiarkan secara langsung detik-detik prosesi bunuh dirinya. Pria berusia 31 tahun itu membiarkan ular berbisa tipe black mamba menggigit jarinya.

Gambar: stockvault.net
Arslan memiliki dugaan bahwa istrinya (Ekaterina “Katya” Pyatzhkina) berselingkuh sehingga ia pun memukul istrinya itu sampai gegar otak. Kekejaman rumah tangga inilah yang kemudian membuat Katya meminta cerai dan kini ia pun sudah memiliki jalinan kasih dengan lelaki lain.

Saat genting yang dialami Arslan sebenarnya merupakan tindakan untuk mencari perhatian dari khalayak ramai. Makanya ia menyiarkan secara langsung keputusannya untuk bunuh diri.

Sayangnya perhatian yang ia harapkan sama sekali tidak didapatkan sehingga terjadilah peristiwa yang tidak diharapkan tersebut. Bahkan sampai hari ini mantan istrinya itu pun tak kunjung memberikan komentar terkait kematian Arslan.

Prof. Dadang Hawari menjelaskan dengan mengutip buku berjudul, “Diagnotic and Statistic Manual of Mental Disorders” bahwa depresi merupakan faktor dominan pada setiap kasus bunuh diri.

Sekitar 60-70% penderita gangguan jiwa jenis depresi biasanya memilih untuk melakukan bunuh diri jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat. Mereka sepatutnya mendapatkan pengobatan dan terapi yang memadukan unsur biologis, psikologis, sosial, dan spiritual (BPSS).

Dengan terapi terpadu BPSS tersebut diharapkan akan mencegah dan menyembuhkan depresinya sehingga tidak lagi berpikir untuk melakukan tindakan menghabisi nyawanya sendiri.

(Jakarta, 27 September 2017)

474 Total Views 3 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +