Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +

Love our website? Signup to our list to keep current on the awesome stuff we’re doing.

Bro Ind, “Di Madani, Gue Menemukan Jalan Kembali”

(Wawancara Eksklusif dengan Indra Wira Setya, Mantan Pecandu Narkoba yang Kini Menjadi Konselor di Pusat Rehabilitasi Narkoba Madani Mental Health Care, Jakarta)

Melepaskan diri dari jerat candu narkoba bukanlah merupakan sebuah hal yang mudah. Ada yang keluar-masuk panti rehab karena selalu mengalami kekambuhan sesaat setelah menjalani program pemulihannya. Bahkan ada yang sampai meninggal dunia dalam kondisi terpenjara dalam “borgol” narkoba.

Dari sekian kisah yang memilukan itu, ada lebih banyak kabar yang menggembirakan dan membahagiakan. Banyak juga mereka yang berhasil keluar, kabur, dan melarikan diri dari “planet” narkoba dan berhasil mendarat kembali ke “bumi” kenyataan. Banyak yang pulih kembali. Ingat iya pulih bukan sembuh.

Di antara yang pulih itu adalah Indra Wira Setya. Akrab disapa Bro Ind. Pada Sabtu, 11 Juli 2020, Pukul 20.00 WIB Mohamad Istihori dari Madani Press (MaPress) mewawancarai Bro Ind via WA. Berikut petikannya:

Bagaimana ceritanya Bro Ind kenal dengan dunia narkoba? Dan, narkoba apa saja yang selama ini pernah dipakai?

“Gue kenal narkoba sekitar tahun 1989 – 1990-an. Itu di akhir masa SD menjelang SMP di Semarang. Awalnya saya disuruh-suruh. Teman gaul gue anak SMA dan anak kuliah. Mulanya coba-coba minuman keras (miras). Lalu, lanjut make Pil Koplo (Nipam). Harganya sekitar Rp. 4.500,- sampai Rp. 5.000,-. Duit segitu nominalnya cukup besar pada zamannya.

Semakin lama gue kenal narkoba sekolah gue semakin menjadi berantakan. Rendah diri dan pesimistis. Kemudian gue juga kenal yang namanya ganja.”

Bagaimana pengalaman selama menjadi pecandu narkoba?

“Pada tahun 1992/1993 gue juga mulai mengenal putaw (heroin). Hal itu bermula saat liburan di Bali selama tiga hari. Dua hari kemudian lanjut make putaw saat di rumah.

Sekolah gue yang pindah-pindah juga memengaruhi pergaulan sosial gue. SMA kelas satu gue belajar di Semarang. Kelas dua di Bandung. Kelas tiga di Yogyakarta. Karena tidak naik kelas pindah dan mengulang kelas tiga gue di Kalimantan Barat.

Setelah lulus SMA, gue kembali ke Jakarta. Daftar kulaih di Universitas Borobudur Jakarta. Intensitas pemakaian narkoba menjadi semakin meningkat. Hingga pada akhirnya pada tahun 1998 gue ketangkap. Kemudian dimasukkan ke dalam Panti Rehabilitasi Permadi Siwi yang kini menjadi BNN.

Usai menjalani program pemulihan, gue melanjutkan kuliah di Lombok. Selama 1,5 tahun gue clean (bersih, tidak memakai narkoba). Tapi yang mesti kita ingat adalah bahwa penyakit adiksi ini tidak bisa sembuh melainkan pulih. Artinya, dia suatu hari bisa saja kambuh kembali.

Dari Lombok gue kemudian pindah ke Balikpapan. Tinggal selama satu tahun. Selama itu gue masih konsisten menjaga sholat lima waktu. Tapi itu hanya sebagai akting. Pura-pura saja. Orang tua gue pada masa ini memang belum memahami bagaimana sebenarnya dunia adiksi.”

Bagaimana ceritanya Bro Ind bisa menjadi seorang pengedar sampai akhirnya mengedarkan narkoba di sekitar wilayah Madani?

“Mulanya saat gue kuliah di Trisakti. Sering main ke daerah Cipinang. Di sekitar Cipinang Indah gue edarin putaw. Di sekitar wilayah Tikungan Bambu gue jual ganja. Beberapa kali gue kegep.”

Motivasi apa yang mendorong Bro Ind untuk berhenti dari dunia hitam narkoba?

“Salah satu motivasi yang mendorong gue untuk berhenti nyandu narkoba adalah saat gue baca buku Prof. Dadang gue menemukan sebuah kalimat yang sangat mendalam, yaitu, ‘Jadilah orang yang bermanfaat. Bukan terutama menjadi orang yang hebat.`

Bagaimana awal mula Bro Ind bisa mengenal Madani?

“Kisah itu bermula ketika Ust. Darmawan (UsDar) ngisi program di salah satu Lembaga Pemasyarakatan di Jakarta. Kebetulan di LP itu gue ditahan. Nyokap gue sebelumnya juga sudah kenal sama UsDar karena sepupu gue lebih dulu menjadi santri Madani.

Di situlah kemudian nyokap nawarin gue supaya mengikuti program pemulihan di Madani. Saat itu kondisi gue udah sangat drop. UsDar sampai memberikan nasihat-nasihat kesabaran buat gue dan keluarga dan memprediksikan secara medis umur gue nggak bakalan lama. Hanya jika Allah mengizinkan umur gue bisa bertahan lebih lama.

Dan, ternyata sampai hari ini gue masih hidup. Masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri. Dan, di Madani gue merasa menemukan jalan untuk kembali.”

Ceritakan pengalaman paling menarik selama mengikuti program pemulihan di Madani?

“Program paling menarik dan sangat mengesankan selama menjalani program pemulihan di Madani buat gue sampai hari ini adalah program sholat berjamaah. Itulah yang membuat gue menemukan makna hidup.”

Ceritakan pengalaman paling berhikmah selama menjadi konselor di Madani?

“Pengalaman paling memberikan hikmah ketika menjadi konselor di Madani adalah saat gue diminta UsDar untuk memberikan cerita dan pengalaman gue selama menjadi seorang pecandu di hadapan ratusan orang. Saat itu juga gue berpikir, ‘UsDar yang bukan pemake aja bisa bicara tentang narkoba dengan luar biasa. Mestinya gue yang udah ngerasain langsung bagaimana jahatnya narkoba mesti bisa memberikan ilmu yang lebih kaya dan menarik.’”

Pandangan Bro Ind tentang Madani?

“Buat gue Madani adalah rumah kedua gue setelah keluarga. Madani adalah rumah kesadaran. Rumah di mana kita secara sadar tanpa merasa terpaksa sedikit pun dan oleh siapa pun untuk pulih dan menjadi lebih baik.

Tanpa kehadiran Madani dalam hidup gue, gue bakalan lebih dalam terjerumus ke dalam dunia narkoba. Gue berterima kasih banget sama Madani, UsDar, Habib Fuad, dan semua Ustadz Madani sekali lagi yang sudah membantu dan menemani gue selama ini untuk menemukan jalan kembali.”

Terima kasih banyak atas kesediaan Bro Ind untuk menjawab beberapa pertanyaan MaPress. Semoga Allah membalas dengan kebaikan, keberkahan, dan rahmat yang melimpah.

(Jakarta, Sabtu, 11 Juli 2020, 20.00 WIB)

570 Total Views 9 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +